Lampu-lampu hotel mulai menyala satu per satu. Cahaya kuning temaram memantul di permukaan kolam yang berada di halaman belakang. Angin malam bergerak pelan, membawa aroma laut yang masih tersisa dari sore tadi. Vania berdiri di ambang pintu kaca, menatap halaman belakang hotel dengan langkah ragu. Dari kejauhan, ia melihat Jevan sudah lebih dulu berdiri di sana. Tubuh lelaki itu tegap, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana, wajahnya datar namun tegang. “Papa manggil?” suara Vania pelan. Jevan tidak langsung menoleh. “Tutup pintunya. Kita bicara berdua.” Vania menelan ludah. Ia menutup pintu kaca itu perlahan, lalu melangkah mendekat. Setiap langkah terasa berat, seolah firasat buruk sudah lebih dulu mengikat dadanya. “Ada apa, Papa?” tanya Vania lagi, mencoba terdengar tenang. J

