Bab 38

1792 Words

Pagi itu udara di hotel terasa berbeda. Tidak hanya karena matahari yang naik lebih cepat dari biasanya, tetapi karena ketegangan yang menggantung di setiap sudut ruangan. Jevan duduk sendirian di kursi dekat jendela kamar hotelnya. Secangkir kopi di tangannya sudah dingin sejak lama, tak tersentuh. Matanya menatap kosong ke luar, tetapi pikirannya berputar tanpa henti. Kalimat Vania semalam terus terngiang. “Aku tidak akan memutuskan Devan.” Rahang Jevan mengeras. Tangannya mengepal perlahan. “Kalau begitu… aku yang akan memutuskan semuanya,” gumamnya pelan. Ia tahu satu hal dengan sangat pasti: selama Devan ada di sekitar Vania, gadis itu tidak akan pernah kembali menatapnya seperti dulu. Dan Jevan tidak bisa menerima itu. Tidak sekarang. Tidak pernah. Jevan mengeluarkan ponselnya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD