Bab 49

1655 Words

Vania terdiam di anak tangga. Senyum manis yang tadi masih bertahan di bibirnya perlahan memudar. Tangannya yang semula sudah siap melangkah ke dapur kini menggenggam pagar tangga lebih erat. Dapur itu terang. Wangi kopi sudah tercium. Dan di sana, berdiri Mira dengan rambut tergerai rapi, mengenakan pakaian rumah yang terlihat terlalu niat untuk sekadar bertamu pagi-pagi. Vania menghela napas pelan. Sial. Kenapa wanita itu ada di sini lagi? Mira menyadari kehadirannya tanpa perlu menoleh lama-lama. Dari sudut matanya, ia sudah menangkap bayangan Vania. Senyum tipis muncul di bibirnya, bukan senyum ramah—lebih seperti senyum yang sengaja dipamerkan. “Oh,” ujar Mira santai, seolah baru sadar. “Kamu sudah bangun rupanya.” Vania menuruni sisa tangga dengan langkah pelan. Wajahnya datar,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD