Bab 33

1887 Words

Vania duduk di bangku taman kampus, menatap Devan yang kini duduk di depannya. Suasana sore yang hangat seolah menambah ketegangan di antara keduanya. Devan menatap Vania dengan mata yang lembut, tetapi penuh ketulusan. “Vania… aku ingin bilang sesuatu,” kata Devan dengan suara yang sedikit gemetar. “Aku… aku suka sama kamu. Aku ingin kamu menjadi kekasihku. Aku ingin kita bersama, kalau kamu mau.” Vania terdiam. Hatinya bergejolak begitu hebat hingga ia sulit menarik napas. Ia menatap Devan, lalu mengalihkan pandangan ke tanah. Di satu sisi hatinya masih terlalu berat untuk melupakan Jevan, papa angkatnya. Namun di sisi lain, Devan adalah laki-laki yang tulus, yang tidak menuntut, dan yang membuatnya merasa aman—sesuatu yang kini sangat dibutuhkannya. Vania menelan ludah, mencoba menen

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD