Pagi ini tiba-tiba kedatangan tamu. Teman kampus Vania dan Jelita datang menanyai Vania, sambil tersenyum ramah. “Vania, mau ikut jalan sebentar? Kita bisa ke kafe atau ke taman dekat sini,” kata salah satu temannya dengan semangat. Jevan, yang duduk di ruang tengah, menatap tajam lelaki itu. Tatapannya dingin, membuat udara seakan menegang. Devan, teman Vania, membalas tatapan itu dengan sopan dan senyum kecil, tetap tenang meski merasa terintimidasi. Vania menunduk sebentar, kemudian tersenyum tipis kepada Devan. “Oke, Devan. Aku ikut, ayo,” katanya lembut. Ia menatap Jevan sebentar dan menunduk, mengirimkan isyarat bahwa ia akan pergi. Jevan tetap menatap dari jendela. Hatinya berdebar, tidak suka melihat Vania berjalan bersama lelaki lain. Setiap senyum manis yang diberikan Vania ke

