Vania turun dari mobil dengan senyum malu-malu, tangan sedikit menggenggam tasnya, sementara Devan mengusap lembut rambutnya dan tersenyum hangat. Jevan, yang berdiri di balik jendela lantai tiga, menatap datar, namun hatinya bergejolak hebat. Matanya fokus pada interaksi sederhana itu—Devan begitu lembut, begitu dekat dengan Vania, sementara Vania tertawa kecil, matanya berbinar saat menatap Devan. Jelita, yang sedang duduk di sofa ruang tengah, menoleh dan melihat ayahnya di jendela. Wajahnya menyeringai bingung. “Papa… sedang apa di situ?” bisiknya pada dirinya sendiri. Rasa penasaran mendorongnya untuk berjalan mendekat dan mengintip, memastikan pandangannya benar. Ketika pandangan Jelita benar-benar fokus, dia terkejut. Papa sedang menatap Vania dan Devan dari jendela, dengan ekspre

