Bab 56

1234 Words

Vania bangun dengan dahi berkerut ketika suara ponselnya berdering nyaring di atas nakas. Nada dering itu terdengar terlalu keras untuk pagi yang masih setengah mengantuk. Tangannya meraba-raba layar, matanya menyipit menahan cahaya. Nama itu muncul. Devan. Vania menatap layar beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Ada rasa asing yang muncul, bukan rindu, bukan marah juga. Lebih seperti… lelah. Ia menghela napas pendek, lalu dengan satu gerakan cepat mematikan panggilan itu. Ponsel diletakkannya kembali ke atas nakas, layar menggelap. “Sudah selesai,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri. Ia duduk sebentar di tepi ranjang, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Cahaya pagi masuk lewat sela tirai, membuat kamar terasa hangat dan tenang. Vania bangkit dan melangka

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD