Vania membuka pintu rumah pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara keras. Sepatunya dilepas rapi di dekat rak, tas dilampirkan di bahu, lalu matanya langsung menangkap sosok yang sudah sangat ia kenal. Jevan duduk di ruang tengah, santai, tablet di tangan, kacamata bertengger di batang hidungnya. Wajah lelaki itu tenang, seperti tidak ada beban ahpa pun hari ini. Pemandangan yang biasanya membuat Vania ingin langsung menghampiri, melupakan lelahnya seharian. Langkah Vania hampir refleks bergerak ke arahnya dan ingin memeluk Jevan. Hampir saja. Namun niat itu langsung menguap begitu Vania melihat satu sosok lain di sana. Jelita. Gadis itu duduk berselonjor di sofa, ponsel di tangan, sesekali tertawa kecil membaca sesuatu. Kehadirannya membuat Vania langsung menarik rem di dajlam

