Ruang tengah terasa lebih sunyi dari biasanya meski semua orang berada di sana. Jelita duduk di sofa satu sisi, kakinya menggantung dan sesekali diayunkan pelan. Vania duduk di seberangnya, punggungnya tegak tapi bahunya tegang. Di sisi lain, Jevan duduk berdampingan dengan Mira. Jarak mereka terlalu dekat bagi mata Vania, terlalu wajar bagi orang lain. Jevan berdeham pelan, memecah keheningan yang menggantung sejak mereka semua duduk. “Ada yang ingin Papa sampaikan,” ucap Jevan tenang. Jelita langsung menoleh. “Kenapa wajah Papa serius begitu?” Mira tersenyum tipis, duduk dengan postur anggun. “Sepertinya aku jadi penyebabnya.” Vania menunduk. Jarinya saling mengait tanpa sadar. Jevan melanjutkan, “Apartemen Mira sedang direnovasi. Jadi untuk sementara… Mira akan tinggal di sini.”

