Devan sebenarnya tidak berniat duduk lama di kafe itu. Hanya ingin kopi hitam dan tempat yang tidak mengingatkannya pada siapa pun. Kursi di sudut dekat jendela terasa cukup aman. Musik diputar pelan, suara mesin kopi bercampur obrolan orang-orang yang hidupnya masih berjalan normal. Tapi Devan tidak. Dirinya sekarang terasa hancur karena hubungannya dengan Vania sudah berakhir. Dia menunduk, memutar sendok cangkirnya pelan, lalu tanpa sadar pandangannya terangkat. Dan detik itu juga, dadanya seperti dihantam benda keras. Perempuan itu. Duduk tiga meja dari tempatnya, membelakangi jendela, mengenakan blouse putih sederhana dan celana jeans. Rambutnya dikuncir santai. Tidak ada raut sedih. Tidak ada wajah hancur. Tidak ada perempuan yang sedang “hamil dan terluka”. Dia tertawa. Tertaw

