Halaman kampus ramai seperti biasa. Mahasiswa berlalu-lalang, suara tawa bercampur langkah kaki, aroma kopi dari kantin kecil di sudut gedung masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah bagi dunia. Tapi bagi Devan, semuanya terasa asing. Devan berdiri di dekat pohon besar yang biasa jadi tempat berkumpul. Tangannya masuk ke saku jaket, bahunya tegang. Matanya tidak lepas dari satu sosok. Vania. Vania duduk di bangku panjang bersama dua teman kampusnya. Rambutnya diikat rendah, wajahnya datar, senyumnya tipis dan hanya muncul saat diajak bicara. Tidak lagi cerah. Tidak lagi mencari-cari dengan mata. Devan tahu. Tatapan itu bukan sekadar dingin. Itu kosong. Dadanya terasa sesak. Devan melangkah satu langkah ke depan, lalu berhenti. Vania mengangkat wajahnya tanpa sadar. Pa

