Bab 54

718 Words

Bel rumah itu berbunyi keras. Bukan sekali. Tapi berkali-kali, tanpa jeda, seperti orang yang sengaja ingin membuat seisi rumah tahu kalau ia datang dengan niat tidak baik. Jevaan yang baru saja meletakkan ponselnya langsung berdiri. Rahangnya mengeras sejak bunyi bel pertama. Ia sudah tahu siapa yang berdiri di depan pintu bahkan sebelum kamera kecil di layar menyala. Mira. Tanpa menunggu lama, Jevan membuka pintu dengan gerakan kasar. Daun pintu itu nyaris membentur dinding. “Apa lagi yang kamu mau?” suaranya rendah, tajam, tidak ada sisa kesabaran. Mira tersenyum. Senyum yang terlalu percaya diri, seolah ia masih punya tempat di rumah itu. “Kamu lama banget bukanya,” ucapnya santai, lalu melangkah maju. “Keluar,” potong Jevan cepat. “Aku nggak pernah ngundang kamu.” Namun Mira

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD