Mira masih berdiri di sana, tepat di depan meja Jelita, dengan senyum yang tidak pernah benar-benar ramah. Senyum yang lebih mirip senjata. Tatapan matanya bergerak cepat, dari wajah Jelita ke pria yang duduk di sampingnya, lalu kembali lagi, seolah sedang menimbang sesuatu di kepalanya. Jelita menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya tetap memegang gelas minuman, tapi alisnya terangkat sedikit. Bukan kaget. Lebih ke tidak suka. “Ngapain kamu duduk di sini?” suara Jelita datar, tanpa basa-basi. Mira terkekeh kecil. Santai. Terlalu santai untuk situasi yang jelas tidak diinginkan. “Tenang aja. Aku cuma mau ngobrol sebentar,” jawab Mira sambil menyilangkan kaki. “Lagipula… kita kan hampir keluarga.” Kalimat itu membuat Jelita mendengus. Pria di samping Jelita melirik bingung, tapi J

