Ketukan pintu terdengar kasar. Bukan ketukan orang yang datang untuk bertamu baik-baik. Bukan juga ketukan seseorang yang akan memeluk orang di dalam apartemen tersebut. Itu ketukan orang yang sudah menahan amarah yang akan disalurkan oleh dirinya. Tok. Tok. Tok. Pintu apartemen terbuka tak sampai lima detik kemudian. Mira muncul dengan rambut tergerai, pakaian rumah yang sengaja terlihat santai tapi jelas diperhitungkan. Begitu melihat siapa yang berdiri di depan pintunya, bibirnya langsung melengkung lebar. “Jevan?” suaranya naik sedikit, terdengar senang. “Kamu datang?” Tatapan Mira menyapu tubuh Jevan dari atas ke bawah, seperti biasa. Seolah waktu tidak pernah berubah apa pun di antara mereka. “Masuk dulu,” ucap Mira cepat sambil membuka pintu lebih lebar. “Aku lagi sendirian.”

