Mobil Jevan berhenti pelan di depan rumah. Mesin masih menyala beberapa detik sebelum akhirnya dimatikan. Pagi masih muda, udara belum terlalu panas, tapi perasaan Vania justru terasa penuh dan berat bersamaan. Begitu pintu mobil terbuka, Vania turun lebih dulu. Langkahnya agak ragu, matanya sempat melirik ke arah pintu rumah yang sudah terbuka setengah. “Vania?” Suara Jelita terdengar dari teras. Gadis itu berdiri dengan rambut masih diikat asal, mengenakan kaus rumah dan celana pendek. Keningnya langsung mengerut saat melihat siapa yang turun dari mobil papanya. “Kenapa kamu dari mobil Papa pagi-pagi begini?” tanya Jelita tanpa basa-basi. Vania refleks menoleh ke Jevan. Jantungnya berdetak lebih cepat. Jevan sudah turun dan langsung berdiri di samping mobil. Wajahnya tenang, terla

