Mobil Jevan melambat saat memasuki area kampus. Deretan pohon trembesi di sisi jalan membuat cahaya sore yang mulai meredup, jatuh ke kaca depan dalam bayangan panjang. Mesin mobil akhirnya mati tepat di depan gerbang, di tempat yang sama seperti sore sebelumnya, tempat Jevan biasa menurunkan mereka sebelum berangkat kerja. Dari kejauhan, Jelita sudah lebih dulu melihat mobil itu. Ia menghentikan langkahnya, lalu refleks menarik pergelangan tangan Vania yang berjalan di sampingnya. Tarikannya ringan tapi penuh kebiasaan, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan hal yang sama tanpa berpikir. “Itu mobil Papa,” ucap Jelita singkat, matanya menyipit memastikan plat nomor. Vania mengangguk pelan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, sebuah reaksi yang tidak pernah benar-bena

