Jevan berdiri agak jauh dari tempat Vania duduk bersama Jelita. Dia tidak berani terlalu dekat, tapi juga tidak sanggup pergi. Tubuhnya tegak, namun pikirannya kacau. Pandangannya hanya tertuju pada satu orang sejak tadi, Vania. Vania duduk di samping Jelita dengan sikap tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang hatinya sedang tidak baik-baik saja. Wajah Vania datar, matanya menatap ke depan tanpa fokus, seolah hanya menjalani waktu tanpa benar-benar hadir di dalamnya. Sesekali Vania mengangguk kecil ketika Jelita berbicara, namun itu terlihat lebih seperti respons otomatis daripada ketertarikan. Jevan menelan salivanya perlahan. Dadanya terasa penuh. Ada banyak hal yang ingin dia katakan, tapi semuanya tertahan di tenggorokan. Sejak Vania menjauh, sejak Vania memilih diam dan menjaga

