Lampu neon di IGD rumah sakit menyinari wajah Alya yang pucat pasi, membuat setiap bulu kuduk Axton berdiri. Dokter dengan cekatan membersihkan luka bakar di tangan dan dadanya yang masih kemerahan akibat siraman air teh panas. Setiap kali kapas menyentuh lukanya, Alya mengerang pelan, dan genggaman Axton di bahunya semakin erat, seolah ingin menyerap semua rasa sakit itu. "Luka bakarnya tingkat dua di beberapa area." ujar dokter dengan suara datar, namun mata profesionalnya tak bisa menyembunyikan keprihatinan. "Butuh perawatan intensif dan harus dijaga betul agar tidak infeksi." "Lakukan perawatan apapun agar tidak meninggalkan bekas! Beri pengobatan terbaik!" Axton berseru khawatir, wajahnya keruh bagai langit sebelum badai. Dari sudut matanya, ia melihat betapa Alya berusaha tegar.

