Gelap

1172 Words
Axton memijit pelipis, rahangnya mengeras saat menatap layar CCTV. Rekaman itu terus berulang. Nadira mendorong Alya hingga tersungkur, memintanya menjilat lantai, menyeret rambutnya, menyuruhnya membersihkan pecahan beling dengan mulutnya. Alya merangkak sambil menggigil, darah menetes dari bibirnya, namun ia tetap patuh karena ketakutan. Setiap detik rekaman itu membuat d**a Axton seperti diremas. Rasanya seperti kembali ke masa kecil. Saat ia menyaksikan Chloe menangis ketakutan, sebelum akhirnya gadis itu mati karena menyelamatkannya. Sensasi itu sama. Luka itu sama. Ia kembali merasa gagal melindungi seseorang yang tidak bersalah. Di ruangan yang sama, dokter sedang mensterilkan luka Alya. Gadis itu duduk diam di sofa kulit, bahunya turun, wajahnya pucat seperti kertas. Luka sobek di bibirnya membuatnya sulit berbicara. Namun yang paling menusuk Axton bukan luka itu, melainkan wajah Alya. Wajah yang sama, seolah seperti Chloe hidup lagi. Axton menunduk dalam, meremas dahinya. Ia tidak boleh lemah. Ia sudah memilih Nadira. Ia sudah menikahinya, menjadikannya pengganti yang paling mendekati Chloe. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk berhenti mencari bayangan yang telah mati. Namun Alya... Alya membuat semua tekad itu retak. Cara gadis itu menunduj, caranya bernapas, ketakutan lembut di matanya, aenyum rapuhnya... semua itu Chloe. Axton menutup mata sejenak, menahan gejolak yang hampir meledak. Ia harus kuat. Ia tidak boleh goyah. Nadira adalah istrinya. Nadira adalah pilihan yang sudah ia buat bertahun lalu. Jika ia Ingin mencari pengganti yang mirip Chloe, pasti akan ada jutaan. Tidak mungkin Axton akan goyah setiap saat. Tapi detak jantungnya berontak setiap kali menatap Alya. Dia terlalu mirip, seperti duplikat. Tubuhnya mengirim sinyal yang bertentangan dengan moralnya. Dan itu membuatnya membenci dirinya sendiri. "Lidahnya terluka cukup parah, begitu juga bibirnya." Dokter itu menjelaskan. "Untungnya tidak sampai infeksi. Tapi saya sarankan ia tidak makan makanan keras beberapa hari ke depan." Axton mengangguk perlahan, tapi pikirannya tersedot pada Alya. Cara gadis itu duduk dengan tangan gemetar. Seragam maid-nya yang robek sedikit di pinggir, menampakkan kulit pahanya yang lembut, rambutnya yang berantakan akibat ditarik Nadira. Dia tampak rapuh. Sangat rapuh. Dan itu menghantam Axton seperti pukulan. Ia ingin marah. Ia ingin berteriak. Ia ingin menampar dirinya sendiri karena membiarkan kekerasan itu terjadi di rumahnya. Tapi yang paling ia benci adalah kenyataan bahwa melihat Alya seperti itu membuatnya ingin menarik gadis itu ke pelukannya. Melindunginya, menenangkannya. Menyentuh wajah yang ia kenal dalam mimpi-mimpi traumanya, Chloe. Wajah itu seperti bereinkarnasi. Menghantuinya melalui wanita muda yang kini duduk tak berdaya di depannya. Axton meremas tepi meja hingga buku jarinya memutih. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Sekarang, godaan paling berbahaya muncul dalam hidupnya. Dan ia takut, jika ia terus menatap gadis itu, ia tidak akan mampu untuk berpaling. **** Dengan langkah berat, mereka meninggalkan rumah sakit. Sunyi yang menyelimuti perjalanan menuju parkiran terasa begitu pekat, seolah udara sendiri enggan mengganggu gejolak dalam diri mereka. "Tuan, terima kasih sudah mengobati saya. Emm maksudku, membawaku ke dokter." ucap Alya memecah kesunyian, suaranya lembut namun berhasil menyentuh sesuatu dalam diri Axton. "Maafkan istriku." gumam Axton, suaranya serak. Matanya tak lepas dari sosok Alya di sampingnya, menangkap setiap detil raut wajahnya yang memancarkan kepolosan sekaligus daya tarik yang mematikan. Alya menyadari tatapan itu. Jantungnya berdebar kencang, tapi dia harus menjalankan misinya untuk menggoda. "Tuan, dasinya miring." ujarnya tiba-tiba, lalu dengan lincah berjinjit. Jari-jarinya yang ramai menyentuh dasi Axton, membetulkannya dengan gerakan perlahan. Seketika, dunia seolah menyempit hanya pada ruang antara mereka berdua. Axton terpana, napasnya tertahan. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat setiap pori-pori di wajah Alya. Bibirnya yang pecah-pecah dan masih kemerahan bekas luka itu... terlihat begitu memesonakan. Ada dorongan dalam dirinya untuk menyentuh, merasakan, bahkan... menciumnya. Seolah dengan begitu, lukanya akan sembuh. Bayangan itu membuat nafasnya memburu. "Maaf ya, Tuan, kalau saya lancang." Alya segera menjauh, memutus momen yang hampir tak terbendung itu. Senyum kecilnya penuh arti. Axton hanya bisa mengangguk, lidahnya terasa kaku. Tiba-tiba, dering ponselnya memecah konsentrasi. "Ya Sayang, ini lagi di perjalanan pulang." jawabnya pada Nadira, suaranya berusaha normal tapi masih terdengar tegang. Sementara Axton sibuk dengan teleponnya, Alya masuk ke dalam mobil. Pikirannya campur aduk. Peluang ini tidak boleh disia-siakan. Dengan cepat, dia membuka kancing baju bagian atasnya, membiarkan leher dan tulang selangkanya terekspos. Roknya yang robek dia tarik sedikit ke atas, memperlihatkan paha yang mulus. Kemudian, dia memejamkan mata, pura-pura tertidur tanpa mengenakan sabuk pengaman. Seperti yang dia duga, begitu Axton masuk ke mobil dan melihatnya, pria itu langsung terdiam. Axton menarik sabuk pengaman dan dengan hati-hati memasangkannya. Dalam posisi itu, pandangannya tak bisa tidak tertuju pada tubuh Alya yang tak berdaya. Dadanya naik turun tak beraturan. "Alya..." panggilnya pelan, suara serak penuh hasrat yang tertahan. Alya tetap memejamkan mata, berpura-pura tak mendengar. Axton semakin mendekat, wajahnya hanya berjarak seinci dari Alya. Jari telunjuknya yang berotot menyentuh bibir Alya yang terluka, menekan perlahan. "Sakit..." rintih Alya dalam tidurnya, membuat Axton semakin liar. "Kenapa kamu... sangat mirip dengan Chloe?" Kalimat itu keluar seperti desahan kasar di antara usapan lidahnya yang hangat dan basah di bibir Alya yang terluka. Setiap kata berdesis, seolah dilontarkan bukan dari akal sehat, melainkan dari lorong gelap kenangan yang menyakitkan. Nafasnya yang berat bercampur dengan aroma darah dan obat, menciptakan atmosfer yang memabukkan. Dia tidak lagi sekadar mengobati. Ujung lidahnya yang terampil kini bergerak lebih dalam, lebih intim, menelusuri setiap luka di bibir Alya dengan tekanan yang membuatnya merintih lembut. Rintihan itu seperti sebuah campuran antara rasa sakit dan sensasi yang tak tertahankan. Seperti bensin yang menyulut api nafsu Axton. Dia mendesah parau, tangannya yang semula menempel di sandaran kursi kini berpindah ke pundak Alya, mencengkeram dengan kuat seolah takut wanita di hadapannya akan lenyap menjadi bayangan lagi. Namun, ponselnya tiba-tiba berdering. Nada khusus untuk Nadira itu seperti alarm yang membangunkannya. Axton spontan menyadari kebodohan terlarang yang baru saja dilakukannya. Dengan wajah penuh kengerian dan penyesalan, dia menarik diri, lalu memukul kemudi dengan keras. Suara benturan tinju Axton ke kemudi yang memekakkan, diikuti umpatan kasar dan gerakan mobil yang meluncur kasar, menjadi penanda bangun yang sempurna bagi Alya. Dia pura-pura tersentak hebat, seolah terbangun dari tidur yang lelap. "Apa yang terjadi?" keluhnya, suara dibuat serak dan masih berlagak linglung. Tangannya dengan cepat menutup kancing baju yang telah dibukanya, seraya menarik rok ke bawah. Sebuah gerakan pemalu yang dia peragakan dengan sempurna. Matanya yang berkaca-kaca, berpura-pura kebingungan menatap Axton yang wajahnya masih merah padam oleh amarah dan rasa bersalah. "Tuan... apakah saya tertidur? Maaf, saya..." Axton menatap lurus ke depan, menghindari pandangan Alya, cengkeramannya pada kemudi begitu kencang hingga buku-buku tangannya memutih. "Tidak apa-apa." gumamnya, suaranya serak dan tertekan. "Kamu... tidur saja lagi. Kita sebentar lagi sampai." Tapi Alya tidak menuruti. Dia memandang Axton dengan tatapan penuh kekhawatiran yang dipaksakan. "Tuan, tangan Anda... berdarah." ujarnya lembut, seolah peduli. Dia mengulurkan tangannya seolah ingin menyentuh, tapi kemudian menariknya kembali, seakan teringat statusnya. Axton menghela napas panjang, rasa frustrasi dan konflik batinnya mencapai puncak. "Alya, tolong." desisnya, hampir seperti memohon. "Diam saja, jangan bicara. Jangan... lakukan apapun." Alya membungkuk patuh, menyembunyikan senyum tipis kemenangan di balik tatapan yang dibuatnya tetap lembut dan khawatir. Sempurna, pikir Alya, sambil memejamkan mata lagi, kali ini dengan kepuasan. Axton sudah jatuh dalam jebakan pertamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD