Ishan tampak serius menatap ke arah depan. Dia memang sengaja meminta Leo untuk pulang sendirian karena dia ingin mengantar Iresh pulang. Padahal selama ini dia tidak pernah mengantarkan seorang perempuan mana pun, tapi sekarang seperti ada yang berbeda.
“Kamu mau bawa aku ke mana?” tanya Iresh setelah keduanya hening tanpa ada yang membuka suaranya beberapa saat.
Tentu saja gadis itu merasa khawatir jika Ishan ingin menculiknya. Dia masih belum tahu setiap sudut ibu kota kecuali sebatas dari rumah ke kantornya saja. Di dalam hati perempuan itu juga cemas karena takut pria yang tengah mengemudi ini akan bersikap yang tidak-tidak kepada dirinya.
Di samping itu, Iresh juga tidak tahu jika Ishan pria baik atau jahat karena dia juga tidak mengenal baik pria tersebut. Semua pesan ayahnya juga sudah terngiang-ngiang di telinganya.
“Jangan mudah percaya sama orang asing, karena kota sebesar itu bisa membuat siapa saja menjadi gelap mata dan menghalalkan segala cara!”
Tiba-tiba saja ada perasaan tidak enak yang muncul dari dalam hatinya. Berbagai macam pikiran yang aneh-aneh mendadak melintas di dalam benaknya.
“Apa dia mau menculikku? Tapi nggak mungkin dia minta tebusan karena aku bukan dari keluarga kaya. Apa dia mau mengambil organ-organ tubuhku dan kemudian menjualnya?” batin Iresh yang sudah melebar ke mana-mana.
“Membawamu pulang,” jawab Ishan tanpa menolehkan kepalanya dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
Tentu saja apa yang baru saja dikatakan oleh Ishan membuat Iresh langsung mengerutkan dahinya. Bagaimana bisa pria itu mengantarkan pulang, padahal dia tidak mengetahui alamat rumahnya.
“Memang kamu tahu di mana rumahku?” tanya Iresh dengan raut wajah yang sudah terlihat penasaran.
Dari nada suara gadis itu berbicara tampak dengan jelas jika dia sedang meragukan Ishan. Bagaimana mungkin orang yang tidak mengenalnya dengan tiba-tiba mengantar pulang. Benar-benar konyol, menurutnya.
Ciittt …!
Tiba-tiba saja Ishan menginjak pedal rem dalam-dalam hingga menimbulkan bunyi. Pria itu kemudian menatap ke arah Iresh dengan tatapan yang sangat dingin.
“Jangan memancing emosiku. Duduk dan diam aja!” desis Ishan dengan penuh penekanan.
Glek …!
Iresh hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Dia juga tampak menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Dia tidak pernah menduga jika pria yang duduk di sebelahnya ini bisa sedingin ini. Apalagi aura dominan dan mengerikan juga terpancar dari wajah pria tersebut.
“Aku tahu di mana kamu tinggal dan aku juga tahu kampung halaman tempat tinggal kedua orang tua kamu. Jadi jangan pernah macam-macam denganku kalau nggak pingin mereka kenapa-kenapa!” sambung Ishan.
Kali ini dia merasa senang karena Iresh tidak lagi membantah ucapannya seperti waktu pertama kali dia bertemu di lobi kantornya. Ke mana Iresh yang seperti singa betina pada waktu itu?
Kemudian mobil pun melaju kembali untuk meneruskan perjalanan. Selama dalam perjalan menuju ke rumah kontrakan Iresh tidak ada satu pun yang berniat untuk membuka suaranya. Gadis itu tampak sering memalingkan wajahnya ke luar jendela yang ada di sampingnya karena menurutnya pemandangan yang ada di luaran sana lebih menarik dari pada di dalam.
Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di depan rumah mungil tersebut dan Ishan memarkirkan mobilnya dengan sempurna.
“Apa kamu tinggal sendirian di sini?” tanya Islan setelah mematikan mesin mobilnya.
“Nggak …!” jawab Iresh singkat dan bersiap untuk keluar dari mobil.
Namun, tanpa dia duga ternyata tangannya ditahan oleh Ishan dan membuat gadis itu langsung mendengus.
“Aku belum selesai bicara, dan jawab pertanyaanku dengan benar!” ucap Ishan bernada tegas sambil menatap tajam ke arah Iresh.
“Apa?” tanya Iresh balik dengan raut wajah yang sudah terlihat jengah karena harus meladeni pria aneh yang ada di sebelahnya.
Bagaimana Iresh tidak menyebut Ishan pria aneh, karena sejak awal pertemuannya, pria itu selalu berusaha mencari masalah dengan dirinya. Padahal dia tidak pernah mengenal pria tersebut, tapi entah kenapa dia selalu ingin mempersulitnya.
“Jangan pernah memancing emosiku Ireshi Kiana!” desis Ishan sambil mengeratkan cengkeraman tangannya yang membuat Iresh meringis menahan sakit.
“Sakit …,” rintih Iresh pelan.
Ishan seakan tidak menghiraukan gadis yang sedang kesakitan karena ulahnya. Dia tidak akan melepaskan cengkeramannya selama belum mendapatkan jawaban dari perempuan itu.
“Kamu tinggal di sini sama siapa? Sama perempuan atau laki-laki?” tanya Ishan dengan tatapan tajam seakan menembus sampai ke jantung.
“Laki-laki …!” jawab Iresh singkat sambil menepis kasar tangan Ishan dari tangannya.
Mendengar jawaban yang baru saja diberikan oleh Iresh, tentu saja membuat pria arogan itu terkejut. Bagaimana bisa seorang perempuan bisa tinggal satu rumah dengan seorang pria, manurutnya.
“What? Dengan laki-laki? Apa kamu sudah gila?” tanya Ishan bertubi-tubi.
Iresh tak kalah terkejutnya ketika melihat respon yang diberikan oleh Ishan. Dia tidak mengerti kenapa pria itu sampai terlihat semarah itu?
“Memangnya kenapa?” tanya Iresh dengan raut wajah yang sudah terlihat keheranan.
Dia memang sengaja bilang tinggal dengan sorang pria karena agar tidak ada yang berniat jahat kepada dirinya. Jika dia bilang tinggal bersama seorang perempuan, bisa saja pada waktu tengah malam ada yang mendatangi rumah kontrakannya dan berniat jahat kepada mereka.
“Kenapa kamu bilang? Apa otak kamu benar-benar sudah nggak waras, hah?” bentak Ishan yang membuat lawan bicaranya langsung berjengkit kaget.
Sebenarnya Ishan sendiri juga tidak mengerti kenapa dia bisa sampai semarah ini. Entah kenapa dia tidak bisa menerima jika Iresh ternyata tinggal bersama dengan seorang laki-laki di bawah satu atap.
Tentu saja ini tidak bisa dia biarkan. Dia akan melakukan segala cara agar perempuan itu tahu batasan dalam bergaul. Lagi-lagi dia tidak mengerti kenapa dia harus melakukan semua ini.
Di dalam pikiran pria itu sudah berkecamuk bayangan yang aneh-aneh. Tentu saja dia tidak ingin semua itu benar-benar terjadi.
Detik kemudian Ishan membuka pintu dan bergegas keluar dari mobil. Mata elangnya sudah memancarkan kilatan amarah yang tidak bisa dia bendung, Kemudian dia berjalan menuju ke rumah mungil tersebut.
“Hey … kamu mau apa?” tanya Iresh sambil berlari mengikuti langkah lebar pria tampan tersebut.
Gadis itu benar-benar tidak mengerti apa yang akan dilakukan Ishan di rumahnya. Dia hanya bisa pasrah dan mengikuti pria itu dari belakang, sedangkan Ishan tidak memperdulikan teriakan Iresh yang sudah memanggilnya.
Kemudian Ishan membuka paksa pintu rumah tersebut, tapi tetap tidak bisa dibuka karena pintu masih dalam keadaan terkunci. Namun, pria itu tidak kehilangan akal.
Brak …!
Dengan sekali tendang akhirnya pintu pun terbuka lebar dan membuat Iresh hanya bisa ternganga karena dia benar-benar terkejut dengan sikap Ishan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
“Ya … Tuhan akan ada apa lagi sekarang?” batin Iresh dengan hati yang diliputi kecemasan.
Ternyata bukan hanya Iresh saja yang dibuat terkejut oleh pria itu. Zavia yang sedang berada di dalam rumah juga tak kalah kagetnya. Bahkan, dia menatap ke arah Ishan dengan tatapan kebingungan yang bercampur emosi.
“Hey … kamu ini siapa, menerobos rumah orang dengan seenaknya?” tanya Zavia dengan tatapan yang sudah terlihat tidak bersahabat.
Detik kemudian dia melihat Iresh yang berlari-lari mengejar pria yang baru saja menerobos masuk ke dalam rumah. Ia pun langsung mengerutkan dahinya seakan meminta penjelasan dari sahabatnya.
“Bisa kamu jelaskan sebenarnya apa yang sedang terjadi?” tanya Zavia kepada Iresh.
“Nanti aku jelaskan, tapi sekarang aku harus mengusir dia dulu,” jawab Iresh sambil terus menatap ke arah Ishan yang terus mencari ke setiap sudut ruangan.
Zavia pun mengerti dan lebih menunggu Iresh untuk menjelaskannya. Dia ikut melihat Ishan yang masih terlihat sibuk seperti sedang mencari sesuatu dengan tatapan kebingungan.
“Hey … kamu mau cari siapa?” tanya Iresh dengan suara yang terdengar lebih tinggi dari sebelumnya.
Ishan sudah mencari ke setiap sudut rumah, tapi dia tetap tidak menemukan keberadaan pria yang tinggal bersama dengan Iresh.
“Di mana laki-laki itu?” tanya Ishan dengan penuh selidik sambil tetap mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.