Azzahara Tabitha Iswanda atau yang biasa di panggil Ara kini sedang berjalan mondar-mandir di ruang rias yang berantakan itu. Gaun putihnya yang menjuntai di lantai pun ikut menyapu mengikuti ritme gerak.
"Nggak, nggak mungkin.." bisiknya kepada diri sendiri sembari menggigit jarinya panik.
Telepon yang berada di tangan sebelahnya terus membunyikan nada panggilan ke seberang. Entah sudah keberapa kali ia melakukannya.
Hingga akhirnya Ara melempar telepon itu ke lantai dengan emosi. "Cowok bang sat!!" Lalu jatuh memeluk lututnya sendiri dan menangis dengan keras di sana.
Sekarang adalah hari pernikahannya, sebuah momen sakral yang hanya ingin ia lakukan satu kali seumur hidupnya. Bersama laki-laki yang ia cintai dan yang mengatakan bahwa ia mencintai nya juga.
Tapi detik itu akhirnya Ara tau, cinta tidak akan membiarkan dirinya ditinggalkan.
Sama seperti Mamahnya.
"Mah? Mamah mau kemana?"
Sebuah koper besar berjalan diseret keluar oleh wanita yang ia panggil 'Mamah'. Sambil menangis, Ara menahan pergerakannya dengan memohon penjelasan.
"Ra! Lepasin Mamah!"
Ara menggeleng cepat meski dibentak. Nyatanya genggaman tangannya pada tubuh wanita setengah baya itu malah semakin erat. "Mamah, Ara mau ikut.."
"Lepasin! Mamah udah nggak tahan tinggal di rumah ini!"
Masih ia ingat setiap bentakan yang keluar bersamaan dengan raut marah pada wajah cantik itu. Mamahnya pergi meninggalkannya bersama sang Papah yang juga semakin hari semakin sibuk.
Kesepian menyergapnya yang mulai menyerah menjalani hidup. Mencari kehangatan pada manusia-manusia dari luar rumahnya.
Meski tidak akan sama seperti kehangatan keluarga yang selama ini di carinya.
Hingga akhirnya ia pikir sudah bertemu dengan sosok yang dapat menemaninya menerjemahkan kata cinta yang begitu sakral.
Arga Pratama.
Seorang dosen dari kampus negri yang terkenal, datang memberikan harapan juga janji-janji palsu yang tak dapat di tagih.
Tapi semua itu bohong, kenyatannya Ara tetap dibiarkan sendiri.
Arga lebih memilih pergi tanpa kabar daripada harus hidup bersamanya.
“Arga…” suaranya lirih, hampir seperti bisikan yang tak ditujukan pada siapa pun. Dadanya sesak. Janji-janji yang semalam masih terdengar hangat kini terasa seperti lelucon kejam.
“Loh, Ra? Kamu kenapa?” Seorang wanita paruh baya dengan setelan kebaya full payet itu muncul tergesa dari balik pintu. Tante Mala langsung berjongkok, memeluk Ara yang terisak di lantai tanpa peduli gaun mahal itu terlipat sembarangan.
“Tante Mala… Arga nggak dateng, Tan,” ucap Ara terbata-bata. Napasnya tersengal, seolah paru-parunya lupa cara bekerja dengan benar. “Dia pergi…”
“Hah? Maksudnya pergi itu apa Ra?” suara Tante Mala bergetar, meski ia berusaha terdengar tenang.
“Dia ninggalin aku,” lanjut Ara, matanya merah dan kosong. “Dia jahat banget, Tan. Dia ngilang gitu aja… padahal dia udah janji sama aku.” Kalimat itu terputus oleh tangis yang semakin keras, membuat bahunya bergetar hebat.
Tante Mala ingin bertanya lebih jauh seperti kapan terakhir mereka bicara atau apakah ada tanda-tanda sebelumnya seperti pertengkaran besar, namun semua pertanyaan itu terasa kejam untuk dilontarkan sekarang. Ia hanya bisa memeluk keponakannya lebih erat, mengusap punggung Ara dengan gerakan pelan.
Beberapa menit berlalu begitu saja. Membiarkan isak tangis Ara memecah keheningan yang muncul dari ruang rias itu.
Hingga suara pintu terbuka terdengar. Sebuah kepala laki-laki dengan setelan kemeja batik menyembul dari sana. "Mah? Kata wo nya, penghulu udah siap, gimana dong?"
Ara langsung mendongakkan kepalanya, memperlihatkan mata sembab yang tak dapat disembunyikan. "Papah gimana? Papah aku udah dateng?"
Sang sepupu bernama Junan, alias anak sulung Tante Mala itu mengangguk pelan. "Udah duduk kak bareng penghulunya di luar."
Wajah Ara semakin gelisah, bingung ingin melakukan apa untuk mengatasi masalah ini. "Tante... Gimana dong.. ” ujarnya dengan sisa tangis yang belum benar-benar reda.
"Junan kamu bilang aja ke Wo nya, keluarga mempelai laki-laki masih di jalan, kejebak macet. Udah bilang gitu aja."
Junan terlihat berfikir sebentar. "Tapi Mah, katanya akad bentar lagi—"
"Plak!"
Seseorang gadis yang tampak seumuran itu muncul dari belakang. "Lo kok bisa nggak peka banget sih?" Ujarnya kepada Junan dengan sinis lalu berpaling ke Tante Mala.
"Tenang aja Mah, biar wo sama penghulunya Jinan yang urus." Matanya lalu beralih ke arah Ara. "Kakak tenang dulu, aku sama Kak Rora sama Kak Lena juga lagi nyari kok ini."
Ujarnya lalu menarik rambut Junan keluar dari sana. Meninggalkan Ara dan Tante Mala yang juga bingung ingin melakukan apa.
Masalahnya tak ada yang kata-kata yang dapat menenangkan hati Ara sekarang. Semua seolah lewat begitu saja dari telinganya tanpa benar-benar ia cerna dengan baik.
Inj bukan seperti apa yang ia impikan, bukan seperti pernikahan yang selama ini ia idam-idamkan.
Tante Mala paham, ia sudah menebak apa yang akan terjadi. "Nggak papa Ra, nggak usah dipaksain, udah..."
Dan isak tangis itu semakin besar, membuat pilu pada siapapun yang mendengar. "Nggak bakal kenapa-napa kok, Ra. Biar Tante aja yang jelasin ke semua orang. Udah kamu tenang aja." Tante Mala tetap ada di sana, mengelus-elus pundak rapuh Ara yang masih memikirkan banyak hal.
Suara ketokan pintu terdengar, Tante Mala langsung menggeram. "Junan! Suruh Wo nya nunggu dulu, bisa nggak sih?!"
Tapi yang muncul bukan Junan, melainkan seorang pria yang berdiri di ambang pintu. Setelan jas hitamnya rapi, wajahnya tenang meski matanya jelas menangkap kondisi di ruangan ini.
Ia tidak langsung masuk. Ia hanya berdiri di sana, seolah memberi Ara waktu untuk menyadari kehadirannya.
Arga Pratama Kusumo.
Ara butuh beberapa detik untuk mengenali wajah itu. Pandangannya masih buram oleh air mata.
“Mas Arga?” katanya lirih.
Arga melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia tidak terburu-buru mendekat. Ia berhenti beberapa langkah dari Ara lalu ikut berjongkok bersama Tante Mala. “Kamu kenapa Ra? Tenang dulu, hey..” katanya pelan.
Ia menggeleng. Tangisnya kembali pecah, kali ini lebih berat hingga membuat bahunya bergetar hebat.
“Dia nggak dateng,” katanya akhirnya. “Dia pergi.”
Arga terdiam. Rahangnya mengeras sedikit, tapi suaranya tetap stabil saat ia bicara lagi. “Kamu udah hubungin dia?”
Ara mengangguk tanpa mengangkat kepala. “udah Mas, semua.”
Ara terdiam sejenak. Nafasnya masih tersengal, tapi kini ada sesuatu yang menahannya agar tidak jatuh sepenuhnya.
“Papah aku udah dateng Mas,” kata Ara pelan. “Aku nggak bisa batalin... Aku nggak bisa keluar dan bilang semuanya gagal.”
"Udah nak, udah.." Tante Mala kembali memeluk tubuh ringkuh wanita itu.
Sementara Arga mengepalkan tangannya kuat. Ada perasaan yang ikut sakit melihat Ara menangis. Hal yang membuatnya jatuh pada keputusan selanjutnya. “Ara,” katanya pelan.
Wanita itu mengangkat wajahnya. Matanya merah, demgan tatapannya kosong. “Aku ditinggal lagi,” katanya.
Dan kali ini, ada seseorang yang mendengarnya.