Suasana aula pernikahan itu tidak seharusnya seperti ini.
Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan bau bunga melati yang terlalu kuat, menusuk hidung dan membuat kepala pening.
Kursi-kursi berbalut kain putih sudah terisi hampir penuh. Beberapa tamu berbisik pelan, sebagian lain sibuk menatap ponsel, seolah mencoba mengalihkan rasa canggung yang mulai menggantung di udara.
Di depan, penghulu duduk dengan wajah datar, jemarinya saling bertaut di atas meja akad. Jam di dinding berdetak pelan, tapi terasa keras di telinga siapa pun yang memperhatikannya.
Junan berdiri di dekat pintu samping, kemeja batiknya sudah agak kusut karena keringat. Matanya mondar-mandir, tidak pernah benar-benar fokus pada satu titik. Setiap kali pintu terbuka, dadanya ikut menegang, lalu mengempis lagi saat yang masuk bukan orang yang ia tunggu.
Disitulah Arga Pratama Kusuma muncul. Dengan setelan batik coklat dan rambut yang disemir rapi. Dia memperhatikan gelagat Junan, sang sepupu yang terlihat sangat gelish.
"Kamu kenapa?" Tanya Mas Arga pada akhirnya
"Mas Arga! Ya ampun udah lama nggak ketemu Mas Arga."
Mas Arga mengernyitkan dahinya. "Mas tanya, kamu kenapa?"
"Anu, Mas..." Junan gelagapan, bingung ingin jujur atau tidak. "Itu loh, Mas."
"Kamu kenapa sih jadi nggak jelas gini? Ara di mana? Akad udah selesai yah? Mas telat gitu?"
Junan kembali menggeleng dan itu semakin membuat Mas Arga gemas, "kenapa sih Jun?"
"Calon pengantin pria nya, Mas. Belum dateng-dateng dari tadi."
Junan lansung mengulum bibirnya masuk saat suaranya tanpa sadar berbunyi terlalu keras. Ia menoleh ke beberapa orang di sekitarnya sebelum memajukan badannya untuk berbisik ke arah Mas Arga. "Kayaknya sih kabur, Mas. Tapi nggak tau deh.."
Mas Arga langsung mengernyitkan dahinya. "Terus Ara?" Tangannya lansung mencengkram kedua pundak Junan. "Ara gimana Jun? Dia dimana?"
"Dia ada di ruang rias pengantin Mas, tapi nggak usah masuk dulu, Kak Ara lagi nangis tuh."
Tapi perintah itu tak dihiraukan oleh Mas Arga, keadaan Ara adalah yang terpenting baginya sekarang.
Pandangan Mas Arga pertama kali adalah melihat tubuh Ara terduduk di lantai yang dingin dengan Tante Mila di sebelahnya. “Ra,” panggilnya lembut. “Minum dulu.”
Ia menyodorkan botol air mineral. Ara menggeleng. “Aku lagi mual banget, Tan. Kepalaku sakit banget..” jawabnya dengan suara serak.
Tante Mila menarik napas panjang. “Kamu tenangin diri kamu dulu Ra, biar kalau pengantinnya udah dateng kamu bisa langsung akad.”
Ara tertawa kecil. Ia menggeleng pelan. " Akad gimana sih, Tan? Dia nggak bakal dateng.."
Dari luar, suara orang lalu-lalang terdengar samar. Ada langkah kaki cepat, ada suara kursi digeser, ada bisik-bisik yang sengaja dikecilkan tapi tetap bocor masuk.
Ara menunduk. Ujung jarinya dingin. Dadanya terasa penuh, seperti ditekan dari dalam.
“Tan,” katanya pelan. “Aku malu.”
Tante Mila langsung menoleh. “Jangan ngomong gitu.”
“Aku malu banget,” ulang Ara. “Semua orang nungguin, papah aku ada di luar. Terus aku di sini kayak orang bego.”
Tante Mila memegang bahu Ara dengan dua tangan. “Dengerin Tante. Ini bukan salah kamu.”
Ara mengangguk, tapi matanya tidak fokus.
Pintu ruang rias diketuk pelan.
Tante Mila langsung menegang. “Siapa?”
Arga yang awalnya mengintip langsung membuka pintu dengan lebar.
Setelan jas hitamnya rapi, tapi wajahnya serius. Langkahnya mendekat lalu berjongkok di dekat Ara. Ruangan itu mendadak sunyi.
Ara menatap Arga tanpa berkedip. Tenggorokannya terasa tercekat. “Mas…” suaranya hampir tidak keluar.
“Udah, Ra. Nggak papa, kamu bisa nangis depan aku.” katanya pelan pelan.
Ara langsung bereaksi, bibirnya bergetar, lalu air matanya jatuh lagi. Ia terisak semakin keras.
Arga menoleh sebentar ke Tante Mila. Wanita itu mengangguk kecil, memberi isyarat agar ia bicara saja.
“Dia nggak dateng Mas,” kata Ara akhirnya. “Dia pergi.”
Arga menarik napas lewat hidung. Rahangnya mengeras. “Udah dihubungin?”
Ara mengangguk. “Semua.”
“Dari kapan?”
“Dari subuh.”
Arga terdiam beberapa detik. Suara pendingin ruangan terdengar jelas. “Ara,” katanya kemudian. “Kamu nggak salah.”
Ara tertawa kecil. “Semua orang bilang gitu.”
Arga mengulum bibirnya masuk, begitu khawatir karena setiap kata penenang yang dikeluarkan akan langsung ditolak mentah-mentah oelh wanita itu.
Hingga akhirnya pintu kembali terbuka.
Kali ini dua orang masuk hampir bersamaan.
Lena dan Aurora.
Keduanya langsung berhenti begitu melihat Arga. Wajah mereka tegang.
“Ara,” panggil Aurora. “Kita udah cari.”
Lena mengangguk cepat. “Ke semua tempat. Nggak ada.”
Ara memejamkan mata. Nafasnya terdengar berat.
“Nomornya aktif,” lanjut Lena. “Tapi nggak diangkat.”
Aurora mendekat, berjongkok di sisi Ara yang lain. “Ra, gue minta maaf.”
Ara menggeleng pelan. “Bukan salah kalian, kok.”
Dari luar terdengar suara langkah kaki cepat. Jihan muncul di ambang pintu. Rambutnya mulai berantakan karena terus berlari sejak tadi, “Mah,” panggilnya. “Penghulu nanya lagi.”
Tante Mila menghela napas. “Bilang tunggu dulu Jihan, tahan selama mungkin.”
“Udah aku bilang,” jawab Jihan. “Tapi tamu mulai ribut karena penghulunya udah mau pergi Mah.”
Mas Arga menoleh ke aah wanita itu . “Ara.”
Ara mengangkat wajahnya. Matanya merah, tapi tatapannya fokus. Cahaya lampu rias memantul di permukaan matanya yang basah, membuatnya tampak lebih pucat dari biasanya. Bahunya turun, napasnya belum sepenuhnya stabil.
“Aku tau ini bakal kedengeran gila di telinga kamu.” kata Arga. “Tapi aku nggak bisa biarin kamu kayak gini.”
Ara terdiam, matanya terkunci pada netra gelap milik Mas Arga. Jarak mereka tidak jauh, hanya terhalang ujung gaun putih yang terlipat di lantai. Bau parfum Mas Arga terasa samar, bercampur dengan aroma hairspray yang memenuhi ruangan.
Laki-laki itu menarik napas. “Aku nggak tau apa yang ada di kepala dia. Tapi aku tau kamu nggak bisa keluar ke depan sendirian.”
Ara menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Jarinya mencengkeram sisi gaun lebih kuat, hingga kainnya sedikit berkerut.
“Aku sepupu kamu,” lanjut Mas Arga. “Aku keluarga kamu.”
“Terus?” tanya Ara pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh dengung pendingin ruangan yang terus menyala.
“Aku nggak akan ninggalin kamu di situasi kayak gini.”
Lena dan Aurora saling pandang. Keduanya tidak bicara. Lena menghela napas pendek, sementara Aurora menggeser posisi berdirinya, berat badannya berpindah dari satu kaki ke kaki lain.
“Ara,” kata Mas Arga lagi. “Kalau kamu mau, aku yang maju.”
Ara membeku. Tubuhnya kaku. Seolah kalimat itu membuat waktu berhenti beberapa detik di ruangan sempit itu.
“Maksud Mas?” suaranya gemetar.
“Aku yang berdiri di depan,” ulang Mas Arga. “Aku yang jadi pengganti dia.”
Ruangan itu sunyi. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang langsung bereaksi. Hanya suara napas mereka yang terdengar jelas, satu per satu, di antara bau bunga dan lampu yang terlalu terang.