3

1191 Words
Ara tidak langsung bereaksi, ia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyadarkan diri bahwa yang terjadi sekarang bukan mimpi. Kalimat Arga masih menggantung di udara. Kalau kamu mau, aku bisa gantiin dia. Ara menggeleng pelan, seolah mencoba mengusir kemungkinan itu dari kepalanya. Ini sudah terlalu jauh, dan apa yang terjadi bukan tanggung jawab siapapun. “Mas Arga,” suaranya keluar lirih dan putus. “Ini bukan hal yang bisa diputusin sekarang.” Mas Arga tidak memotong. Ia membiarkan Ara bicara, meski kalimat itu lebih terdengar seperti pembelaan untuk dirinya sendiri. “Aku tahu,” jawabnya tenang. “Makanya aku bilang, kalau kamu mau.” Tidak ada tekanan dalam nada itu, bahkan tidak ada kalimat lanjutan yang memaksa. Arga menunggu jawaban dari Ara tanpa menuntut apapun. Ara mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Nafasnya terdengar sangat berat, begitu banyak yang terjadi dalam beberapa jam terakhir. Ini bukan solusi yang pernah ia pikirkan. Bahkan ketika ia membayangkan Arga Pratama tidak datang, yang terlintas hanyalah pembatalan, permintaan maaf di depan tamu, dan tatapan iba yang akan membekas bertahun-tahun. Tidak pernah ada bayangan menikah dengan orang lain. Apalagi dengan seseorang yang tidak pernah ia rencanakan sebagai pasangan hidup. Arga kembali bicara, suaranya rendah tapi jelas. “Aku nggak maksa kamu. Aku cuman dateng kasih solusi karena aku nggak mau kamu liat kamu kayak gini, Ra.” Ara menoleh. “Aku nggak datang buat jadi pahlawan,” lanjutnya. “Aku cuma nggak tega lihat kamu hancur sendirian. Itu aja.” Lena dan Aurora berdiri di sisi lain ruangan. Sejak tadi mereka diam, tapi mata mereka tidak pernah lepas dari Ara. Mereka tahu, satu kata saja dari Ara akan mengubah segalanya. Aurora melirik jam di pergelangan tangannya. “Ra,” katanya pelan tapi tegas. “Kita nggak punya banyak waktu.” Ara menutup mata. Kepalanya terasa berat. Di luar ruang rias, suara langkah kaki terdengar semakin keras. Saat itulah pintu ruang rias kembali terbuka. “Ara.” Papahnya masuk dengan langkah cepat. Jas hitamnya rapi, dasinya lurus, tapi wajahnya tegang. Ia jelas sudah lama berdiri di depan, menunggu, dan mulai kehabisan kesabaran. Pandangan Papah Ara langsung tertuju pada Arga Kusumo. “Oh,” ucapnya, alisnya terangkat sedikit. “Jadi calon menantu papah itu kamu.” Ara refleks berdiri. “Pah…” Papahnya tersenyum kecil, seolah semua sudah jelas. “Papah kira Arga Pratama itu orang lain.” Ia menepuk bahu Arga ringan, gestur seorang paman pada keponakannya. “Ternyata keponakan papah sendiri.” Arga melirik Ara sekilas, lalu membalas dengan anggukan canggung. “Iya, Om.” Ara merasa perutnya melilit. Kesalahpahaman itu datang begitu saja, tanpa ruang untuk diluruskan. Papahnya menoleh ke Ara. “Aduh Ra, Papah kemana aja yah sampai nggak tau kalau kamu nikah sama sepupu kamu sendiri." Ara tersenyum kaku, lidahnya kelu untuk menjelaskan semuanya. "Kok riasannya kayak gini yah? Penghulu udah dateng loh, kok belum selesai-selesai." "MUA nya lagi sakit perut nih Om, lagi di toilet, makanya kita juga lagi bingung banget." Ujar Lena dengan cekatan sebelum Papahnya Ara sadar dengan mata merah sang anak. "Oh gitu yah, yaudah nanti Papah yang jelasin ke penghulunya. Papah tunggu di depan yah.” Ara membuka mulut. Kata-kata menumpuk di tenggorokannya, tapi tidak satu pun keluar. Ia ingin berkata ini salah. Ia ingin menghentikan semuanya. Tapi wajah Papahnya terlihat lelah, penuh harap, dan sama sekali tidak curiga. Papahnya tidak menunggu jawaban. “Cepat ya,” katanya lalu keluar kembali. Pintu menutup. Keheningan jatuh begitu saja. Ara berdiri terpaku dengan raut bingung dengan situasi yang baru saja terjadi. Tangannya bergetar dan napasnya memburu. “Ra,” kata Lena pelan. “Papah kamu sudah salah paham.” Ara tertawa kecil tanpa suara. “Aku tahu." Ia menunduk dalam, "kenapa Mas iyain ucapan Papah tadi?" "Karena kamu takut jujur kan? Aku nggak mau naro kamu ke situasi yang lebih sakit lagi." Dan justru itu yang membuatnya semakin sulit menolak. Arga melangkah sedikit lebih dekat, tapi tetap menjaga jarak aman. “Ara,” katanya lembut. “Kalau kamu bilang nggak, aku akan mundur sekarang. Nggak akan ada yang nyalahin kamu.” Ara menatapnya lama. Wajah Mas Arga tidak menunjukkan kepastian mutlak, yang ada hanya kesiapan menerima apa pun keputusan Ara. “Mas sadar nggak,” suara Ara nyaris berbisik, “ini keputusan paling bodoh yang bisa aku ambil.” Arga mengangguk. “Aku sadar.” “Dan Mas tetap nawarin?” “Iya.” Ara tertawa pahit. “Kenapa?” Arga terdiam sejenak. “Karena nggak ada pilihan lain kan? Mungkin emang udah takdir nama aku sama dengan laki-laki itu ” Kalimat itu menghantam tepat di dadanya. Ara menghembuskan napas panjang. Bahunya jatuh. Kepalanya tertunduk. “Oke,” katanya akhirnya. Satu kata. Tapi itu cukup. Lena menutup mulutnya. Aurora memejamkan mata sejenak. Arga tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk pelan. “Makasih banyak, Mas. Makasih..” Pergerakan setelah itu berlangsung cepat, hampir otomatis. Di luar, keluarga mulai menyadari ada yang tidak biasa. Beberapa tamu saling pandang saat melihat Arga Kusumo berjalan menuju area akad. “Itu Arga Kusumo kan?” “Bukannya Arga Pratama?” “Ini gimana ceritanya?” Di dekat layar besar, Jihan dan Junan berdiri dengan wajah serius. Begitu melihat Ara duduk di kursi akad bersama Arga Kusumo, mereka saling menatap. “Kok Mas Arga yang di sana?” bisik Junan. Jihan menggeleng. “Kata Mamah mempelai pria nya belum dateng.” Keduanya saling menatap seolah menyamakan pikiran. Benar saja. Tante Mala muncul dari sisi ruangan, membawa sebuah flashdisk kecil. Tanpa banyak bicara, ia menyerahkannya pada Jihan. “Ganti sekarang,” katanya singkat. Jihan dan Junan bergerak cepat. Foto-foto prewed yang menampilkan Ara dan Arga Pratama menghilang dari layar. Digantikan oleh foto-foto lama yang disimpan rapi selama bertahun-tahun. Dulu Arga di titip di rumah Tante Mala setelah kedua orangtuanya meninggal, sedangkan Ara juga selalu pergi ke sana karena kesepian akan Papahnya yang selalu sibuk. Ara kecil yang tertawa dengan rambut diikat dua. Arga kecil yang berdiri di sampingnya, memegang layangan. Foto ulang tahun, foto liburan keluarga, foto-foto yang diabadikan oleh Tante mala sebagai kenang-kenangan untuk disimpan. Para tamu terdiam. Beberapa tersenyum dan beberapa lainnya berdecak pelan. Tidak ada yang bertanya. Yang terlihat hanyalah kesan hangat, seolah pernikahan ini memang berakar dari masa lalu yang panjang. Di sisi lain ruangan, Arga Kusumo mengeluarkan ponselnya. Satu pesan terkirim. Kurang dari lima menit kemudian, sekretarisnya muncul dengan langkah cepat, membawa sebuah kotak kecil. Wajahnya profesional, tidak panik. “Mas,” katanya pelan. “Maskawin sudah siap.” Arga mengangguk. “Terima kasih.” Tante Mala melirik sekilas, lalu mengangguk puas. “Baik. Kita lanjut, Arga kamu beneran siap kan?” Dan satu anggukan mamta6dari Arga menjawab semuanya. Ara berjalan menuju kursi akad meski setiap langkahnya terasa berat. Jantungnya berdetak cepat dan tngannya yang dingin sedari tadi. Ia lalu duduk dengan anggun di sebelah Mas Arga lalu setelahnya penghulu pun mulai berbicara. Ara hanya termenung sambil terus mempertanyakan keputusan ini. Dan saat nama calon pengantin pria disebut dengan jelas. “Arga Pratama Kusumo.” Ara menelan ludah. Ini nyata. Ia benar-benar sudah menikah dan bukan dengan pria yang ia rencanakan. Tapi dengan pria yang berdiri di sampingnya sekarang. Ini adalah hal ter gila yang sudah Ara buat dalam kehidupannya. Tapi tidak ada jalan untuknya kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD