Setelah ijab kabul dinyatakan sah, aula pernikahan itu tidak langsung berubah menjadi riuh seperti yang biasanya terjadi di pesta lain.
Ada jeda yang terasa ganjil itu karena beberapa dari mereka sadar bahwa wajah pengantin pria yang ada di layar awalnya berbeda dengan yang muncul di meja akad.
Tepuk tangan menggema meski mulanya tidak serentak. Beberapa orang berdiri lebih dulu, sebagian masih duduk sambil saling menoleh, seolah mencoba memastikan apa yang baru saja mereka saksikan.
Lampu-lampu kristal di langit-langit tetap menyala terang, memantulkan kilap ke lantai marmer yang dingin.
Ara berdiri perlahan dari kursi akad. Kakinya terasa berat saat menopang tubuh nya sendiri. Gaun putih yang sejak pagi terasa ringan kini seperti menarik nya ke bawah. Ia mengangkat naik kain gaun itu sedikit agar tidak terinjak, lalu melangkah ke depan dengan pelan.
Di sampingnya, Mas Arga berdiri lebih dulu. Gerakannya tenang dan terukur. Ia tidak menoleh, tapi memilih berhenti sejenak, memastikan Ara sudah benar-benar berdiri tegak sebelum ikut melangkah bersama-sama.
Tamu pertama datang dari sisi kanan. Seorang ibu dengan kebaya warna pastel tersenyum lebar. Ara menunduk, menjabat tangan nya, lalu menempelkan punggung tangan itu ke keningnya.
“Selamat ya, Ara,” ucap wanita itu.
“Iya, Bu. Terima kasih,” jawab Ara. Suaranya terdengar stabil, meski tenggorokannya terasa kering setelah menangis.
Ia kembali berdiri, lalu menunduk lagi untuk tamu berikutnya. Gerakannya berulang terus-menerus, hampir persis sama. Senyum kecil terpasang di wajahnya, bersikap pura-pura bahwa ini adalah pernikahan yang bahagia.
Di sebelahnya, Mas Arga berdiri dengan senyum yang sama. Ia ikut menyalami para tamu. Tangannya terulur dengan bahu yang tegak, wajahnya datar namun tetap sopan.
“Selamat.” “Terima kasih, Om.” “Iya.”
Jawabannya singkat juga tidak berlebihan. Seperti dirinya yang biasanya.
Ara mendengar bisik-bisik yang tidak benar-benar disembunyikan.
“Itu Arga Kusumo ya?” “Iya, sepupunya.” “Dari keluarga papahnya, katanya.”
Ara mendengar semuanya. Nada-nada itu masuk ke telinganya, tapi tidak ia tanggapi. Ia tetap menunduk, tetap menjabat tangan, tetap tersenyum.
Tante Mala berdiri tidak jauh dari mereka. Setiap kali ada tamu yang terlihat ragu atau bertanya terlalu lama, Tante Mala maju setengah langkah.
“Oh, Arga itu memang lama tinggal di rumah saya,” jelasnya dengan nada ringan. “Orang tuanya meninggal waktu dia masih kecil.”
Beberapa tamu mengangguk, wajah mereka melunak.
“Ara juga sering main ke rumah saya,” lanjut Tante Mala. “Papahnya sibuk terus, jadi mereka sudah dekat dari dulu.”
Kata-kata itu terdengar wajar. Tidak ada nada tergesa maupun gestur yang canggung. Seolah cerita itu memang sudah lama ada dan baru sekarang diceritakan ulang.
Ara menunduk lagi. Senyumnya tidak berubah.
Seorang tante lain menepuk bahu Ara pelan. “Pantesan ya kelihatan cocok.”
Ara hanya tersenyum dan mengangguk.
Aurora berdiri di sisi kiri, memperhatikan Ara tanpa bicara. Lena berdiri di sisi lain, sesekali menghela napas pendek setiap kali melihat antrean tamu yang belum habis.
Saat antrean mulai menipis, Lena mendekat dan menyodorkan segelas air. Ara menerimanya, meneguk sedikit, lalu mengembalikannya tanpa bicara.
“Dikit lagi, Ra.” bisik Aurora yang dibalas Ara dengan anggukan pelan.
Tamu terakhir datang dengan langkah pelan. Seorang pria tua dengan jas abu-abu. Tangannya sedikit gemetar saat menjabat tangan Ara. Ara menunduk lebih dalam dari biasanya.
“Jaga kesehatan ya,” ucap pria itu.
“Iya, Pak,” jawab Ara.
Pria itu lalu menoleh ke Mas Arga dan menepuk bahunya ringan. “Jaga istrimu.”
Mas Arga mengangguk. “Iya, Pak.”
Setelah tamu itu pergi, bahu Ara langsung turun. Napasnya berhembus panjang sambil menunduk menatap lantai dengan lemas.
Ia berdiri diam beberapa detik dengan posisi seperti itu
Tante Mala mendekat dan memegang lengan Ara sebentar. Sentuhannya hangat. “Kamu nggak papa kan Nak?” ucapnya pelan.
Ara mengangguk tanpa menatap.
Hingga tibalah akhirnya Ara dan Arga pergi ke hotel tempat mereka akan melangsungkan malam pertama. Meski mungkin akan tertunda kali ini.
Karpet tebal berwarna gelap meredam langkah kaki mereka, membuat suara sepatu Ara hampir tidak terdengar. Lampu-lampu dinding menyala redup, cahayanya kuning pucat, menciptakan bayangan panjang di sepanjang lorong. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa menusuk kulit yang sejak tadi terbungkus kain tebal.
Ara berjalan sedikit di depan. Langkahnya cepat, seolah ingin segera sampai dan menutup diri dari dunia di belakangnya. Tangannya mengepal di sisi tubuh, kuku jarinya menekan telapak tangan sendiri.
Mas Arga mengikuti di belakang, menjaga jarak satu langkah. Tidak menyalip ataupun mempercepat langkahnya. Ia memperhatikan punggung Ara yang tegang, bahu yang sedikit terangkat, cara napasnya terdengar tidak teratur meski tidak terengah.
Tidak ada percakapan diantara mereka. Dan itu cara Mas Arga memberikan waktu kepada Ara.
Hingga akhirnya mereka sampai di kamar itu. Ara berdiri di ambang pintu. Ia tidak langsung masuk.
Sementara di sebelahnya, Mas Arga memegang gagang pintu, menahannya tetap terbuka. Ia menoleh sedikit, menatap Ara dari samping.
“Kamu masuk aja dulu,” ucapnya pelan.
Ara menoleh. Matanya terlihat lelah. “terus Mas gimana?” tanyanya singkat.
Mas Arga menghela napas pendek. “Aku cari angin bentar, kamu istirahat duluan aja."
Ara diam beberapa detik. Paham akan alasan Mas Arga melakukan itu. “Aku nggak apa-apa,” kata Ara, tapi nadanya tidak meyakinkan, bahkan untuk dirinya sendiri.
Mas Arga mengangguk pelan. “Aku tahu. Tapi tetap aja, kamu masuk duluan, aku nggak papa.”
Ara menatapnya, lalu mengalihkan pandangan ke dalam kamar. Tangannya perlahan melepas sepatu haknya. Bunyi kecil terdengar saat sepatu itu menyentuh lantai. Ia melangkah masuk dengan kaki telanjang, karpet lembut langsung menyentuh telapak kakinya.
Tapi Mas Arga tetap berdiri di sana, ia tetap bersikeras tidak ingin masuk.
Ia melepaskan tangannya dari gagang pintu dan mundur setengah langkah ke lorong. Tangannya menyentuh dinding dingin di samping pintu. Ia berdiri di sana, punggung sedikit bersandar, jas masih rapi di tubuhnya.
Ara menoleh sekali lagi. “Mas yakin? Aku nggak papa kalau Mas mau masuk juga.” tanyanya.
Mas Arga menatapnya lurus. “Udah nggak papa, kamu istirahat aja, Mas nyari angin dulu di luar.”
Ara mengangguk kecil. Lalu menarik pintu hingga tertutup.
Ia berdiri diam di lorong. Lampu dinding memantulkan bayangan tubuhnya ke karpet. Suasana begitu sunyi. Tidak ada orang lain yang lewat. Hanya ada suara AC dan sesekali suara lift di kejauhan.
Mas Arga melepas jas nya perlahan. Kain itu tiba-tiba terasa berat di tangannya. Ia melipat dengan asal, lalu menggantungkan nya di lengan. Tangannya kemudian masuk ke saku celana, jemarinya menggenggam ponsel tanpa benar-benar ingin membuka layar.
Suara hembusan nafas panjang ia keluarkan beberapa kali.