5

1088 Words
Entah bagaimana bisa mereka tiba-tiba sampai di halaman rumah milik Mas Arga. Setelah semalaman menangis dan meratapi nasibnya yang ditinggal di hari pernikahan, Ara langsung tertidur tanpa bersih-bersih dengan benar. Dia hanya ingat bagaimana Mas Arga sudah tiba-tiba membangunkannya karena harus checkout hotel. Suasana diantara mereka begitu canggung, padahal keduanya sering menghabiskan waktu bersama saat masih remaja. Suara engsel pintu terdengar pelan sebelum tertutup kembali, menyisakan kesunyian yang langsung memenuhi rumah. Tidak ada suara televisi apalagi suara radio. Hanya bunyi langkah kaki mereka sendiri di lantai keramik yang dingin. “Kamar kamu di atas yah, Ra,” kata Mas Arga sambil melepas sepatu. Tangannya bergerak rapi untuk meletakkan sepatu sejajar di rak. “Yang sebelah kiri itu.” Ara berhenti sebentar di anak tangga pertama. Tangannya masih menggenggam tali tas. Ia lalu menoleh setengah badan. “Emm... Kalau mamar Mas yang mana?” tanya nya dengan ragu. Daripada harus kebingungan kan karena mereka tidur sekamar? Lebih baik bertanya lebih awal. Mas Arga memilih terdiam sejenak, mungkin karena laki-laki itu juga berfikir bahwa mereka akan tidur di satu kamar yang sama. “Sebelah kanan.” Jawaban itu cukup membuat Ara menghela nafasnya lega lalu mengangguk. Ia pun melanjutkan langkahnya naik. Tangga kayu itu berderit pelan di bawah langkahnya. Di lantai atas, cahaya pagi merembes masuk dari jendela kecil di ujung lorong. Ara membuka pintu kamar kiri. Bau sprei bersih dan pengharum ruangan langsung menyambutnya. Ia menaruh tas di sudut kamar. Ara memilih tidak langsung membukanya untuk membereskan barang-barangnya, melainkan berkeliling meneliti ruang kamar itu terlebih dahulu. Tangannya sempat menyentuh permukaan meja rias, lalu menarik lacinya dengan penasaran. Wanita itu lalu berdiri tegap menatap bayangannya sendiri di depan cermin. Ara baru sadar kalau wajahnya tampak pucat di balik pantulan benda itu, bahkan matanya masih terlihat sembab dengan jelas. Ara menghela napas pelan, lalu keluar lagi dan turun ke bawah. Mas Arga sudah berdiri di dapur. Ia mengalirkan air dari keran laku mengisi teko kaca. Bunyi air terdengar jelas di ruangan yang sunyi. Cahaya matahari masuk lewat jendela dapur, memantul di permukaan meja dan lantai. Satu hal yang Ara sadari dari desain rumah ini, begitu banyak ventilasi yang tersebar hingga cahaya matahari bebas masuk ke dalam. “Kamu mau minum?” tanya laki-laki itu tanpa menoleh. Ara mengangguk kecil, “Air putih aja Mas.” Mas Arga mengangguk. Ia menuang air ke dalam gelas. Gerakannya begitu tenang dan terukur berbeda dengan Ara yang kikuk. Laki-laki itu menyerahkan gelas berisi air putih kepada Ara. Jari mereka hampir bersentuhan, hanya terpaut beberapa sentimeter, tapi tidak benar-benar bertemu. Ara menerima gelas itu dengan kedua tangan, masih bingung mengenai cara ia bersikap setelah ini. Mereka duduk berhadapan di meja makan kecil. Kursi kayu itu berbunyi pelan saat di duduki. Ara meletakkan gelasnya di atas meja, lalu memegangnya lagi. Saking gugupnya ia mengahadapi situasi ini. Uap tipis dari kopi hangat milik Mas Arga terlihat samar. Ia memutar gelas itu perlahan dengan jemarinya, membuat bunyi kecil beradu dengan meja. "Mas Arga.” hingga akhirnya Ara pun bersuara setelah menghembuskan nafasnya panjang. Mas Arga mengangkat kepala. Tatapannya langsung mengarah ke Ara. “Kenapa Ra? Kamu laper?” Ara langsung menggeleng cepat. “Nggak Mas, aku cuman mau ngomong.” Mas Arga menaruh gelasnya. Bunyi kaca yang menyentuh meja terdengar dengan jelas. “Yaudah, ngomong aja.” Ara menarik napas, perasaan gugup dan kikuk langsung memenuhi dadanya. “Ini soal pernikahan kita, Mas.” Mas Arga diam. Ia tidak mengalihkan pandangan, tidak juga menyela. Hanya duduk tegak dan menunggunya selesai berbicara. “Aku tahu Mas nikah karena keadaan buat bantu aku,” lanjut Ara. Suaranya pelan, nyaris datar. “Dan aku tahu Mas berusaha banget bersikap normal.” Mas Arga menatap Ara, sorot matanya tenang. Tidak ada perubahan di wajahnya, hanya garis rahang yang terlihat lebih tegas. “Aku harus jujur kalau aku belum siap, Mas,” kata Ara pelan. Tenggorokannya terasa kering. “Aku belum bisa jadi istri seperti yang seharusnya.” Mas Arga mengangguk kecil. Gerakan itu hampir tidak terlihat. “Kamu khawatirin apa sih Ra? Tenang aja, Mas nggak akan maksa kamu, kita bisa belajar sama-sama.” Wanita itu kembali menggeleng. “Nggak, bukan itu maksud aku,” jawab Ara cepat, seolah takut jeda terlalu lama. “Aku lagi mikirin sesuatu.” Mas Arga kembali diam. Ia menyandarkan punggung ke kursi, meski terlihat jelas bahwa ia tidak sepenuhnya rileks denga tangannya yang tetap di atas meja. “Aku kepikiran soal kontrak pernikahan.” Kalimat itu jatuh pelan, tapi jelas. Ara merasakan udara di dapur seolah berhenti bergerak. Bunyi jam dinding terdengar lebih keras dari sebelumnya. Mas Arga terdiam beberapa detik. Wajahnya tidak berubah, tapi rahangnya mengeras sedikit. Otot di pipinya menegang, lalu kembali netral. “Kontrak?” ulangnya. “Iya,” jawab Ara. “Biar jelas. Biar nggak ada ekspektasi yang bisa bikin salah paham.” Mas Arga bersandar ke kursi. Kayu kursi itu menggesek lantai pelan. Tangannya terlipat di depan d**a. “Ekspektasi apa sih Ra?” Ara menunduk sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi. “Aku nggak mau Mas berharap sama hal-hal yang belum bisa aku kasih.” Mas Arga menatap Ara lama. Tatapan itu tidak tajam, tapi berat. “Nggak ada yang naruh ekpektasi apa-apa, lagipula Mas nikah sama kamu bukan buat kontrak atau apapun itu.” Ara mengusap telapak tangannya sendiri. Kulitnya terasa dingin. “Aku lagi butuh waktu, Mas” “Dan menurut kamu kontrak itu solusinya?” tanya Mas Arga datar. Ara mengangguk pelan. Hening menyelimuti dapur. Tidak ada suara selain dengung kulkas atau suara mesin dispenser. Cahaya matahari bergeser perlahan di lantai, membentuk garis panjang di dekat kaki meja. Mas Arga berdiri. Kursinya bergeser pelan ke belakang. Kakinya melangkah satu, dua langkah lalu perlahan menjauh dari meja. “Kalau kamu mau kontrak, silakan.” Ara menatapnya. Dadanya terasa mengencang. “Tapi mulai sekarang,” lanjut Mas Arga, “Mas berhenti bersikap seolah ini pernikahan normal.” Ara berdiri juga. Kursinya ikut bergeser. “Mas marah?” Mas Arga menoleh. Tatapannya singkat. “Nggak.” Nada suaranya dingin. “Mas cuma nggak mau pura-pura.” Ia berbalik dan berjalan menuju tangga. Langkahnya terdengar pelan, teratur. Setiap pijakan terdengar jelas di rumah yang sunyi itu. "Dan satu lagi, Ra. Mas nggak pernah lakuin pernikahan ini dengan terpaksa, tapi kalau itu mau kamu, Mas cuman bisa nurutin itu." Ara berdiri beberapa detik, lalu duduk kembali dengan gelisah. Kursinya berbunyi lirih saat ia jatuh ke dudukan. Tangannya gemetar panik. Ia meletakkan telapak tangannya di atas meja, guna mencoba menahan getaran itu. Ia harap apa yang baru saja ia katakan tidak membuat keadaan semakin rumit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD