Chapter 8

1174 Words
Carlos tiba-tiba menarik pinggang Azalea pelan hingga tubuh gadis itu langsung menabrak dadanya. Deg. Azalea refleks menahan napas. Jarak di antara mereka benar-benar hilang sekarang. Tangan Carlos masih melingkar santai di pinggangnya, sementara Azalea bisa merasakan hangat tubuh pria itu dari dekat. “Carlos…” gumam Azalea pelan, gugup. Namun Carlos justru tersenyum kecil melihat reaksinya. “Kayaknya pelajaran pertama bisa kita mulai sekarang,” bisiknya rendah. Azalea langsung mengernyit bingung sambil menatap Carlos. “Maksud lo apa?” Carlos menunduk sedikit hingga wajah mereka sejajar. “Pelajaran buat nggak gugup kalau deket cowok,” jawabnya santai. Azalea langsung melotot kecil. “Gue nggak gugup!” Carlos malah terkekeh pelan. “Oh ya?” Tangannya di pinggang Azalea bergerak sedikit membuat Azalea makin salah tingkah. “Terus kenapa jantung lo kenceng banget?” godanya pelan. Wajah Azalea langsung memerah. “Lo… lo ngaco!” Carlos tertawa kecil puas melihat Azalea mulai panik sendiri. Dan semakin Azalea mencoba terlihat tenang, semakin Carlos merasa gemas ingin terus menggodanya. Carlos menahan pinggang Azalea tetap dekat dengannya. Tatapannya santai, seolah ini benar-benar sebuah pelajaran biasa. “Kalau ada cowok meluk lo kayak gini,” katanya pelan, “lo harus santai. Jangan tegang.” Azalea masih kaku di tempat. Carlos menahan tawa kecil. “Turunin bahu lo.” Azalea langsung sadar pundaknya memang menegang sejak tadi. Ia mencoba menarik napas lalu perlahan menurunkan bahunya. “Nah gitu,” gumam Carlos puas. Tangannya lalu naik sedikit membimbing Azalea. “Sekarang tangan lo lingkarin bahu gue.” Azalea menatap Carlos ragu. “Cepet,” desak Carlos sambil nyengir kecil. Dengan gugup, Azalea perlahan mengangkat kedua tangannya lalu meletakkannya di bahu Carlos. “Kayak gini?” tanyanya pelan. Carlos mengangguk. “Good.” Jantung Azalea makin nggak karuan karena posisi mereka terlalu dekat. Bahkan ia bisa merasakan napas Carlos di wajahnya. “Sekarang,” ujar Carlos lagi, “tatap mata gue.” Azalea langsung panik kecil. “Hah?” Carlos terkekeh pelan. “Kenapa gugup?” “Gue nggak gugup,” bantah Azalea cepat sambil menghindari tatapan Carlos. Carlos malah mendekat sedikit lagi. “Jangan gugup,” bisiknya rendah. “Anggap aja gue cowok lo.” Pelan-pelan akhirnya Azalea memberanikan diri menatap mata Carlos. Dan begitu tatapan mereka bertemu… Carlos langsung mencium bibir Azalea. Azalea membelalak kaget. Tubuhnya langsung membeku lagi saat bibir Carlos menyentuhnya lembut. Ciuman itu singkat, tapi cukup bikin jantung Azalea terasa mau lepas. Carlos perlahan menjauh sambil menatap wajah Azalea yang masih terpaku. “Lo harus balas ciuman gue,” katanya pelan. Azalea menatap Carlos gugup. Namun beberapa detik kemudian, ia mengangguk kecil. Carlos tersenyum tipis sebelum kembali mendekat. Kali ini saat bibir mereka bertemu lagi, Azalea memberanikan diri membalas ciuman Carlos pelan meski masih canggung. Azalea merasakan gugup yang berbeda pagi itu. Ciuman Carlos kali ini terasa jauh lebih lembut dibanding semalam. Tidak tergesa, tidak penuh permainan seperti biasanya. Hangat… dan entah kenapa terasa tulus. Jantung Azalea berdetak cepat. Tangannya tanpa sadar mencengkeram pelan bahu Carlos saat pria itu terus mencium bibirnya perlahan, seolah memberi waktu untuk Azalea terbiasa. Saat Carlos akhirnya menjeda ciumannya, napas mereka sama-sama tidak teratur. Carlos menatap Azalea dekat sekali hingga dahi mereka hampir bersentuhan. “Lo mau nangis lagi?” tanyanya pelan. Azalea terdiam sesaat. Tatapan mata Carlos terasa berbeda pagi ini, membuat dadanya ikut bergetar aneh. Perlahan Azalea menggeleng kecil. Carlos tersenyum tipis. Dan detik berikutnya, ia kembali mencium Azalea lebih dalam. Azalea memejamkan matanya pelan saat Carlos membawa tubuhnya rebah ke atas ranjang. Tubuh pria itu menahan tubuh Azalea dengan hati-hati, sementara tangan Carlos perlahan melepas kemejanya yang masih berbau alkohol semalam. Azalea bisa merasakan hangat tubuh Carlos dari dekat. Napas mereka semakin cepat bercampur satu sama lain. Dengan gugup, tangan Azalea perlahan bergerak menyapu punggung lebar Carlos. Sentuhan kecil itu justru membuat Carlos menghentikan ciumannya sesaat sambil menatap Azalea lekat-lekat. Napas mereka masih sama-sama cepat saat pria itu perlahan menjauh lalu duduk di sisi ranjang. Azalea masih terpaku di tempat dengan pipi merah dan pikiran yang berantakan. Sementara Carlos malah tersenyum kecil melihat ekspresi Azalea. Puk Ia kembali menepuk pelan kepala Azalea seperti biasa. “Gue harus mandi sekarang,” katanya santai sambil bangkit dari ranjang. “Udah telat.” Azalea masih belum sepenuhnya sadar dari ciuman tadi. Carlos melirik sekilas sambil berjalan mengambil handuk. “Hari ini lo ke kampus juga kan?” Azalea berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk canggung. “I-iya…” Carlos tersenyum tipis. Entah kenapa, rasa bersalah yang semalam sempat mengganggunya perlahan tergantikan oleh rasa penasaran baru terhadap Azalea. Tapi kali ini Carlos memilih menahan diri. Ia mengacak rambutnya sendiri lalu berjalan masuk ke kamar mandi. Sementara itu, Azalea masih duduk diam di atas ranjang sambil menyentuh bibirnya sendiri pelan. Dan tanpa sadar… Senyum kecil muncul di wajahnya. Karena diam-diam, Azalea menyukai ciuman itu. *** Beberapa waktu kemudian, Carlos dan Azalea sudah siap untuk berangkat. Carlos tampil rapi dengan kemeja hitam dan jas tipis di tangannya, sementara Azalea memakai kemeja oversized dipadukan celana panjang simpel khas dirinya. Begitu turun ke lantai bawah, Sisca langsung tersenyum melihat mereka. “Mau berangkat ya?” Carlos mengangguk sambil mengambil kunci mobil di meja. “Iya, Ma.” Azalea ikut mendekat lalu berkata sopan, “Aku berangkat dulu, Ma… Pa.” Tommy yang masih duduk di kursi roda mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. “Hati-hati.” Carlos lalu menoleh ke Azalea. “Ayo.” Azalea langsung menggeleng kecil. “Nggak usah, gue bisa naik taksi kok ke kampus.” Carlos mendengus pelan. “Nggak usah nolak.” “Tapi kampus lo kan beda arah sama kantor.” “Gue masih sempet nganterin.” Azalea ingin membantah lagi, tapi Carlos sudah lebih dulu berjalan keluar rumah. Mau nggak mau Azalea akhirnya mengikuti. Tak lama kemudian, keduanya masuk ke dalam mobil Carlos. Mesin mobil menyala halus sebelum perlahan keluar meninggalkan halaman rumah besar keluarga Rigel menuju kampus mereka. Di tengah perjalanan menuju kampus, Carlos menyetir santai sambil satu tangannya bertumpu di jendela mobil. Tiba-tiba ia berkata, “Eh, nanti di kampus jangan bilang kita udah nikah.” Azalea langsung menoleh bingung. “Kenapa?” Carlos mengangkat bahu santai. “Ya biar kalau ada yang deketin lo, mereka nggak ragu cuma karena lo udah punya suami.” Azalea langsung mendengus kesal. “Bilang aja lo masih mau main cewek.” Carlos malah terkekeh kecil. “Gue bakal putusin Raisa hari ini,” katanya santai sambil tetap fokus menyetir. Azalea refleks diam sebentar. Namun detik berikutnya ia langsung memalingkan wajah ke jendela. “Gue nggak khawatir,” gumamnya cepat. Carlos melirik sekilas lalu tersenyum tipis seolah tahu Azalea bohong. Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan gedung kampus Azalea. Carlos mematikan mesin mobil lalu menoleh ke arah Azalea. “Sampai nanti di rumah.” Azalea langsung menoleh cepat. Entah kenapa ucapan sederhana itu terasa aneh di telinganya. Kalimat itu membuat dadanya berdebar kecil. Aneh… tapi nyata. Ia merasa seperti benar-benar punya pacar. Bahkan lebih dari itu. Punya seseorang yang menunggu dirinya pulang. Dan perasaan itu diam-diam membuat sudut bibir Azalea terangkat kecil sebelum ia buru-buru turun dari mobil agar Carlos tidak menyadarinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD