Chapter 9

1237 Words
Di dalam kelas, Azalea sama sekali nggak fokus sama pelajaran. Dosen di depan masih ngomong panjang lebar soal materi, tapi otak Azalea malah penuh sama kejadian sejak semalam. Ciuman Carlos. Tatapan matanya. Pelukan itu. Bahkan bagaimana Carlos bikin jantungnya berdebar cuma dengan kata-kata receh. Azalea langsung menunduk sambil menggigit bibir pelan. Dan sialnya… bibirnya masih terasa sedikit panas dan bengkak gara-gara dicium terus tadi pagi. Tanpa sadar jarinya menyentuh bibirnya sendiri. Citra yang duduk di sebelah langsung nengok curiga. “Anjir,” bisiknya pelan. “Habis dicium tawon lo?” Azalea langsung refleks nurunin tangan. “Nggak!” Citra malah makin mendekat sambil nyipit. “Tapi bibir lo aneh.” Azalea langsung salah tingkah. “Apaan sih.” “Lo habis ciuman ya?” BRAK! Azalea spontan menggebrak meja terlalu keras sampai satu kelas langsung nengok ke arahnya. Dosen di depan bahkan berhenti ngomong. Azalea langsung membeku. “Ma-maaf, Pak…” katanya cepat sambil menunduk malu. Beberapa mahasiswa langsung ketawa kecil. Setelah suasana kembali tenang, Azalea buru-buru menoleh ke Citra dengan muka merah padam. “Udah diem!” bisiknya panik. Citra malah melongo nggak percaya. “Anjir beneran?!” bisiknya lebih heboh. Azalea langsung menutup mulut Citra cepat-cepat. “Citra, sumpah jangan ngomong keras-keras!” Citra ngakak pelan sambil narik tangan Azalea. “Siapa?!” bisiknya heboh. “Lo akhirnya punya cowok?!” Wajah Azalea langsung makin merah. Dan itu aja udah cukup jadi jawaban buat Citra. ** Saat kelas akhirnya berakhir, Azalea langsung buru-buru membereskan buku dan laptopnya tanpa banyak bicara. Ia bahkan nggak nunggu dosen benar-benar keluar sebelum berdiri dan berjalan cepat keluar kelas. Namun baru beberapa langkah, Citra langsung ngejar di belakangnya. “Azalea!” Citra narik tas Azalea dari belakang. “Jangan kabur!” Azalea mendecih kecil. “Apaan sih?” Citra langsung jalan di sampingnya sambil senyum heboh. “Siapa cowoknya?” “Nggak ada.” “Plis deh.” Citra menyenggol bahu Azalea. “Kasih tau gue cowok mana yang berhasil runtuhin prinsip lo.” Azalea langsung salah tingkah. “Nggak ada yang runtuh.” “Bullshit.” Citra ketawa kecil. “Lo sampe bengong di kelas kayak orang jatuh cinta.” Azalea langsung mau nyuruh Citra diem ketika tiba-tiba langkah mereka terhenti. Seseorang berdiri tepat di depan Azalea dengan wajah penuh emosi. Raisa, acar Carlos atau lebih tepatnya mantan Carlos. Plak! Tamparan keras langsung mendarat di wajah Azalea. Semua orang di lorong kampus langsung terdiam shock. Citra bahkan langsung melongo nggak percaya. Azalea sendiri menoleh pelan sambil memegang pipinya yang memanas. Raisa menatap Azalea penuh kebencian. “Cewek jalang!” bentaknya keras. “Berani-beraninya lo nikah sama Carlos!” Suasana lorong langsung ramai. “Nikah?” “Carlos Rigel nikah?” “Sama Azalea?” Bisik-bisik mulai terdengar di mana-mana. Semua orang jelas kaget. Carlos Rigel yang terkenal playboy dan gonta-ganti pacar tiba-tiba dirumorkan menikah sama Azalea Frieda, cewek tomboy yang bahkan jarang dandan. Azalea langsung menatap Raisa tajam. “Jangan nyebarin hoax,” katanya dingin. Raisa malah ketawa sinis sambil matanya mulai berkaca-kaca karena marah. “Hoax?” katanya tinggi. “Gue denger sendiri!” Azalea terdiam. “Lo nikah sama Carlos!” bentak Raisa lagi. “Dan sekarang Carlos malah mutusin gue gara-gara lo!” Beberapa mahasiswa mulai heboh sendiri mendengar itu. Azalea awalnya masih mencoba menahan diri. Namun detik berikutnya, ia langsung melangkah mendekat. Plak! Kini gantian Azalea yang menampar Raisa. Suasana langsung makin ricuh. “Lo duluan yang selingkuh,” ucap Azalea tajam. “Kenapa malah nyalahin Carlos?” Raisa langsung melotot nggak terima. “Lo belain dia?!” “Karena lo emang salah!” “Pelakor!” “Murahan!” Dan detik berikutnya Raisa langsung nyerang Azalea duluan sambil narik rambut pendeknya. “WOI WOI WOI!” Citra langsung panik. Azalea yang emang nggak pernah takut ribut langsung bales jambak rambut Raisa. “AWWW LEPASIN!” “LO DULUAN YANG MULAI!” Lorong kampus langsung pecah total. Orang-orang mulai ngeluarin ponsel buat merekam. Ada yang teriak heboh, ada yang coba misahin tapi takut kena. Raisa dan Azalea saling jambak sambil teriak satu sama lain sampai tas dan buku mereka jatuh berantakan ke lantai. ** Kini Azalea dan Raisa duduk berseberangan di ruang dosen dengan kondisi berantakan. Rambut Azalea yang biasanya rapi pendek kini acak-acakan, sementara pipinya masih sedikit merah bekas tamparan tadi. Di sisi lain, makeup Raisa luntur parah sampai maskaranya belepotan di bawah mata. Suasana ruangan terasa tegang. Sementara dosen yang duduk di depan mereka terlihat memijat pelipis frustrasi. “Kalian ini mahasiswa,” ucap beliau lelah. “Bukan anak SMA yang jambak-jambakan di lorong kampus.” Azalea dan Raisa sama-sama diam sambil buang muka. “Sebaiknya kalian berbaikan aja. Damai.” “Nggak mau,” jawab Raisa cepat. “Nggak dulu,” Azalea ikut menjawab di waktu bersamaan. Dosen itu langsung mendesah panjang. “Kalau begini terus,” katanya sambil melepas kacamata, “saya nggak akan sungkan kasih nilai D buat kalian berdua.” Azalea dan Raisa langsung menoleh bersamaan dengan wajah kaget. “Pak?!” Dosen langsung menunjuk keduanya bergantian. “Kalian udah bikin satu kampus heboh.” Beliau lalu menatap Raisa serius. “Apalagi kamu, Raisa. Jangan sembarangan nyebarin hoax seperti itu.” Raisa langsung duduk tegak. “Tapi saya nggak bohong, Pak!” Dosen mengernyit. “Maksud kamu?” Raisa langsung menunjuk Azalea. “Dia nikah sama Carlos Rigel!” Azalea langsung refleks menjawab cepat, “Mana mungkin saya nikah sama cowok playboy kayak Carlos!” Dosen langsung menoleh ke Azalea. Azalea buru-buru melanjutkan dengan wajah paling meyakinkan yang bisa ia buat. “Lagian kami udah kenal dari kecil, Pak.” Azalea mendecih kecil. “Kalau saya mau suka sama dia, harusnya dari dulu udah pacaran kali.” Dosen terlihat mulai berpikir masuk akal. “Benar juga,” gumamnya. Raisa langsung nggak terima. “Tapi saya denger sendiri!” “Denger dari mana?” Azalea langsung nyolot. “Dari Carlos!” Azalea langsung panik sepersekian detik, tapi buru-buru menutupinya dengan mendengus. “Itu paling dia cuma bercanda buat mutusin lo.” “Carlos nggak mungkin bercanda soal nikah!” “Carlos justru paling suka bercanda!” Dosen langsung mengangkat tangan menghentikan mereka sebelum ribut lagi. “Sudah.” Keduanya langsung diam. “Saya nggak peduli kalian ribut karena apa,” lanjut dosen tegas. “Pokoknya masalah ini selesai di sini.” Beliau menunjuk tangan mereka. “Salaman.” Raisa langsung manyun kesal. Azalea juga kelihatan males. Namun begitu dosen mulai melotot, Azalea akhirnya lebih dulu mengulurkan tangan dengan wajah datar. “Damai.” Raisa mendecih kecil sebelum akhirnya menyambut tangan Azalea asal. “Damai,” balasnya ketus. Meski begitu, tatapan mereka masih sama-sama tajam. Jelas banget perang mereka belum benar-benar selesai. Begitu keluar dari ruang dosen, Raisa langsung berjalan pergi lebih dulu dengan wajah kesal sambil terus merapikan rambutnya yang berantakan. Azalea cuma mendengus kecil lalu membungkuk mengambil tasnya sendiri. Belum sempat melangkah jauh, ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Carlos muncul di layar. Azalea langsung mengangkatnya pelan. “Halo?” Suara Carlos terdengar santai dari seberang sana. “Udah selesai berantem sama Raisa?” Langkah Azalea langsung berhenti. “Hah?” Azalea mengernyit bingung. “Lo tau?” Carlos malah terkekeh kecil. “Jelas gue taulah, jadi lo nggak usah khawatir lagi,” jawabnya ringan. Azalea langsung terdiam beberapa detik. Entah kenapa dia nggak nyangka Carlos bakal turun tangan diam-diam tanpa datang ke kampus atau bikin keributan makin besar. Dan anehnya… Hal kecil itu malah bikin da*da Azalea terasa hangat sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD