Carlos makin mendekatkan wajahnya. Tatapannya turun ke bibir Azalea yang langsung membuat Azalea salah tingkah sendiri. Jantungnya mulai nggak karuan. Entah kenapa, dia nggak tahu harus ngomong apa.
Napas Carlos terasa dekat banget. Azalea bahkan tanpa sadar mulai memejamkan mata pelan. Tapi… Bukannya mencium, Carlos malah berhenti.
“Lo belum pernah pacaran sebelumnya, kan?” tanyanya tiba-tiba dengan nada santai.
Azalea langsung buka mata.
Carlos masih menatap dia sambil senyum tipis penuh godaan.
“Berarti…” Carlos mendekat sedikit lagi. “Gue first kiss lo?”
Wajah Azalea langsung merah padam.
Bruk!
Dia langsung mendorong da*da Carlos kuat-kuat.
“Jangan pernah sentuh gue lagi!” bentaknya malu sekaligus kesal.
Carlos malah ketawa kecil melihat reaksinya. Azalea langsung pergi cepat ke kamar mandi sambil menutup pintu cukup keras.
Begitu masuk, dia langsung nyender di wastafel sambil napas buru-buru. Tangannya cepat nyalain air lalu membasuh wajahnya sendiri.
“Sadarlah, Azalea…” gumamnya pelan sambil menatap pantulan dirinya di cermin. “Jangan gampang kebawa!”
Dia menarik napas panjang. “Ini cuma pernikahan kontrak. Dan Carlos itu playboy.”
Sementara di luar, Carlos masih berdiri santai sambil senyum kecil. Entah kenapa dia puas banget ngeledekin Azalea barusan.
“Lucu juga…” gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Carlos langsung ngangkat tanpa lihat layar.
“Ya?”
“Lo serius nikah sama Azalea?!” suara Alex langsung teriak dari seberang telepon.
Carlos langsung menjauhkan ponselnya sebentar. “Anjir, kenceng banget.”
“Jawab dulu!”
Carlos mengernyit. “Dari mana lo tahu?”
Alex langsung ketawa nggak percaya. “Raisa ngamuk-ngamuk di kampus, bro. Dia bilang lo mutusin dia terus nikah sama sahabat kecil lo.”
Carlos mendesah sambil duduk di pinggir sofa. “Ya gimana… gue kemarin emang berantem hebat sama Raisa.”
Alex langsung penasaran. “Serius?”
Carlos nyender malas. “Iya. Dia bilang… kalau dia nggak selingkuh, apa gue bakal nikah sama dia dibanding Azalea.”
“Terus?”
Carlos ketawa kecil. “Nggak lah. Gue dijodohin, mana bisa gue milih pengantin gue sendiri.”
Alex langsung ngakak keras. “Gila… gue masih nggak nyangka lo beneran nikah.”
Carlos cuma senyum tipis sambil melirik pintu kamar mandi tempat Azalea masih ngumpet.
Lalu Alex kembali ngomong dengan nada jahil. “Jadi malam ini lo bakal malam pertama sama Azalea dong?”
Carlos mengangkat alis.
Alex ketawa lagi. “Inget, pelan-pelan. Jangan bikin dia kesakitan.”
Carlos malah terkekeh santai sambil menyandarkan kepala ke sofa.
“Tenang aja,” katanya penuh percaya diri. “Gue paling ahli bikin cewek melayang.”
“Buset.” Alex langsung siulan dari seberang sana. “Selamat ya, bro.”
Carlos cuma tertawa kecil. Lalu mematikan ponselnya.
***
Beberapa saat kemudian, Azalea duduk di atas ranjang dengan piyama panjang berwarna cream. Rambut pendeknya sudah sedikit lembap, sementara tangannya sibuk memegang ponsel sambil pura-pura fokus membaca sesuatu.
Namun tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Carlos keluar dengan hanya handuk melilit di pinggangnya. Rambutnya masih basah, tetesan air turun melewati leher hingga da*da bidangnya yang terbuka begitu saja.
Pria itu memilih duduk santai di sisi ranjang yang membuat Azalea langsung kaku. Sialnya… badan Carlos memang terlalu bagus buat diabaikan.
Perut sixpack itu makin bikin Azalea salah fokus. Ia langsung buru-buru menarik selimut sampai hampir menutupi wajahnya.
“K-kenapa lo nggak pakai baju sih?” protesnya cepat.
Carlos menoleh santai. “Lupa bawa.”
Azalea langsung melotot. “Jangan bercanda!”
Carlos malah kelihatan santai banget sambil mengusap rambutnya pakai handuk kecil.
“Cepet pakai baju atau—”
“Atau apa?” potong Carlos sambil menaikkan alis jahil.
Azalea langsung terdiam.
Carlos malah senyum miring. “Lagian nanti juga dilepas lagi. Ngapain pakai baju segala?”
Bug!
Bantal langsung melayang ke wajah Carlos.
“Gue nggak sudi disentuh sama cowok kayak lo!” bentak Azalea kesal sekaligus malu.
Bantal itu jatuh ke pangkuan Carlos. Namun kali ini Carlos nggak ketawa. Ekspresinya perlahan berubah.
“Cowok kayak gue?” ulangnya pelan.
Azalea langsung sadar ucapannya mungkin keterlaluan. Tapi karena gengsi, ia tetap mengangkat dagu.
“Maksud lo apaan?”
Azalea menggigit bibir bawahnya sebentar sebelum akhirnya bicara pelan.
“Ya… lo kan punya banyak mantan. Banyak gebetan.” Tatapannya mulai turun. “Mungkin buat lo ini hal biasa.”
Carlos diam mendengarkan.
“Tapi buat gue… Ini penting,” suara Azalea mengecil.
Ia meremas ujung selimut pelan.
“Buat gue… kehormatan itu nggak bisa dikasih sembarangan orang.”
Carlos menatap Azalea beberapa detik tanpa bercanda lagi seperti biasanya. Lalu perlahan mendekat dan menyingkap selimut yang menutup tubuh Azalea, menarik kakinya hingga tubuh Azalea mendekat.
Carlos langsung menerkam Azalea dan tepat berada di atas tubuh Azela. Tetesan rambut Carlos mengenai wajah Azalea yang menegang dengan napas yang mulai tersendat.
“Lo ... mau apa?” tanya Azalea panik.
“Azalea,” ucap Carlos pelan.
Jantung Azalea langsung berdebar lagi.
“Kita udah nikah secara hukum dan agama.”
Azalea menelan ludah gugup.
Carlos menatap matanya lekat-lekat, jemarinya mengusap pelipis Azalea dengan pelan.
“Jadi nggak ada lagi yang namanya kehormatan diantara kita.”
Tangan Carlos turun, menyentuh dagu Azalea supaya gadis itu menatapnya.
“Karena mulai malam ini…” bisiknya pelan, “gue suami lo.”
Carlos menatap Azalea beberapa detik tanpa melepas wajah gadis itu. Napas mereka terasa saling bertabrakan dalam jarak yang terlalu dekat.
Dan detik berikutnya, Carlos langsung mencium bibir Azalea. Mata Azalea langsung membesar. Tangannya refleks menepuk da*da Carlos pelan, mencoba menjauh karena terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu.
Namun Carlos menahan tubuhnya, membuat jarak di antara mereka semakin rapat. Ciuman itu awalnya terasa asing bagi Azalea. Jantungnya berdetak sangat cepat sampai membuat kepalanya kosong.
Ciuman itu perlahan turun ke leher Azalea, lembut, hangat dan mendebarkan.
“Ca-carlos…” bisik Azalea pelan di sela napasnya.
Namun Carlos tidak berhenti, jemarinya melepaskan kancing piyama Azalea satu persatu, membuat tubuhnya yang tertutup terekspos dalam sekali tarikan.
Azalea langsung mendorong tubuh Carlos dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kenapa?” tanya Carlos dengan nada kecewa. “Lo mau berhenti?” tanyanya.
Azalea terdiam, seolah bingung dengan apa yang sedang mereka lakukan saat ini.
Carlos menatap tubuh Azalea yang seksi, ini pertama kalinya ia melihat karena selama ini tubuh Azalea selalu tertutup kaos oversizenya. Jemari Carlos menyentuh bibir Azalea, mengusapnya dengan jempolnya.
“Lo belum pernah kan? Gue ... janji bakal bikin lo keenakkan. Tapi ...” jemari itu turun menelusuri leher Azalea, mengusap atas da*danya dengan lembut.
Jantung Azalea berdetak semakin cepat. Ia harusnya menolak, ia harusnya menghentikannya. Tapi, entah kenapa Azalea hanya diam menantikan sesuatu yang mungkin sudah Azalea bayangkan sebelumnya.
Carlos berhenti tepat di tengah-tengah titik sensitif Azaela, menekannya sedikit dan mencubitnya.
“Ahh,” desa*han kecil lolos dari bibir Azalea.
“Kalo lo mau berhenti, bilang aja. Gue nggak akan maksa,” lanjut Carlos. Tanpa menunggu jawaban, ia melepaskan kain terakhir yang menutupi da*da Azalea. Membuatnya mencuat keluar.
Carlos menelan ludahnya dengan susah payah. Baginya mungkin ini bukanlah yang pertama kali. Tapi, sadar siapa yang ada di bawahnya membuat Carlos juga merasakan degup jantung yang tak berarturan.
Tubuh Azalea yang tadinya tegang perlahan mengendur. Matanya menutup pelan, sementara jemarinya tanpa sadar meremas lengan Carlos cukup kuat.