Chapter 6

1170 Words
Perlahan, Carlos mengusap atas d**a Azalea. Menyentuhnya pelan-pelan, menelusuri lekuk tubuhnya. Tubuh Azalea menegang, saat jemari Carlos mulai memutari titik sensitifnya. Azaela bergetar. Air matanya tiba-tiba jatuh begitu saja. Suara isak terdengar dari bibir Azalea membuat Carlos langsung berhenti. Ia menatap Azalea yang menutupi matanya kedua tangannya. Gadis itu terlihat bingung, malu, sekaligus ketakutan dengan dirinya sendiri. Carlos menghela napas panjang pelan. Tangannya perlahan menjauh dari tubuh Azalea, lalu ia duduk di sisi ranjang sambil mengusap wajahnya kasar. Suasana kamar mendadak hening. Carlos melempar selimut untuk menutupi tubuh Azalea. Jemari Azalea gemetar saat memegang ujung selimut. Carlos meliriknya sekilas sebelum akhirnya berkata pelan, “Sorry.” Azalea tidak menjawab. “Gue nggak maksud maksa kok,” lanjut Carlos. Tidak ada nada menggoda atau permainan di sana. Carlos terdengar benar-benar serius. Azalea menggigit bibirnya menahan tangis. Carlos kembali menghela napas lalu berdiri dari ranjang. Ia mengambil jas hitamnya yang tadi dilempar sembarangan ke sofa. Tanpa banyak bicara lagi, Carlos langsung memakainya sambil berjalan menuju pintu kamar hotel. Pintu tertutup pelan. Dan kini hanya tersisa Azalea sendirian di kamar besar itu. Tangisnya akhirnya pecah. Azalea menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil meringkuk di atas ranjang. Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang bahkan ia sendiri tidak mengerti. Ia bingung. Kenapa dirinya jadi seperti ini? Sejak dulu Azalea selalu menjaga jarak dari laki-laki. Ia benci disentuh sembarangan. Bahkan pria yang mencoba mendekatinya saja selalu berhasil ia usir sebelum terlalu dekat. Tapi tadi… saat Carlos mencium dirinya, tubuhnya justru melemah. Ia bahkan membalas ciuman itu. Hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan membiarkan Carlos melepaskan pakaiannya dan menyentuh bagian tubuhnya yang sangat privasi. “Bodoh…” lirih Azalea pelan sambil menangis. Ia menarik napas gemetar lalu memakai pakaiannya lagi. Azalea tahu persis seperti apa Carlos. Playboy. Berpengalaman. Terbiasa membuat perempuan jatuh hati dengan mudah. Dan yang paling menyakitkan Azalea sadar dirinya terlalu menyukai Carlos. Perasaan yang ia simpan diam-diam sejak kecil membuat pertahanannya runtuh begitu saja hanya karena sedikit perhatian dan godaan dari pria itu. Carlos bahkan belum benar-benar serius. Tapi Azalea sudah hampir kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia membenci kenyataan itu. “Menyebalkan…” gumamnya pelan dengan mata yang terus basah. Azalea menatap kosong ke arah pintu kamar yang tadi dilewati Carlos. Entah kenapa, bagian kecil dalam dirinya justru merasa kecewa saat Carlos pergi. Dan hal itu membuat Azalea semakin kesal pada dirinya sendiri. *** Lampu club malam itu berkelap-kelip memenuhi ruangan dengan suara musik keras yang memekakkan telinga. Carlos duduk di depan bar dengan wajah kusut sambil memutar botol bir di tangannya. Sekali teguk. Bir itu langsung habis. Carlos menghembuskan napas kasar sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi tinggi. Kepalanya dipenuhi bayangan Azalea beberapa menit lalu. Wajahnya yang menangis. Tubuhnya yang gemetar. Dan bagaimana Azalea tetap membalas ciumannya meski terlihat takut. Carlos mengusap wajahnya frustrasi. “Kenapa gue malah berhenti?” gumamnya pelan. Ia mengacak rambutnya sendiri kasar. Harusnya itu gampang. Selama ini nggak pernah ada masalah buat dia. Perempuan datang dan pergi begitu saja. Nggak pernah ada yang bikin dia mikir dua kali. Tapi Azalea berbeda. Dan itu justru bikin Carlos kesal. “Hanya karena dia nangis?” Carlos tertawa kecil tanpa humor. “Gila.” Ia memesan bir lagi lalu langsung meminumnya cepat seolah mencoba membuang semua pikirannya. Carlos nggak mau terlalu memikirkan itu. Ini cuma efek karena mereka baru menikah. Karena Azalea terlalu lugu. Karena dia belum terbiasa disentuh pria. Cuma itu. “Nggak usah dibikin ribet,” gumamnya sendiri. Di saat itu, seorang wanita dengan dress hitam ketat mendekat lalu duduk di kursi sebelah Carlos. Aroma parfum manis langsung tercium samar. “Tumben sendirian?” tanyanya sambil tersenyum genit. Carlos melirik sekilas tanpa minat. Wanita itu tetap tersenyum lalu menyentuh pelan lengan Carlos. “Dari tadi keliatan kesal banget. Kenapa sayang?” Carlos diam beberapa detik. Lalu tanpa peringatan, ia menarik tengkuk wanita itu dan langsung mencium bibirnya. Wanita itu sempat terkejut kecil, tapi detik berikutnya langsung membalas ciuman Carlos dengan antusias. Tangan wanita itu naik memegang pundak Carlos, sementara musik club terus berdentum di sekitar mereka. Namun anehnya… Carlos tidak merasakan apa-apa. Tidak ada debar aneh seperti saat mencium Azalea. Tidak ada rasa gugup. Tidak ada perasaan hangat yang membuat pikirannya kacau. Semuanya terasa biasa. Carlos perlahan membuka matanya di tengah ciuman itu. Dan sialnya… Yang muncul di kepalanya justru wajah Azalea lagi. Carlos langsung menghentikan ciuman itu mendadak. Wanita di depannya terlihat bingung. “Hey, kenapa?” Carlos menghembuskan napas kasar lalu menjauh sedikit. “Nggak jadi,” gumamnya pendek. Ia mengambil dompetnya lalu melempar beberapa lembar uang ke meja bar. Wanita itu langsung meraih lengan Carlos saat pria itu hendak pergi. “Hey, jangan pergi gitu aja,” rengeknya sambil mencoba menarik tubuh Carlos kembali mendekat. Namun Carlos yang sudah setengah mabuk justru terlihat makin kesal. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya berubah dingin. “Lepas,” katanya rendah. Wanita itu masih mencoba tersenyum genit. “Kan tadi masih—” Carlos tiba-tiba mengangkat tangannya seolah ingin melayangkan pukulan ke wanita itu. Gerakannya membuat wanita tersebut langsung terkejut dan mundur refleks. “Aaa!” pekiknya ketakutan. Carlos berhenti tepat sebelum tangannya mengenai apa pun. Napasnya kasar. Tatapannya tajam penuh emosi yang bahkan ia sendiri tidak mengerti. “Jangan bikin gue kesel,” ucapnya dingin. Suasana di sekitar mereka langsung terasa canggung. Carlos mengusap wajahnya frustrasi lalu berjalan keluar dari club malam itu. *** Esok paginya, Azalea sama sekali tidak bisa tidur. Semalaman pikirannya kacau memikirkan kejadian tadi malam dan kepergian Carlos yang belum juga kembali. Dengan wajah lelah, Azalea akhirnya mengganti piyamanya dengan kaos oversize serta celana panjang santai. Ia berniat pulang ke rumah karena merasa sesak berada di hotel sendirian. Namun langkahnya langsung terhenti begitu sampai di depan lobby hotel. Mobil Carlos terparkir tidak jauh dari sana dalam keadaan pintu sedikit terbuka. Azalea mengernyit bingung lalu mendekat perlahan. Dan di sana… Carlos tertidur di kursi kemudi dengan kepala bersandar ke jendela. Kemejanya masih kusut seperti semalam, sementara wajahnya terlihat lelah. Begitu Azalea mendekat, aroma alkohol langsung tercium kuat. “Carlos…” Azalea mengetuk pelan kaca mobil. Carlos bergerak kecil lalu perlahan membuka matanya. Tatapannya masih kosong beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok Azalea di depannya. Carlos langsung terlihat terkejut. “Azalea?” suaranya serak karena baru bangun. Azalea menghela napas panjang, “Kenapa tidur di sini sih?” tanyanya pelan. Carlos mengusap wajahnya kasar lalu duduk lebih tegak. Rambutnya berantakan, sementara matanya masih terlihat lelah akibat alkohol semalam. “Ketiduran aja,” jawabnya singkat. Azalea menatap Carlos beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu samping lalu masuk ke kursi penumpang. Carlos langsung meliriknya bingung. Azalea akhirnya bicara tanpa menatap Carlos. “Sorry.” Carlos mengernyit kecil. “Harusnya gue nggak nangis cengeng kayak gitu semalam.” Carlos langsung menoleh penuh kebingungan. “Maksud lo?” tanyanya pelan. Azalea menggigit bibir bawahnya sebentar lalu menunduk. “Gue cuma… kaget aja.” Suaranya mengecil. “Lo pasti jadi ngerasa gue aneh.” Carlos diam memperhatikan wajah Azalea yang terlihat malu sendiri. “Jadi ... lo nggak keberatan?” tanya Carlos penasaran. Azalea menoleh menatap dengan mulut yang terbuka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD