Gunawan tidak tahu ada apa, kenapa tiba-tiba putranya ini datang menemui di rumah juga menyebut suku cadang. Tak biasanya Awan datang menemuinya kemari tanpa telepon terlebih dulu. Tapi, tidak telepon pun juga tak masalah karena rumah ini masih terbuka lebar untuk Awan juga saudara Awan lainnya. "Awan, kamu duduk dulu," tukas Gunawan tenang tanpa berpikiran negatif sedikit pun pada putranya ini. Awan kemudian duduk di sofa ruang tengah. Ia baru saja mengikuti Gunawan berjalan ke sana yang kemudian duduk di sampingnya. "Ada apa kamu datang ke sini, apa kamu ingin kembali tinggal di sini menemani Ayah? Senang sekali rasanya bila begitu." Awan menggelengkan kepala. "Bukan, Ayah. Ada sesuatu yang sangat penting sekali ingin kubahas denganmu." Muka Awan masih terlihat serius seperti per

