BAB 4

2047 Words
Sebenarnya Aurelie masih sangat penasaran dengan laki-laki bernama Arata Kurokawa itu. Sampai sekarang ia belum berhasil menemukan jawaban atas rasa penasarannya yang duiu. Ia baru bermaksud melupakan masalah itu sebelum ia sendiri menjadi gila karena memikirkannya terus-menerus, namun kini bertambah satu hal lagi yang membuatnya penasaran. Aurelie ingin memastikan. Oh ya, ia punya janji makan siang dengan Julien hari ini. Ia bisa bertanya pada Julien. Aurelie mengangguk-angguk dan berdiri dengan susah payah karena kakinya mulai kesemutan. Tiba-tiba ia mendengar bunyi ponsel. Ia berjalan tertatih-tatih ke kamar tidurnya dan mengambil ponsel yang tergeletak di tempat tidur. Ia menatap layar ponsel dan tersenyum. “Allo, Julien,” katanya begitu ia menempelkan ponsel ke telinga. Ia mengempaskan dirinya ke tempat tidur dan memijat-mijat kakinya. “Aku baru saja berpikir akan meneleponmu.” “Aurelie, maaf,” sela Julien di ujung sana. “Hari ini aku tidak bisa makan siang denganmu.” Senyum Aurelie memudar dan ia mendesis kesal. “Ada apa?” tanya Julien polos. “Tidak apa-apa. Kakiku kesemutan,” sahut Aurelie ketus. “Kenapa tidak bisa makan siang? Kau ada kencan dengan gadis yang baru kaukenal lima beias menit yang lalu?” Julien terkekeh. “Tidak, ya, dan tidak,” jawabnya asal-asalan. “Apa?” “Tidak, itu bukan kencan. Ya, aku akan menemui seorang wanita. Tidak, dia bukan orang yang baru kutemui lima belas menit yang lalu,” jelas Julien dengan nada bercanda. Aurelie mendesah kesal. “Julien...” “Baiklah,” potong Julien. “Aku harus pergi ke Nice untuk menemui kepala proyek kami. Ada masalah yang harus segera ditangani. Ngomong-ngomong, kepala proyek kami itu wanita dan aku sudah mengenalnya sejak tiga tahun lalu.” “Kapan kau kembali?” “Mmm... belum pasti. Mungkin besok, mungkin lusa. Tergantung masalah yang harus diselesaikan. Aku akan meneleponmu begitu aku kembali. Oke?” “Oke,” sahut Aurelie, tidak ada pilihan lain. Tiba-tiba ia teringat, “Oh ya, Julien.” “Hmm ...” “Temanmu yang dari Jepang itu—Arata Kurokawa—yang kaukenalkan padaku sekitar dua minggu yang lalu ...” “Mm, kenapa?” “Kau pernah mengusulkan mengirimkan ceritanya ke acara stasiun radio kami. Kau ingat?” Julien terdiam sejenak, berpikir. “Oh, benar. Aku ingat. Lalu?” “Apa kau tahu dia sudah mengirimkannya atau belum? Atau kau sudah tahu cerita lengkapnya?” “Tidak, aku tidak tahu. Dia tidak mau menceritakannya padaku. Katanya aku pasti akan menertawakannya.” Aurelie tertawa kecil. “Kau memang senang menertawakan orang.” “Kenapa tiba-tiba bertanya tentang dia?” “Aku sedang mendengarkan siaran Camille tadi dan dia membacakan surat yang menarik. Aku hanya ingin memastikan itu cerita temanmu atau bukan. Aku benar-benar penasaran. Bisa kautanyakan kepadanya?” “Aku tidak keberatan bertanya padanya. Hanya saja orangnya sedang tidak ada di sini. Dia sudah pulang ke Tokyo.” “Oh? Kapan?” “Mmm ... sehari setelah kita bertemu dengannya,” sahut Julien. “Kita bertemu hari Jumat, bukan? Besoknya dia langsung pulang ke Tokyo.” “Oh?” “Tapi dia akan kembali. Dia pulang ke Tokyo untuk membereskan semua pekerjaannya sebelum memfokuskan perhatiannya untuk proyek kami ini. Dengar-dengar dia akan kembali sebentar lagi. Dalam minggu-minggu ini, kurasa,” Julien menjelaskan, lalu melanjutkan dengan nada bergurau, “Kau tenang saja. Akan kutanyakan padanya begitu dia kembali ke sini. Aku tahu kau tidak boleh dibiarkan penasaran. Kalau tidak, orang-orang di sekitarmu bisa terluka.” Aurelie tersenyum. “Telepon aku kalau kau sudah kembali dari Nice. Semoga tidak ada masalah gawat di sana.” Aurelie mematikan ponsel dan menghela napas. Sejak aktif seratus persen di perusahaan ayahnya, Julien terlalu sibuk. Kadang-kadang Aurelie merindukan masa lalu, saat Julien masih mahasiswa arsitektur yang punya banyak waktu luang. Walaupun selalu dikelilingi gadis-gadis dan gonta-ganti pacar, Julien juga selalu menyediakan waktu untuk Aurelie, selalu ada kalau Aurelie membutuhkannya, selalu siap menemani dan menghiburnya. Aurelie tahu benar sikap Julien terhadapnya sama dengan terhadap gadis-gadis lain, tapi hal itu tidak mencegahnya menyukai laki-laki itu. Aurelie berpikir-pikir. Ia sedang tidak ingin makan siang sendiri hari ini, tapi Julien tidak bisa menemaninya. Siapa lagi ya? “Ah, benar juga. Papa. serunya pelan. Ia memencet nomor telepon ayahnya dan menempelkan ponsel ke telinga. “Allo, Papa?” katanya begitu hubungan tersambung. “Ada waktu sekarang? ... Bisa makan siang bersama? ... Kenapa? ... Papa sedang bersama siapa? Dengan wanita yang mana? Masih sama dengan yang minggu lalu atau sudah yang baru? ... Astaga! Papa, berhentilah bermain-main ... Tidak, tidak usah. Mm ... Sampai ketemu makan malam nanti. Daah.” Aurelie memutuskan hubungan dan mendecakkan lidah. Kenapa ia dikelilingi pria mata keranjang? Papa sama saja dengan Julien. Itulah salah satu sebab Mama bercerai dari Papa. Aurelie akui, ayahnya memang bukan suami yang baik, tapi ia ayah yang baik. Ayah paling baik sedunia. Aurelie juga yakin, di antara semua wanita yang ada di bumi, dirinyalah yang paling berharga bagi ayahnya. Aurelie mendecakkan lidah sekali lagi. “Masa aku harus makan sendiri?” tanyanya pada diri sendiri. Ia memberengut, lalu mendesah berlebihan, dan menggerutu, “Apa boleh buat?” *** Karena satu jam lagi ia harus siaran, Aurelie memilih makan siang di brasserie* yang paling dekat ke stasiun radio, sehingga ia tidak perlu buru-buru mengejar waktu siaran. Ia memilih meja kosong di pojok dan memandang berkeliling mencari pelayan. Ia mengangkat sebelah tangan ke arah pelayan yang sedang berjalan ke meja dekat pintu. Ternyata si pelayan sedang mengantarkan pesanan laki-laki berambut hitam yang menempati meja di sana. Aurelie mengerjapkan mata. Sepertinya ia pernah melihat orang itu. Karena sibuk mengamati si laki-laki berambut hitam, Aurelie tidak menyadari pelayan lain menghampiri mejanya dan menanyakan pesanan. Tiba-tiba Aurelie ingat. Arata Kurokawa! Laki-laki itu Arata Kurokawa! Ia melompat berdiri dan nyaris menabrak pelayan yang berdiri di dekatnya. “Maaf,” kata Aurelie buru-buru setelah si pelayan mundur selangkah karena terkejut. “Saya ingin menyapa teman saya dulu di sana.” Pelayan itu mengangguk acuh tak acuh dan pergi. Aurelie segera menghampiri meja Arata. “Permisi,” katanya agak ragu. Laki-laki itu mengangkat wajah dan menatapnya dengan bingung. “Ya?” Karena itulah Aurelie memasang “kuda-kuda”—nya dengan menyunggingkan senyum ramah. “Arata Kurokawa, bukan?” tanyanya. “Benar, saya sendiri,” jawab Arata. Raut wajahnya masih tidak menunjukkan ekspresi apa pun. “Masih ingat padaku?” tanya Aurelie hati-hati, takut laki-laki itu tidak mengenalinya. Kalau itu sampai terjadi ia berharap ia punya rencana cadangan. “Aku Aurelie Rousseau, teman Julien Fountaine. Kita pernah bertemu sekitar dua minggu yang lalu.” Arata masih terlihat bingung sesaat, lalu wajahnya berubah cerah. “Oh, benar, Aurelie,” katanya sambil tersenyum lebar. “Apa kabar?” Aurelie lega laki-laki itu masih mengingatnya. Ia menjabat tangan Arata yang terulur. Kali ini ia menyadari jabatan tangan Arata tegas, sama seperti Julien. Aurelie suka itu. Ia juga baru menyadari laki-laki itu punya lesung pipi yang membuat senyumannya terlihat hangat dan bersahabat. “Makan siang sendirian? Atau sedang menunggu seseorang?” tanya Aurelie setelah menarik kembali tangannya. Arata menggeleng. “Tidak, aku memang sendirian. Bagaimana denganmu?” Aurelie menyunggingkan senyum termanisnya. “Aku juga sendirian.” “Kalau begitu, silakan bergabung saja denganku,” Arata menawarkan sambil menunjuk kursi di hadapannya. “Terima kasih,” sahut Aurelie dan menerima ajakannya dengan senang hati karena itulah yang ia harapkan. Ia sedang benar-benar tidak ingin makan sendirian. “Aku baru saja datang ketika melihatmu. Jadi kuputuskan untuk menyapamu karena sewaktu pertama kali bertemu kita belum sempat bicara banyak.” “Tidak apa-apa,” kata Arata. Ia mengangkat sebelah tangan untuk memanggil pelayan. Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. Aurelie menyebutkan pesanannya dan pelayan itu pun berlalu. “Kata Julien kau sudah pulang ke Tokyo,” kata Aurelie sambil merapikan rambut pendeknya dengan sebelah tangan. Gerakan yang sudah menjadi kebiasaannya bila berhadapan dengan laki-laki yang menarik baginya. Arata mengangguk. “Memang benar, tapi kemarin aku kembali lagi ke sini. Aku pulang ke Tokyo hanya untuk mengurus pekerjaanku yang tertinggal,” jelasnya. “Ngomong-ngomong, ada yang ingin kutanyakan,” kata Aurelie ketika teringat surat yang dibacakan Camille saat siaran tadi. “Apakah kau menulis surat ke stasiun radio kami?” Arata mengangkat alisnya. “Kalian sudah menerimanya?” Aurelie tertawa. “Sudah kuduga! Kuroara itu kau?” Arata tersenyum malu dan berkata, “Aku tidak pandai bercerita, tapi Julien berhasil membujukku. Cerita yang konyol, bukan?” Aurelie cepat-cepat menggeleng. “Tidak, ceritamu bagus. Temanku malah sudah membacakan-nya saat siaran hari ini. Aku penasaran sekali karena nama Kuroara kedengarannya tidak asing.” “Kalau tidak salah, kau sendiri juga penyiar, bukan?” “Benar,” sahut Aurelie ringan. “Kau menikmati pekerjaanmu?” Aurelie mengangguk tegas, lalu tersenyum. “Kata Julien, menjadi penyiar radio memang cocok untukku karena aku ini cerewet sekali.” “Sepertinya Julien memang benar,” ujar Arata. “Lalu bagaimana?” “Bagaimana apa?” Saat itu pelayan datang mengantarkan pesanan Aurelie. Aurelie mengucapkan terima kasih dan setelah pelayan itu pergi, ia kembali menatap laki-laki di hadapannya. “Kau ingin mencari gadis itu?” tanya Aurelie langsung. Arata tertawa. “Tidak.” “Tidak?” Aurelie mengerutkan kening. Itu bukan jawaban yang diharapkannya. “Tidak.” “Kenapa?” “Kenapa harus?” “Lalu apa rencanamu?” “Tidak ada rencana apa-apa.” “Aneh.” “Tidak aneh.” Aurelie menatap Arata dengan mata disipitkan. Arata balas menatapnya sambil tersenyum. Laki-Iaki itu punya senyum yang menular. Begitu melihat senyumnya, Aurelie tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. “Biarkan aku bertanya satu hal,” kata Aurelie sambil mengangkat jari telunjuknya. “Rupanya kau penasaran sekali dengan ceritaku,” kata Arata sambil menunduk dan menyantap makanannya. “Aku memang mudah penasaran. Itu salah satu kelemahanku,” ujar Aurelie riang, seakan ia sendiri tidak menganggap hal itu suatu kelemahan. “Kata Julien aku bisa berbahaya bagi umum kalau aku sedang penasaran.” “Aku yakin Julien benar.” “Asal kau tahu saja, kau benar-benar membuatku penasaran. Maka dari itu, jawab saja pertanyaanku. Setelah itu aku tidak akan bertanya-tanya lagi,” Aurelie berjanji dan memasang wajah bersungguh-sungguh, walaupun ia sendiri tahu ia takkan bisa berhenti bertanya. Arata menatapnya sejenak, lalu menyerah. “Baiklah. Tanya saja.” Aurelie menumpukan kedua siku di meja dan mencondongkan tubuh ke depan. “Kau ingin bertemu gadis itu lagi?” Arata mengangkat alisnya, berpikir-pikir, lalu menunduk dan kembali menyantap makanannya. “Tentu saja.” “Tapi kau tidak mau mencarinya?” desak Aurelie. Arata tersenyum. “Tadi kau bilang hanya akan menanyakan satu pertanyaan.” Aurelie mengembuskan napas dengan keras. Baiklah, sepertinya ia sungguh-sungguh harus menekan rasa penasarannya. Sebagai gantinya mereka mengobrol tentang hal lain sepanjang makan siang dan Aurelie merasa Arata Kurokawa adalah teman mengobrol yang menyenangkan. Mengobrol dengannya serasa mengobrol dengan teman lama. Mereka tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Meskipun begitu, tetap saja Aurelie tidak bisa menghilangkan perasaan mengganggu bahwa ada sesuatu pada Arata yang membuatnya bingung. “Ada rencana khusus akhir pekan ini?” tanya Aurelie setelah mereka membayar makanan dan keluar dari brasserie. Aurelie ngotot membayar makanannya sendiri sementara Arata bersikeras mentraktirnya. Setelah melalui adu mulut yang cukup seru, Arata mengalah. “Aku berencana akan berkeliling kota. Aku sudah berkali-kali datang ke Paris, tapi sama sekali belum sempat melihat-lihat,” jelas Arata, lalu ia menoleh ke arah Aurelie. “Kau mau menjadi pemanduku?” Aurelie tersenyum. “Tidak masalah.” Ia sama sekali tidak keberatan menemani Arata. Ia merasa nyaman dan senang bersama laki-laki itu. Ditambah lagi, Aurelie sangat penasaran dengan Arata. Ia ingin tahu lebih banyak, ingin mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya sejak mereka bertemu pertama kali. “Kalau begitu, besok jam sepuluh pagi kita bertemu di sini,” kata Arata. “Oke,” jawab Aurelie tanpa berpikir. “Oh, ajak Julien juga,” tambah Arata. “Tapi Julien sedang ada di Nice. Aku tidak tahu kapan dia akan pulang,” sahut Aurelie. Arata berpikir-pikir, lalu mengangkat bahu. “Ya sudah. Tidak apa-apa. Jadi, sampai ketemu besok jam sepuluh.” “Oke.” Arata melambai dan berjalan pergi. Aurelie menatap kepergiannya sesaat, lalu mengerjap-ngerjapkan mata. “Tadi dia bilang jam berapa?” gumamnya pada diri sendiri, lalu terbelalak. “Jam sepuluh? Pagi? Besok? Besok itu hari apa? Minggu? Benar, Minggu. Astaga! Kenapa aku setuju bertemu jam sepuluh pagi? Ah, kacau!” Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mengerang kesal, mengentakkan kaki, lalu membalikkan tubuh dan berjalan pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD