BAB 2

1150 Words
“Julien, apa kabar? Senang bertemu lagi,” sapa Arata dengan nada gembira. Bahasa Prancis-nya lancar, tidak terdengar logat asing sedikit pun. Julien berdiri, merangkul dan menepuk punggung temannya. “Aku juga senang bertemu denganmu lagi.” Aurelie menatap Arata Kurokawa tanpa mengalihkan pandangan. Ia mencatat setiap detail. Usianya tampak sebaya dengan Julien, akhir dua puluhan. Tubuhnya jangkung, hampir sama tinggi dengan Julien, hanya lebih kurus. Rambut hitam agak panjang, rapi, bergaya, mungkin mengikuti tren populer di Jepang. Wajah Arata proporsional. Mata kecil, hidung mancung, dagu kecil. Penampilannya menyenangkan. Aurelie memberi skor tujuh setengah dalam pikirannya. Namun ada sesuatu yang janggal. Ia mengerutkan kening. Ia yakin tidak pernah bertemu Arata, tetapi ada kesan seolah mengenalnya. Perasaan itu muncul kuat, seakan ada bagian dari diri Arata yang pernah ia lihat. Ia mencoba mengingat wajah-wajah yang pernah ditemui. Tidak ada yang cocok. Namun rasa tidak asing itu bertahan. Aurelie mulai bertanya-tanya apakah Arata punya hubungan dengan Julien atau seseorang dari lingkaran mereka. “Kenalkan, ini temanku, Aurelie Rousseau.” Aurelie mengalihkan pandangan. Julien menatapnya. “Aurelie, ini Arata Kurokawa,” lanjut Julien. “Teman baikku dari Jepang.” Aurelie memaksakan senyum, menyambut uluran tangan Arata. “Halo,” sapanya pendek. Ia tidak berniat berbasa-basi. “Panggil aku Arata saja,” kata Arata. Ia tersenyum lebar, sedikit membungkuk. “Senang berkenalan denganmu, Aurelie.” Alis Aurelie terangkat. Nilai Arata naik menjadi delapan. Ia suka cara pria itu mengucapkan namanya. Tidak seperti orang Prancis yang membuat bunyi ‘r’ terdengar aneh. Selama ini hanya keluarganya di Indonesia yang bisa mengucapkan namanya dengan tepat. Mendengar seorang pria Jepang melafalkannya benar membuat Aurelie merasa dihargai. Julien sibuk berbincang dengan Arata. Mereka bertukar sapa ramah, seolah sudah lama kenal. Aurelie berdiri di samping, tidak ikut campur, tetapi pikirannya berputar. Ia mencoba mencari tahu apa yang membuat Arata terasa tidak asing. Wajah itu baru pertama kali ia lihat, namun ada sesuatu yang membuatnya seolah pernah berhadapan dengan sosok serupa. Aurelie tidak suka perasaan seperti ini. Rasa penasaran bisa menjadi gangguan. Pertemuan pertama dengan Arata cukup untuk menimbulkan rasa ingin tahu yang kuat. Ia menatap Arata lebih lama, berharap menemukan petunjuk. Namun semakin ia mencoba, semakin besar rasa penasarannya. “Kuharap aku tidak mengganggu acara kalian,” kata Arata, membuyarkan lamunan Aurelie. “Tidak, tidak,” sahut Julien cepat. “Kau tidak tersesat kan? Bistro ini memang agak terpencil.” Arata menggeleng. “Sopir taksiku hebat,” katanya sambil tersenyum. “Duduklah. Kau sudah makan?” lanjut Julien. “Kuharap kau tidak keberatan makan makanan Indonesia. Aurelie ini penggemar fanatik sate kambing.” “Oh ya?” tanya Arata sambil melepaskan jaket cokelat dan menyampirkannya ke kursi. “Aku bersedia mencoba makanan apa pun. Aku bukan orang yang pemilih soal makanan.” Aurelie tersenyum tipis. Nilai Arata naik menjadi delapan setengah. Ia mencatat sikap sederhana itu. Ia lebih mudah bergaul dengan orang yang tidak ribet. Pelayan datang membawa menu. Julien langsung menunjuk beberapa hidangan. “Sate kambing untuk Aurelie, nasi goreng untukku, dan mie goreng untuk Arata.” “Dia juga penyiar radio,” Julien melanjutkan, seolah membanggakan Aurelie. Ia menjentikkan jari, menatap Aurelie. “Kalian punya acara yang membacakan surat dari pendengar, kan?” Aurelie tidak menyahut, hanya mengangguk acuh. Julien menoleh ke Arata, menepuk bahunya. “Dengar, bukankah kau punya cerita bagus? Kau bisa menulis surat ke acara itu.” Arata tertawa kecil, menggeleng. “Apa? Cerita apa?” tanya Aurelie. Julien berhasil membangkitkan rasa penasarannya. Ia menumpukan tangan di meja, mencondongkan tubuh. “Dia belum menjelaskan detailnya, tapi tadi ketika meneleponku, katanya bertemu gadis Prancis yang membuatnya terpesona,” sahut Julien. “Begitu datang dari Jepang langsung tertarik dengan gadis Prancis.” Arata tersenyum malu. “Dia melebih-lebihkan,” katanya pada Aurelie. “Aku tidak bilang begitu.” “Jangan hiraukan Julien,” sahut Aurelie tanpa memandang Julien. “Kalau kau punya cerita menarik, tulis surat ke acara kami. Siapa tahu kami membacakannya saat siaran.” “Akan kupikirkan,” kata Arata. Pelayan kembali dengan hidangan. Aroma sate kambing memenuhi meja. Aurelie langsung mengambil satu tusuk, mencelupkan ke bumbu, lalu menggigit. Julien menatapnya sambil tersenyum. “Kau tidak pernah berubah. Selalu antusias kalau makan sate.” Aurelie mendengus. “Tentu saja. Ini makanan favoritku.” Arata mencoba mie gorengnya. “Lumayan enak,” komentarnya singkat. Percakapan berlanjut ringan. Julien menceritakan proyek hotel yang sedang ia tangani bersama ayahnya. Arata menambahkan detail tentang keterlibatan perusahaan Jepang. Aurelie mendengarkan, sesekali menyela dengan pertanyaan singkat. “Bagaimana kabar ayahmu?” tanya Aurelie pada Julien. “Sudah sehat. Dia sempat jatuh pingsan di Tokyo, tapi sekarang baik-baik saja.” Aurelie mengangguk. “Syukurlah.” Arata menatap Aurelie. “Kau sudah lama di Paris?” “Sejak enam belas tahun. Aku pindah dari Jakarta setelah orangtuaku bercerai.” Arata mengangguk, tampak memahami. “Aku juga anak tunggal. Orangtuaku bercerai ketika aku masih kecil.” Aurelie menatapnya lebih lama. Rasa tidak asing itu muncul lagi. Ia tidak tahu kenapa, tapi ada sesuatu yang membuatnya ingin tahu lebih banyak tentang Arata. Julien menyadari Aurelie mulai diam. “Hei, jangan terlalu serius. Kita sedang makan malam.” Aurelie menghela napas. “Aku hanya lelah.” Julien tertawa kecil. “Kau selalu bilang begitu.” Aurelie merogoh tas, mengeluarkan ponsel. Ia menatap layar kosong. “Maaf, aku tidak bisa tinggal lebih lama. Ada urusan mendadak. Aku harus pulang sekarang.” “Kenapa buru-buru?” tanya Julien. Aurelie mengenakan jaket dan syal. “Aku akan meneleponmu lagi nanti.” Ia menoleh ke Arata, mengulurkan tangan, tersenyum singkat. “Senang berkenalan denganmu. Maaf tidak bisa mengobrol lebih lama. Mungkin lain kali.” Arata menyambut uluran tangannya, tersenyum. “Tidak apa-apa. Sampai jumpa.” “Sampai jumpa.” Aurelie merangkul Julien, menempelkan pipinya sebentar, lalu melambai kepada Arata dan keluar dari restoran. *** Udara malam Paris dingin. Aurelie berjalan cepat ke arah mobilnya. Ia menyalakan mesin, duduk sebentar, menatap ponsel. Tidak ada pesan. Ia menghela napas, lalu melajukan mobil. Dalam perjalanan, pikirannya sibuk. Ia kesal karena Julien mengajak orang lain. Ia ingin waktu berdua. Ia juga penasaran dengan Arata. Rasa tidak asing itu mengganggu. Sesampainya di apartemen, ia memarkir mobil, masuk ke lobi. Petugas keamanan menyapanya, ia hanya mengangguk. Lift membawanya ke lantai delapan. Ia masuk ke unitnya, menyalakan lampu, meletakkan tas di sofa. Ia membuka kulkas, mengambil air, duduk di kursi makan. Aurelie bangkit dari kursi makan di apartemennya, berjalan ke balkon. Angin malam masuk, menusuk kulit. Lampu kota Paris berkilau, jalanan masih ramai. Ia bersandar di pagar balkon, menatap jauh. Ponsel di tangannya tetap diam. Tidak ada pesan dari Julien. Tidak ada panggilan. Ia menghela napas panjang. Pikirannya kembali ke bistro tadi. Julien tampak senang sekali bertemu Arata. Aurelie merasa tersisih. Ia ingin waktu berdua dengan Julien, tapi malah harus berbagi dengan orang asing. Arata sendiri tidak terlihat menyebalkan. Justru sebaliknya, ia sopan, ramah, dan cepat beradaptasi. Aurelie mengakui itu. Namun rasa tidak asing yang muncul membuatnya gelisah. Ia tidak tahu kenapa wajah Arata terasa familiar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD