Ruangan siaran sudah kosong sejak satu jam lalu. Lampu-lampu padam, hanya satu yang masih menyala di sudut dekat jendela. Di meja itu, Aurelie Rousseau duduk bersandar, kedua tangan terlipat di depan d**a. Matanya tajam menatap ponsel mungil dengan gantungan warna-warni yang tergeletak di meja. Bibirnya tergigit, kesal. Ponsel itu diam saja. Tidak berdering, tidak bergetar, tidak ada tanda kehidupan.
Ia memutar kursi ke arah jendela besar. Dari atas, mobil-mobil melintas di jalan raya Paris. Langit gelap, lampu kota berpendar. Aurelie melirik jam tangan. Sudah lewat jam tujuh. Ia menghela napas, lalu kembali memutar kursi ke meja.
“Ke mana saja kau?” gumamnya sambil mengetuk ponsel dengan kuku biru.
“Bicara dengan ponsel?”
Aurelie menoleh. Camille Monet baru masuk, tersenyum. Rambut pirang sebahu, mata hijau, wajah bertabur freckles. Usianya 29, lebih tua beberapa tahun dari Aurelie, tapi tubuh kecil dan wajah awet muda sering membuat orang salah sangka. Camille tidak selalu senang dengan itu.
“Sudah selesai siaran?” tanya Aurelie, mencondongkan tubuh, bertopang dagu.
Camille mengangguk, berjalan ke mejanya di depan Aurelie. “Bukankah kau selesai siaran sejak satu setengah jam lalu?” tanyanya sambil melirik jam dinding.
Aurelie mendesah. “Memang.” Ia menunduk, kening menempel di meja, lalu mendesah lagi.
Mereka berdua penyiar di stasiun radio populer Paris. Camille membawakan acara Je me souviens, membacakan surat pendengar. Aurelie membawakan program lagu populer dan tangga lagu mingguan.
“Hei, kenapa lesu begitu?” Camille mengetuk kepala Aurelie dengan bolpoin. “Bukankah biasanya kau paling suka hari Jumat?”
Aurelie mengangkat kepala, tersenyum muram. Jumat biasanya berarti akhir pekan, tapi kali ini berbeda.
“Ooh, aku mengerti,” kata Camille, tersenyum. “Belum menelepon rupanya.”
Aurelie menggigit bibir, mengangguk lemah. Ia melirik ponsel lagi, lalu mendengus. Diraihnya ponsel itu, dilempar ke dalam tas. “Lupakan saja. Camille, ayo pulang. Duduk mengasihani diri sendiri tidak ada gunanya.”
Camille mengangkat alis. “Yang mengasihani diri sendiri itu siapa?”
***
Lima belas menit kemudian, mereka berdiri di lift kaca, turun ke lantai dasar. Aurelie membelakangi pintu, menatap keluar. Kota Paris malam hari terbentang.
Pikirannya melayang. Sejak perceraian orangtuanya dua belas tahun lalu, ia sempat tinggal di Jakarta bersama ibunya. Saat enam belas, ia pindah ke Paris bersama ayahnya. Paris menjadi rumahnya sejak itu.
Denting halus menandakan lift tiba. Aurelie keluar, melambaikan tangan pada Camille. Mobilnya terparkir di luar gedung, sementara mobil Camille di basement. Aurelie jarang membawa mobil, lebih sering naik Metro*. Tapi hujan deras pagi tadi membuatnya memilih mobil.
Ia menunggu pintu lift menutup, lalu berbalik. Di lobi, seorang pria berdiri dekat resepsionis. Aurelie menahan napas sejenak, lalu melangkah cepat, berusaha mengabaikannya.
Pria itu melihatnya, tersenyum, melambai. Aurelie mempercepat langkah.
“Mademoiselle Rousseau.”
Aurelie mendengar, tapi pura-pura tidak. Ia keluar gedung, berjalan cepat ke arah parkir. Angin musim gugur dingin menerpa wajahnya. Ia merapatkan jaket.
“Mademoiselle Rousseau, tunggu sebentar.”
Langkahnya semakin cepat. Sampai di mobil Mercedes biru kecilnya, ia mengeluarkan kunci. Bunyi pip dua kali, pintu terbuka. Ia masuk, hendak menutup pintu, tapi tertahan.
“Bisa tunggu sebentar, Mademoiselle?” Pria itu menahan pintu. “Kenapa buru-buru?”
“Mau apa?” Aurelie menatapnya tajam.
Ia tidak pernah tertarik dengan pria Eropa berambut pirang, bermata biru, berkulit putih. Ia lebih suka tipe berkulit gelap, rambut cokelat. Tapi pria jangkung ini entah kenapa menarik.
Pria itu terkekeh, menunduk. Rambut rapi jatuh ke dahi. “Aku bertanya, maukah kau menemaniku makan malam?”
Aurelie mendengus dalam hati. Dasar pria Prancis. Ia meliriknya. Pria itu membetulkan kacamata, senyum percaya diri tidak luntur.
“Gratis, tentu saja. Kau pilih restoran.”
Aurelie berusaha acuh, tapi akhirnya tak tahan. “b******k kau, Julien Fountaine! Ke mana saja selama ini? Kenapa tidak meneleponku?”
Julien tersenyum lebar, tidak terpengaruh omelan.
“Aku mau makan sate kambing!” Aurelie bersedekap, menatap lurus ke matanya.
***
Di Paris ada sebuah bistro kecil yang tidak terkenal. Aurelie menyukainya karena mereka menyajikan masakan Indonesia, terutama sate kambing. Bistro itu terletak di jalan kecil yang agak sepi, lumayan jauh dari pusat kota. Tidak banyak orang tahu keberadaannya kecuali pelanggan tetap, termasuk Aurelie.
Selain ibunya, hal yang paling dirindukan Aurelie dari Indonesia adalah makanannya. Ia tidak terlalu pemilih soal makanan, tapi kadang bosan dengan masakan Prancis. Sate kambing sederhana itu terasa seperti kemewahan baginya.
Julien berbeda. Ia tidak terlalu suka sate kambing atau masakan Indonesia. Singkatnya, ia lebih menyukai makanan Eropa. Namun ketika membiarkan Aurelie memilih, ia tahu gadis itu akan memilih bistro ini. Julien mengalah. Ia lebih suka melihat Aurelie makan dengan gembira daripada Aurelie yang pura-pura tidak mengenalnya. Karena itu ia memesan nasi goreng. Setidaknya makanan itu terlihat lumayan.
“Jadi,” kata Aurelie dengan mulut masih agak penuh. Ia mengunyah, menelan, lalu melanjutkan, “Ke mana saja kau seminggu terakhir ini? Kau janji menjemputku di bandara. Kau tahu berapa lama aku menunggu? Kalau tidak bisa menjemput, kau bisa menelepon. Bukankah itu alasanmu membeli ponsel?”
Julien tidak segera menjawab. Ia menahan senyum. Ia lebih suka Aurelie yang cerewet daripada Aurelie yang dingin.
“Aku tahu apa yang sedang kaupikirkan. Jangan coba-coba bilang aku cerewet,” ancam Aurelie sambil meraih setusuk sate dan menatap Julien dengan mata menyipit.
Mereka berteman sejak Aurelie pindah ke Paris. Pertemuan pertama terjadi di pesta pembukaan restoran baru ayah Aurelie di Quartier Latin. Julien pernah mengaku bahwa awalnya ia mengira Aurelie anak angkat karena berbeda sekali dengan ayahnya.
Ayah Aurelie, Monsieur Rousseau, tipikal pria Eropa: jangkung, tampan, rambut cokelat terang, hidung mancung, mata kelabu, kulit putih pucat. Aurelie memiliki ciri Asia: rambut hitam pendek, kulit putih tapi tidak pucat. Namun jika diperhatikan, Aurelie juga punya mata kelabu dan hidung mancung seperti ayahnya. Tingginya melebihi rata-rata orang Asia. Gabungan Timur dan Barat membuat wajahnya unik dan menarik.
Awalnya Julien tidak peduli. Ia menganggap Aurelie orang asing yang belum bisa berbahasa Prancis. Ia salah. Bahasa Prancis Aurelie lancar. Julien kagum, apalagi setelah tahu Aurelie juga menguasai bahasa Inggris. Bahasa Inggris Julien buruk sekali. Ia malu pada gadis Asia ini.
Julien kemudian menganggap Aurelie seperti adiknya sendiri. Mereka cocok. Sama-sama anak tunggal, orangtua bercerai, tinggal bersama ayah.
“Halo? Kau mau mulai menjelaskan sekarang atau menunggu sampai salju turun?” Aurelie menatapnya dengan alis terangkat.
“Baiklah, aku minta maaf,” kata Julien hati-hati. “Aku minta maaf karena tidak bisa menjemputmu di bandara. Aku juga minta maaf karena tidak menghubungimu.”
“Kau ke mana saja seminggu terakhir ini?”
“Tokyo.”
Aurelie mengerjapkan mata. “Tokyo? Jepang?”
Julien mengangguk. “Ayahku ada urusan kerja di Tokyo. Hari Sabtu, saat kau kembali ke Paris, aku mendapat kabar ayahku jatuh pingsan di rapat.”
“Oh—”
Julien cepat menambahkan, “Tidak usah cemas. Ayahku hanya kelelahan. Jantungnya memang bermasalah sejak lama. Aku harus terbang ke Tokyo menggantikannya. Kau ingat proyek pembangunan hotel dengan Jepang?”
Aurelie mengangguk. Ia ingat Julien pernah menyebut proyek itu. Perusahaan arsitek ayah Julien bekerja sama dengan perusahaan Jepang. Julien salah satu arsitek yang terlibat.
“Karena ayahku harus beristirahat, aku melanjutkan pekerjaannya,” Julien meneruskan. “Aku tidak punya banyak waktu untuk menelepon. Perbedaan waktu juga menyulitkan.”
“Di mana ayahmu sekarang?”
“Sudah sehat dan kembali bekerja,” jawab Julien. “Ayahku tipe orang yang tidak bisa diam.”
Aurelie menunduk memandang makanannya. Ia menyesali sikapnya. Marah sebelum tahu apa yang terjadi.
“Bagaimana kabar ibumu?” tanya Julien.
Aurelie mengangkat wajah. “Mama? Seperti biasa. Sibuk mendesain perhiasan.”
“Belum menikah lagi?”
Aurelie mengangkat bahu. “Belum. Sepertinya tidak berniat menikah lagi. Sama seperti Papa.”
“Ada kabar baru dari Indonesia?”
Aurelie menekan bibir dengan sendok. “Aku bertemu sepupuku.”
“Sepupumu yang mana?”
“Yang tinggal di Korea. Aku baru tahu pacarnya artis,” jawab Aurelie, lalu cepat mengalihkan, “Ngomong-ngomong soal pacar, bagaimana dengan Jepang? Kau bertemu gadis cantik di sana?”
Julien menjentikkan jarinya. “Ah, aku hampir lupa memberitahumu.”
“Apa?” Aurelie langsung waswas. Ia tidak sungguh-sungguh ingin mendengar kisah cinta Julien.
“Aku punya teman di Jepang. Namanya Arata Kurokawa.”
Aurelie berpikir, nama itu bukan nama perempuan.
“Dia arsitek. Dia akan bergabung dalam proyek hotel. Arsitek Jepang sebelumnya mundur. Perusahaan Jepang mengusulkan Arata menggantikannya. Saat aku dan ayahku ingin menemuinya di Tokyo, kami diberitahu dia ada di Paris. Aku berhasil menghubunginya dan berjanji menelepon lagi setelah kembali.”
Aurelie menunggu.
“Jadi tadi aku meneleponnya dan memintanya datang ke sini,” kata Julien.
Aurelie mengerutkan kening. “Ke sini? Maksudmu sekarang?”
Julien mengangguk. “Ya. Kau tidak keberatan, bukan? Dia orang yang menyenangkan.”
“Tentu saja aku keberatan,” jawab Aurelie cepat. “Kenapa tidak besok? Hari ini aku tidak ingin berkenalan dengan orang asing.”
Julien heran. “Arata bisa berbahasa Prancis. Lancar. Kau tidak usah cemas.”
“Kau kira aku keberatan karena bahasa?” Aurelie jengkel. “Masalahnya bukan itu. Aku hanya ... sudahlah.”
Julien memperbaiki kacamatanya. Aurelie tahu ia menunggu penjelasan. Aurelie kesal karena Julien seenaknya mengajak temannya. Ia ingin mengobrol berdua saja.
“Tapi kupikir ...” Julien baru akan menjelaskan ketika ponselnya berbunyi. “Halo? Oh, Arata. Sudah sampai?”
Julien menoleh ke pintu. Aurelie ikut menoleh. Seorang pria Asia masuk ke bistro, melihat sekeliling. Julien melambaikan tangan. Pria itu tersenyum.
“Aku akan berkenalan dengannya, tapi tidak lama,” kata Aurelie cepat. “Hari ini aku tidak ingin berbasa-basi. Aku capek.”
Julien tidak menjawab. Temannya sudah tiba di meja mereka.