Bab 103

1372 Words

Hujan deras semalam meninggalkan sisa-sisa aroma tanah basah dan udara dingin yang menusuk tulang. Di dalam kabin mobil sedan tua yang melaju membelah pinggiran kota Jakarta menuju arah barat, Nara tidak berhenti memantau kaca spion tengah. Napasnya masih memburu, teratur namun berat. Setiap kali ada sorot lampu mobil lain yang mendekat dari belakang, jantungnya berdegup kencang, memicu rasa ngilu yang samar di bagian bawah perutnya. "Tenang, Sayang ... kita aman," bisik Nara pada dirinya sendiri, sebelah tangannya mengusap perut di balik jaket parka yang mulai mengering. Pukul lima pagi, mobil tua itu merapat di sebuah stasiun pengisian bahan bakar yang sepi di jalur lintas provinsi. Nara tidak turun untuk membeli makanan. Di dalam toilet umum yang pengap dan diterangi lampu neon yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD