Fajar menyingsing di atas langit Jakarta dengan warna abu-abu yang suram, menyisakan sisa-sisa genangan air dari badai semalam. Di lantai sayap barat rumah sakit pribadi Grup Reuben, keheningan pagi itu mendadak pecah oleh langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa. Devan Anggara berjalan menyusuri koridor dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Ada perasaan tidak enak yang mengganjal di dadanya sejak ia terbangun di sofa ruang depan sepuluh menit yang lalu. Rasa kantuknya menguap begitu saja, digantikan oleh firasat buruk yang tajam. Dua penjaga yang berdiri kaku di depan pintu kamar VVIP langsung menegakkan tubuh dan memberi hormat saat melihat sang tuan mendekat. Devan tidak membalas. Tanpa mengetuk, ia langsung mendorong pintu kayu ek tebal itu hingga terbuka lebar. "

