Malam telah lama larut, namun di dalam penthouse megah milik Devan Anggara yang terletak di puncak menara Jakarta, waktu seolah telah berhenti bergulir. Ruangan luas yang biasanya rapi dan minimalis itu kini bertransformasi menjadi sarang obsesi yang mengerikan. Tirai-tirai beludru hitam ditutup rapat, memutus akses terhadap dunia luar. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari layar monitor raksasa yang menampilkan peta topografi digital pulau Jawa dan puluhan lembar foto satelit yang ditempel acak di dinding marmer menggunakan selotip. Devan duduk di lantai, bersandarkan kaki meja kaca yang rendah. Kemeja hitamnya kini berlumuran noda kopi, kancing atasnya terbuka, dan lengan kemejanya digulung berantakan. Wajahnya yang dulu selalu tampak simetris dan berwibawa kini terlihat tirus. Tulan

