Bab 106

1393 Words

Kabut tebal menggantung rendah di lereng Gunung Slamet ketika bus antar-provinsi tua yang ditumpangi Nara akhirnya berhenti di sebuah pertigaan aspal yang retak-retak. Suara mesin diesel bus itu terbatuk-batuk, memuntahkan asap hitam pekat sebelum akhirnya melaju lagi, meninggalkan Nara sendirian di tepi jalan yang sunyi. Udara pegunungan yang menusuk tulang langsung menyergap pori-pori kulitnya, memaksa Nara mengeratkan jaket parka gelapnya yang kini telah lusuh dan berbau debu perjalanan. Nara menatap ke sekeliling. Di depannya terbentang jalan setapak berbatu yang menanjak, membelah hamparan kebun teh dan jajaran pohon pinus yang menjulang tinggi ke langit. Di ujung jalan itulah terletak sebuah pemukiman kecil yang oleh orang-orang bawah disebut sebagai desa tanpa nama—sebuah dusun te

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD