Satu minggu kemudian
Malam hari
Pukul 22.00 WIB
Thania menatap Zidan untuk memastikan apakah putranya sudah tidur nyenyak atau belum. Setelah memastikan putranya tidur dengan nyenyak Thania bangun secara perlahan agar tidak membangunkan Zidan.
Setelah dekat dengan Thania, Zidan selalu meminta Ibu tirinya untuk menemani tidur di setiap malam. Thania sangat senang dengan hal tersebut. Itu tandanya Zidan menyayangi dan menghargai keberadaannya dengan tulus. Namun hal itu sangat mengganggu bagi Danish.
Ceklek
Thania menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Dan ternyata Danish pelakunya. “Udah tidur belum?” tanya Danish dengan wajah cemberut
“Sudah, Pak. Barusan Zidan…”
“Emhh.. Bunda!”
Belum selesai Thania bicara tiba-tiba Zidan terbangun kembali. Suara Danish mengganggu tidur Zidan. “Bunda jangan tinggalin Zidan! Zidan mau tidur sama Bunda.” rengeknya sembari memeluk Thania erat.
“Iya, sayang. Bunda di sini kok, nggak ke mana-mana.”
“Hmm..”
Thania menatap suaminya penuh peringatan. Dari tatapannya Thania meminta Danish untuk pergi dari kamar Zidan. Padahal sebelumnya Zidan sudah tidur dengan nyenyak. Dengan wajah kesal Danish menutup pintu. Ia pergi meninggalkan kamar putranya.
“Ck, kenapa jadi Zidan yang manja pada Thania? Seharusnya kan aku.”
“Ini udah malam tapi Thania nggak kunjung kembali ke kamar.” gerutu Danish di depan kamar putranya
Dengan perasaan kesal Danish melangkah pergi dari tempat tersebut. Padahal ia menyusul Thania berniat mengajaknya istirahat karena hari sudah malam. Tapi, sejak satu minggu terakhir ia harus berbagi dengan putranya. Justru akhir-akhir ini Thania lebih banyak menghabiskan waktu dengan Zidan dibandingkan dengan dirinya.
Cup
Thania mencium kening putranya cukup lama. Ia mengelus rambut Zidan dengan lembut dan penuh kasih sayang. “Tidur yang nyenyak ya, Boy.”
“Bunda keluar dulu!” bisiknya dengan suara lembut
Thania menutup pintu dengan hati-hati agar tidak membangunkan putranya. Setelahnya ia berjalan menuju kamar menemui suaminya. Thania yakin Danish saat ini pasti uring-uringan sendiri.
Ceklek
Thania membuka pintu kamar. “Pak Danish!” panggilnya
“—“
Saat membuka pintu kamar Thania tidak menemukan kebradaan suaminya. “Di mana Pak Danish?” gumamnya
Thania menutup pintu lalu berjalan menuju ruang kerja suaminya yang langsung terhubung dengan kamar. Ia tersenyum melihat keberadaan suaminya di sana. Ia menghampiri Danish tanpa sepengetahuan laki-laki itu.
“Ekhm,” dehem Thania dari belakan tubuh suaminya
Danish menghentikan pergerakannya setelah mendengar suara Thania. Ia menoleh dan ternyata istrinya sudah datang. “Udah selesai?” tanyanya dengan nada sedikit tidak suka.
“Sudah!”
“—“
“Tidur yuk, Pak! Thania udah ngantuk.”
“Tidur aja sama Zidan sana, ngapain ngajak saya.”
Thania memutar bola matanya malas. Baru kali ini ia melihat Ayah jealous dengan putranya sendiri. “Ooh.. gitu! Yaudah. Thania kembali lagi ke kamar Zidan.”
Namun baru dua langkah dengan cepat Danish menahan kepergian istrinya. Ia tidak akan membiarkan Thania kembali ke kamar putranya. Setelah itu ia menggendong Thania ala bridal style membuat wanita itu memekik karena terkejut. “Aakkhh..” untuk saja dengan sigap Thania mengalungkan kedua tangannya pada leher Danish untuk berpegangan.
“Apa yang Pak Danish lakukan?”
“Bisa nggak jangan buat Thania terkejut!?” ucapnya dengan nada kesal
“Nggak bisa.”
Danish membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Ia membaringkan Thania di atas tempat tidur dengan perlahan dan hati-hati. Setelahnya ia menutup gorden lalu mematikan lampu utama kamar. Dan sekarang keduanya ditemani dengan cahaya remang-remang.
“Kenapa dimatiin lampunya, Pak?” tanya Thania
“Nggak papa.”
Danish melepas pakaiannya lalu membuangnya ke lantai. Setelah itu ia menyusul Thania berbaring. Ia bergerak menindih tubuh Thania. Ia menggunakan kedua tangannya sebagai tumpuan agar tidak menindih sepenuhnya tubuh sang istri.
Keduanya saling menatap. Jantung Thania berdebar kencang melihat tatapan suaminya. Tatapan Danish mampu membuatnya terhipnotis. Hal itu yang membuat ia enggan mengalihkan pandangan darinya.
“Kenapa, Pak?” tanya Thania dengan gugup
Danish mengelus pipi Thania dengan lembut dan penuh kasih. “Nggak adil rasanya kalau kamu hanya menemani Zidan tidur tapi tidak dengan saya.”
“Saya juga ingin ditemani.” lanjutnya sembari tersenyum penuh arti
Glek
Thania menelan ludahnya kasar. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya, namun mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat. “Y-yaudah, ini kan kita mau tidur, Pak.” Jawabnya dengan gugup
“Bukan itu, Thania.”
“Terus apa, Pak?”
Danish mendekatkan wajahnya pada telinga Thania lalu membisikkan sesuatu padanya. “Membuat adik untuk Zidan.”
Deg
Tubuh Thania mematung di tempat. Apa ia tidak salah dengar? Jantungnya serasa ingin lepas dari tempatnya. Tanpa diperjelas Thania sudah tahu apa yang dimaksud suaminya. Danish tersenyum manis. Wajah keduanya cukup dekat membuat mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.
“Pak…”
“Sstt.. jangan berisik, Thania!”
Danish meminta istrinya untuk diam. Ia tidak ingin suara Thania mengganggu yang lain, meskipun tidak akan ada yang mendengar aktifitas mereka berdua. Danish semakin mendekatkan wajahnya. Dan…
Cup
“Uumhh..”
Danish menyatukan bibir keduanya. Ia tidak suka menunggu lama. Tidak ada penolakan dari Thania. Ia pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya. “Emhh..” lenguhnya perlahan
Danish menangkup wajah Thania sembari memperdalam apa yang ia lakukan. Seketika suara decapan lembut mulai terdengar memenuhi ruangan itu. Bahkan suara Thania mengalun indah di telinganya.
“Uumhh..”
“Enghh..”
Thania mengalungkan kedua tangannya pada leher Danish. Ia mulai mengimbangi perbuatan suaminya. Ia banyak belajar dari Danish. Laki-laki itu tersenyum saat Thania mulai membalas apa yang ia lakukan.
“Emhh..” Thania melenguh pelan.
Tangan Danish bergerak ke bawah. Ia membuka satu per satu kancing baju yang dikenakan istrinya. Dalam satu tarikan baju itu tergelatak di lantai. Dengan mudah Danish melakukannya. Ia seolah sudah terbiasa dengan apa yang dilakukan.
Danish mencari area favoritnya. Dan sampailah pada dua benda kenyal kesukaannya. Squisy mainannya. “Awhh..”
“Pak Danish.. owhh..”
Thania mendongak dengan mata terpejam. Ia menggigit bibir bawahnya menikmati sentuhan Danish. Sentuhan yang mampu membuatnya gila. Suaranya mengalun indah membuat Danish semakin bersemangat melakukannya.
“Owhh.. s**t!”
“Aku sangat menyukai ini.” ujar Danish dalam hati
Setelah merasa cukup Danish bergerak ke bawah. Ia tersenyum melihat pemandangan indah di hadapannya. Namun masih ada penghalang yang membuatnya berdecak tidak suka. Hal itu sangat mengganggu pandangannya.
“Jika tidur tidak usah memakai ini, Thania! Nggak baik untuk kesehatan.” ujar Danish sembari melepas kain penghalang tersebut.
Dan sekarang terlihatlah pemandangan indah tepat di hadapannya tanpa penghalang apapun. Danish menelan ludahnya kasar. Meskipun sudah beberapa kali melihat membuat pikiran Danish kacau. Ia sudah tidak sabar melakukannya.
“Pak, jangan…”
“Owhh..”
“Aahh..”
Belum selesai Thania bicara Danish melakukannya secara tiba-tiba. Danish tidak memberi ampun pada istrinya. Ia minum seperti bayi dengan satu tangan yang terus bergerak dengan bebas. Thania menggelengkan kepalanya secara perlahan. Nafasnya memburu, suaranya seolah tercekat di tenggorokan.
“Emhh…”
“Pak Danishh.. uumhh..”
Danish tersenyum mendengar suara istrinya. “Terus panggil nama saya, Thania!” ucapnya dengan nada meracau
“Sshh.. jangan digigit, Pak!”
“Sakit! Enghh..”
“Aakkhh..”
Thania tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah. Kedua tangannya meremas rambut Danish sebagai pelampiasan. Bukannya mendorong Danish ia justru menekan kepala suaminya agar melakukan lebih dalam.
“T-teruss, Pak!”
“Owhh.. enakk..”
Thania meracau tidak jelas. Ia sudah gila karena perbuatan suaminya. Mendengar suara itu membuat Danish tersenyum. Ia semakin bersemangat melakukannya. Tubuh keduanya mulai dibanjiri keringat, namun hal itu tidak membuat Danish berhenti begitu saja. Justru hal itu pertanda jika keduanya sangat menikmati permainan ini.
“s**t! Enak sekali.” ujar Danish dalam hati
“Aku sangat menyukainya.”
Namun tiba-tiba…
BRAK
BRAK
“BUNDA!”
“BUNDA BUKA PINTUNYA!” teriak Zidan dari luar kamar
“Oh, s**t!” umpat Danish saat mendengar suara putranya
“P-pak.. udahh!”
Thania mendorong kepala tubuh suaminya agar menjauh. Ia mendengar suara putranya dari luar kamar. “Ada… aahh..”
“Stopp!” Danish tidak mau berhenti membuat Thania kuwalahan. Apalagi di luar kamar Zidan terus memanggilnya.
“Owhh.. Ada Zidan, Pak!”
“Enghh..” Thania terus meracau karena Danish enggan berhenti. Bahkan ia menggigit karena merasa gemas sekaligus kesal secara bersamaan.
“Sshh.. jangan digigit!”
BRAK
"BUNDA!" teriak Zidan
"Hikss.." Zidan mulai menangis karena Thania tidak kunjung membuka pintu kamar.
"BUNDA APA SUDAH TIDUR?"
"Hikss.."
"PAK, UDAH!"
Dengan sekuat tenaga Thania mendorong tubuh suaminya membuat Danish terguling tepat di sampingnya. Ia tidak tega mendengar suara teriakan Zidan. Apalagi putranya terdengar menangis. "Zidan nangis, Pak."
Buru-buru Thania memakai pakaiannya kembali sebelum keluar kamar. Setelah selesai ia berjalan menuju pintu untuk menemui putranya. Danish menatap istrinya dengan perasaan kesal. Jantungnya bergemuruh hebat. Kedua tangannya terkepal kuat menahan amarah. Jika Zidan bukanlah putranya ia sudah menendang anak itu.
"Aarrrgghh.." teriak Danish sembari mengacak rambutnya frustasi
"SIALAN!" bentaknya
"Kenapa Zidan pakai bangun segala sih? Bukannya tadi sudah tidur nyenyak!?"
"Ck," Danish tidak berhenti menggerutu, mengumpat, dan lain sebagainya.
Tiba-tiba berhenti di tengah permainan membuat Danish sangat tersiksa. Ia merasakan aneh dalam dirinya. Setelah ini ia akan uring-uringan sendiri. Daripada menyiksa Danish memilih masuk ke dalam kamar mandi. Ia akan menghabiskan malam di sana. Putranya benar-benar membuatnya kesal. Zidan datang di waktu yang tidak tepat.
"Sialan!" lagi-lagi Danish mengumpat
Next>>