BAB 11

1998 Words
Ceklek “Astagaa.. Zidan kenapa, sayang?” Thania terlihat panik melihat putranya menangis di depan kamarnya. “BUNDA!” pekik Zidan dan langsung memeluk Thania erat. Thania tidak kalah erat membalas pelukan putranya. Dan sekarang Zidan mulai dekat dengannya. Bahkan selalu mencarinya setiap saat. Contohnya seperti sekarang ini. Zidan sudah menganggap Thania seperti Ibu kandungnya sendiri, karena dia menyayanginya dengan tulus. Tidak peduli jika Zidan hanyalah anak sambung. “Sstt.. tidur lagi, yuk!” ujar Thania “Zidan mau tidur sama Bunda.” “Di kamar Papa?” Zidan mengangguk di pelukan Thania. “Yaudah. Kita masuk, yuk!” Thania mengajak Zidan masuk ke dalam kamar. Hari sudah semakin malam dan besok pagi Zidan harus pergi ke sekolah. Ia tidak ingin Zidan mengantuk saat belajar. Saat masuk ke dalam kamar Thania tidak menemukan keberadaan suaminya. Di mana laki-laki itu? “Papa di mana Bunda?” tanya Zidan “Em.. sepertinya Papa lagi ada di kamar mandi, Boy.” “Ooh..” Zidan mengangguk mengerti. Ia naik ke atas tempat tidur dan langsung disusul oleh Thania. Zidan berada di tengah-tengah agar tidak terjatuh. Setelahnya Zidan memeluk Thania dengan erat. Ia mencari kehangatan di pelukan sang Ibunda tercinta. Thania menepuk punggung Zidan dengan lembut agar putranya cepat tertidur. Meskipun umurnya yang masih dibilang muda tapi Thania sudah bisa mengurus rumah tangga. Bahkan menjadi Ibu sambung untuk putranya. Ceklek Thania mengalihkan pandangan saat mendengar suara pintu terbuka, dan terlihatlah Danish. Danish terkejut melihat putranya tidur di kamar ini. Bahkan tidur di tengah-tengah mereka. Dengan cepat Danish mendekat ke arah Zidan dan Thania. Tatapannya terlihat protes tidak setuju. “Zidan, kamu kenapa tidur di sini?” tanya Danish Zidan terlonjak kaget mendengar suara Ayahnya. Sontak Thania menatap tajam ke arah Danish. Padahal ia sudah bersusah payah menidurkan putranya. “Pak Danish apa-apaan sih?” ucapnya dalam hati Zidan menoleh ke belakang. Matanya terlihat memerah karena mengantuk. “Papa!” ucapnya dengan wajah tenag Oh, ayolah.. Danish sangat tersiksa saat ini. Dan sekarang Zidan justru tidur satu kamar dengan mereka. Apa yang harus ia lakukan untuk meminta Zidan agar tidur di kamarnya sendiri? Danish menghela nafas kasar. Rasanya Ia ingin berteriak kencang melampiaskan kemarahannya. “Kamu kenapa tidur di sini, Boy?” tanya Danish “Zidan mau tidur sama Bunda, Pa.” “Nggak boleh!” “Pak…” Thania melayangkan tatapan protes setelah mendengar jawaban suaminya. Danish duduk di pinggir kasur. Ia mencari cara agar Zidan tidur di kamarnya sendiri. Jika Zidan tidur bersama mereka yang ada dirinya dalam posisi bahaya. Bahkan saat ini dirinya sangat tertekan. “Zidan, kamu tidur di kamar sendiri ya! Ini kan kamar Papa dan Bunda.” “Emangnya kenapa, Pa? Zidan mau tidur sama Bunda.” “Tapi…” “Pak, udah biarin aja Zidan tidur di sini! Kasihan dia kalau dipaksa tidur sendiri.” “Ck,” Danish berdecak kesal. Ia tidak terima dengan jawaban istrinya. Danish menggerutu dalam hati. Apa Thania tidak peka dengan perasaannya? Apa ia harus menjelaskan bagaimana rasa sakit yang dirasakan saat ini! Pokoknya Zidan harus tidur di kamarnya sendiri. Danish ingin melanjutkan aktivitasnya tadi bersama Thania. Ia tidak akan bisa tidur semalaman jika Zidan tetap berada di kamar ini. “Zidan, kamu kembali ya!” ujar Danish sembari membujuk putranya Zidan menggelengkan kepalanya di pelukan Thania. Bukannya pergi ia justru mengeratkan pelukannya. Ia seolah takut kehilangan Thania. “Nggak mau! Zidan mau tidur di sini sama Bunda.” “Papa aja yang tidur di kamar lain!” lanjutnya Thania terkekeh mendengar jawaban Zidan. “Nah, itu benar sekali.” Danish melayangkan tatapan tidak terima pada istrinya. Bisa-bisanya Thania setuju dengan Zidan. Tentu ia akan menolak. “Nggak! Kan Bunda itu istri Papa, Zidan.” ucapnya dengan nada tidak terima. “Bunda juga Ibu Zidan, Pa.” jawabnya tidak mau kalah “Ck.” lagi-lagi Danish berdecak kesal mendengar jawaban putranya. Kenapa Zidan jadi menyebalkan seperti ini? Bahkan sangat menyebalkan. Danish mengacak rambutnya frustasi. Ingin rasanya Danish mengusir putranya agar segera pergi dari kamar ini. Ia menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Ia harus bisa lebih tenang dan sabar. “Huhh..” Danish menghembuskan nafasnya. Tiba-tiba terbesit sebuah ide di kepala Danish. Ia teringat sesuatu. Ia yakin dengan rencananya kali ini Zidan akan mengalah. “Ekhm.” dehemnya “Siapa kemarin yang minta mainan kek Papa?” Sontak Zidan langsung menoleh ke belakang. Ia menatap Ayahnya. “Zidan, Pa.” “Kalau Zidan malam ini tidur di sini Papa nggak jadi beliin mainan. Kan kemarin Papa bilang kalau Zidah harus lebih mandiri. Masa mandiri tidur aja harus ditemani.” ucapnya dengan nada menyindir “Enggak kok.” Zidan langsung bangun. Ia menatap Danish dengan tatapan sendu. Ia menggoyangkan lengan Danish meminta Ayahnya agar membelikan mainan. Padahal sebelumnya Danish sudah berjanji akan membelikannya mainan baru. “Papa jangan gitu! Kan Papa sudah janji bakal beliin Zidan mainan baru.” rengeknya “Itu hanya berlaku kalau Zidan sudah mandiri.” “Tapi…” “Yaudah, enggak.” “Yaudah, iya. Zidan akan tidur sendiri malam ini.” “Loh?” Thania ikut bangun setelah mendengar jawaban putranya. Ia yakin Danish dengan sengaja berkata seperti itu agar Zidan kembali ke kamarnya. Rasanya ia ingin mencekek leher laki-laki itu. Bisa-bisanya Danish tidak mau mengalah dengan putranya sendiri. “Sayang, nggak papa tidur di kamar ini saja sama Bunda dan Papa.” ujar Thania berusaha membujuk putranya Zidan menggelengkan kepalanya. Ia lebih memilih mainan baru daripada hal lain. Apalagi ia sangat menginginkan mainan tersebut. Danish sudah berjanji, dan Danish beberapa kali mengaharkan pada Zidan jika menginginkan sesuatu harus menut dengan Ayahnya. “Nggak papa, Bunda.” “Zidan bisa tidur di kamar sendiri kok. Lagipula Zidan sudah besar.” lanjutnya sembari tersenyum Danish tersenyum penuh kemenangan. Inilah yang ia tunggu sejak tadi. Kenapa tidak dari tadi Zidan menjawab seperti ini! Danish mengelus kepala putranya dengan lembut dan penuh kasih sayang. Jika seperti ini Danish akan tidur nyenyak mala mini. Dan tentunya bisa melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda. “Good Boy!” “Yaudah, sekarang kembali ke kamar, gih! Sudah malam, waktunya istirahat.” ujar Danish Zidan mengangguk. “Iya, Pa.” Sebelum turun dari tempat tidur Zidan mendekat ke arah Thania. Dan… Cup Zidan meninggalkan ciuman kecil di pipi Ibu sambungnya. Ia tersenyum manis ke arahnya. Hal itu ia lakukan sebagai bentuk terima kasih sekaligus ucapan selamat malam pada Thania. Thania sangat baik dan penuh perhatian padanya. “Zidan ke kamar dulu, Bunda!” “Selamat malam!” “Malam, Boy! Tidur yang nyenyak, ya.” Zidan mengangguk sebagai jawaban. Setelah pintu kamar tertutup Thania melayangkan tatapan protes pada suaminya. Danish mengangkat bahunya acuh. Ia seolah tidak tahu apa-apa. “Pak Danish kenapa minta Zidan tidur sendiri sih? Pakai ngancam segala. Kan kasihan Zidan, Pak.” “Dia sudah besar, Thania.” “Enggak, ah. Zidan masih butuh kasih sayang dan perhatian lebih dari kita.” “Kita sudah melakukannya dengan baik kok.” “Tapi…” “Sstt..” Danish meminta istrinya untuk diam. Ia tidak ingin berdebat dengan istrinya itu. Apalagi hari sudah semakin malam. Sudah waktunya mereka istirahat. “Jangan banyak bicara, Thania! Sudah malam.” “Seharusnya kita istirahat, bukan berdebat.” lanjutnya “Ck, tau ah.” Thania merebahkan tubuhnya kembali dengan posisi membelakangi Danish. Hal itu membuat Danish tersenyum penuh arti. Tidak lama ia menyusul istrinya rebahan. Ia mendekat ke arah Thania lalu memeluk istrinya dari belakang. Tubuh Thania menegang saat merasakan pelukan suaminya dari belakang. “Pak Danish mau apa? Ini sudah malam waktunya kita istirahat.” “Hmm.. saya tahu.” “Tapi sebelum itu saya mau melanjutkan aktivitas kita sebelumnya.” bisik Danish dengan suara berat Glek Thania menelan ludahnya kasar. Apa ia tidak salah dengar? Padahal ia berpikir Danish sudah melupakan kejadian tadi. Ternyata inilah dibalik alasan Danish meminta Zidan untuk tidur di kamarnya sendiri. “Astagaa.. kenapa aku tidak menyadari hal itu sejak tadi?” ucapnya dalam hati Danish menumpukan dagunya di lengan Thania dengan mesra. Tangannya bergerak mengelus perut rata Thania dengan lembut. “Pak…” “Sstt.. jangan berisik lagi, ya! Saya mau melanjutkan aktivitas kita tadi.” “Kita akan menikmati malam panjang penuh kehangatan.” lanjutnya Danish menarik tubuh Thania agar menghadap ke arahnya. Keduanya saling menatap. Tatapan Danish terlihat berbeda dari sebelumnya. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan sebuah kata. Perlahan ia mendekatkan wajah keduanya. Jarak wajah keduanya semakin dekat. Bahkan hidung mereka sudah bersentuhan. Dan… Cup “Uumhh..” Danish menyatukan bibir keduanya. Tidak ada perlawanan dari Thania. Ia mnerima sentuhan dari suaminya. “Emhh..” Thania melenguh pelan Mulai terdengar suara decapan lembut. Thania mengalungkan kedua tangannya pada leher Danish. Hal itu membuatnya tersenyum. Bibir keduanya menyatu dengan sempurna. Bahkan Thania ikut bergerak mengimbangi permainan suaminya. “Enghh..” “Uumhh..” Setelah merasa puas Danish beralih pada leher jenjang istrinya. Seperti biasa, ia meninggalkan tanda kepemilikan di sana. Ia menggigitnya pelan dan penuh sensasi. Bahkan sesekali menghembuskan nafas di sana. “Sshh.. jangan digigit, Pak!” “Awhss..” “Pelanhh-pelanhh!” “Saya menyukai harum kamu, Thania.” ujar Danish dengan suara serak “Owhh.. Pak…” Thania mendongak dengan mata terpejam. Mulutnya sedikit terbuka dengan suara yang terus mengalun indah memenuhi ruangan tersebut. Hal itu membuat Danish semakin menggila dan lepas kendali. Suara indah Thania seolah menuntunnya agar melakukan lebih dan lebih. “Oowhh..” Entah sejak kapan pakaian Thania sudah berada di lantai. Bahkan dirinya sendiri tidak menyadari hal itu. Danish bergerak turun ke bawah. Ia menuju perut rata istrinya. Ia berhenti sejenak sembari menempelkan pipinya di sana. Cup “Uumhh..” “Pak Danish.. owhh..” Thania merasa ada ribuan kupu-kupu berterbangan di atas perutnya. Ada sensasi menggelitik saat Danish mencium perutnya. Ia meremas rambut Danish sebagai pelampiasan. Tidak ada ucapan yang keluar dari mulutnya selain suara rintihan penuh nikmat. “Pak.. udah!” “Geli!” ujar Thania Danish berhenti sejenak. Ia mendongak menatap wajah cantik istrinya. Ia tersenyum melihat penampilan Thania yang terlihat berantakan. Penampilan yang sangat ia sukai. Thania terlihat semakin cantik dan mempesona jika berantakan. “Apa kamu sudah siap mempunyai momongan?” tanya Danish dengan suara berat “—“ Thania terdiam. Diamnya Thania membuat Danish menganggap jika wanita itu belum siap. Tidak masalah, karena ia sudah memiliki Zidan di hidupnya. Mereka membutuhkan waktu untuk saling mengerti dan memahami. Apalagi Thania masih duduk di bangku perkuliahan. Yang pastinya ia ingin fokus belajar dan meraih pendidikannya. “Kamu belum siap, hm?” “Thania nggak tahu, Pak.” “Nggak papa. Yang terpenting sekarang kita jalani bahtera rumah tangga ini dengan penuh kebahagiaan.” Thania tersenyum mendengarnya. Sampai hari ini ia masih belajar menjadi istri dan Ibu yang baik untuk keluarga kecilnya. Meskipun Zidan bukanlah anak kandungnya. Sebisa mungkin ia menyayanginya dengan tulus. Karena mau bagaimanapun Zidan adalah Anugrah terindah yang Allah titipkan padanya. "Hmm.. iya, Pak." Setelahnya Danish kembali menegakkan tubuhnya. Ia bersiap melakukan ke inti. Jantung Thania berdebar kencang seolah ingin lepas dari tempatnya. Ia tahu apa yang akan suaminya lakukan setelah ini. Danish menggenggam tangan Thania dengan lembut. "Kamu sudah siap?" bisik Danish tepat di samping telinga istrinya Thania mengangguk pelan. "Iya, Pak. Thania sudah siap." "Hmm.. baiklah." Jlebb "Aahh.." "Sshh.." "Owhh.. Pak Danish.." Thania melenguh panjang sembari memanggil nama suaminya. "Aakkhh.." begitupun dengan Danish. Rasanya begitu lega setelah berhasil melampiaskan sesuatu yang sejak tadi tertahan. Ia terdiam sejenak untuk mentralisir apa yang dirasakan istrinya. Nafas Thania memburu. Bahkan dadanya terlihat naik turun tidak beraturan. "Huhh.." "Huhh.." nafasnya terengah "Pak.. bergeraklah!" pintanya dengan nada memohon Danish tersenyum manis. "Dengan senang hati istriku." Tanpa diminta sekalipun Danish akan bergerak. Ia mulai bergerak pelan mencari kenikmatan dunia. Genggaman kedua tangan mereka cukup kuat. Bahkan mulut Thania tidak berhenti bersuara. "Owhh.. lebih cepat, Pak!" "Thania..." "Aakkhh.." "Sshh.. jangan berisik, Thania!" ujar Danish dengan nada meracau Lama kelamaan ia bergerak semakin cepat membuat tubuh Thania terhentak ke belakang. Ia kuwalahan saat mencoba mengimbangi pergerakan suaminya. Namun wajah Thania tidak bisa berbohong jika ia sangat menikmati. "Enghh.. terus, Pak!" "Lebih cepat, Pak!" Thania meracau tidak jelas "Emhh.." lenguhnya Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD