BAB 12

1336 Words
Keesokan harinya “BUNDA!” teriak Zidan memanggil Thania “Iya, sayang! Jangan lari-lari nanti jatuh!” Thania sedang sibuk memasak untuk sarapan bersama. Setelah menikah ia berusaha menjadi istri dan Ibu yang baik untuk keluarga kecilnya. Contohnya, seperti sekarang ini. Di usianya yang masih muda seharusnya Thania sibuk bermain bersama teman-teman kampusnya. Namun ia justru memilih untuk belajar menjadi istri dan Ibu yang baik. Brugh “Astagaa..” Zidan tidak mendengarkan perkataan Thania. Ia langsung memeluk Thania dengan erat dari arah belakang. “Bunda lagi apa?” “Bunda lagi memasak, Boy.” “Zidan duduk dulu aja di kursi! Nanti kalau sudah selesai Bunda hidangkan makanannya di atas meja makan.” lanjut Thania “Zidan mau bantu, Bunda.” “Nggak usah, sayang. Sebentar lagi siap kok.” “Hmm.. baiklah.” Zidan tidak banyak membantah. Setelahnya ia duduk di kursi sembari menunggu Thania selesai memasak. Dan tidak lama Thania menghidangkan masakannya di atas meja makan. Seketika harum masakan tercium memenuhi ruangan. “Hmm.. harum sekali, Bunda!” Thania tersenyum manis. Rasanya begitu bahagia saat hasil masakannya mendapat pujian dari orang terkasih. Padahal Thania baru belajar memasak. Ia harap Zidan dan Danish menyukai hasil masakannya. “Em.. terima kasih, Boy.” “Selamat pagi semuanya!” sapa Danish “Pagi, Pa!” Danish mengernyitkan kening. Tumben sekali Zidan sudah duduk manis di kursi? Padahal biasanya Zidan sangat sulit untuk diajak sarapan bersama. Pemandangan yang indah dan langkah baginya. Danish menghampiri putranya. Ia duduk tepat di samping Zidan sembari menatapnya lekat. “Apa Papa nggak salah lihat sekarang, hm? Ini masih pagi dan Zidan sudah duduk manis di sini.” Zidan tersenyum malu mendengar perkataan sang Ayah. “Zidan sudah lapar, Pa.” alibinya Padahal sebenarnya Zidan ingin segera bertemu Ibunya, Thania. Ia masih malu-malu untuk mengakuinya. Namun Danish tidak langsung percaya dengan perkataan putranya. Ia tahu mana sebuah kejujuran dan kebohongan. Danish melihat kebohongan di mata putranya. Ia yakin Zidan sedang menyembunyikan sesuatu. “Oh, ya?” ujar Danish Zidan mengangguk kaku. “Iya, Pa. Kalau nggak percaya tanya Bunda saja!” “Benar begitu, Bunda?” Danish menatap istrinya menunggu jawaban dari Thania. “—“ Namun, bukannya langsung menjawab Thania justru bengong. Ia speechless dengan pertanyaan Danish. Apa ia tidak salah dengar? Danish memanggilnya dengan sebutan Bunda. Hal itu membuat jantungnya berdebar kencang. Tiba-tiba perasaan aneh muncul di hatinya. Danish dan Zidan menatap Thania. Mereka menunggu sebuah jawaban dari wanita itu. “Bunda kok bengong, Pa?” tanya Zidan dengan wajah polosnya “Iya, Boy. Papa juga nggak tahu.” “Thania!” panggil Zidan “—“ “Thania, kamu dengar suara saya nggak?” “Hah?” Thania menggelengkan kepalanya berulang kali setelah tersadar dari lamunannya. Suara Danish mampu menyadarkannya seketika. “Kenapa, Kak?” tanyanya dengan wajah bingung “Kamu melamun?” Thania mengerjapkan matanya berulang kali. Ia menyengir kuda menunjukkan gigi putihnya. “E-enggak kok, Kak. Thania hanya sedikit mengantuk saja.” “Memangnya kenapa, Kak?” “Nggak jadi.” “Lebih baik kita sarapan sekarang!” ujar Danish “YEYYY.. MAKAN!” pekik Zidan dengan wajah gembira Thania dan Danish tersenyum melihatnya. Respon Zidan yang bahagia membuat Thania merasa terharu. Karena dengan hal itu Zidan terlihat sangat menghargai hasil masakannya. Bahkan Zidan terlihat tidak sabar untuk sarapan. Thania mengambilkan makan untuk putranya, dan setelah itu untuk suaminya. “Segini cukup, Pak?” “Cukup!” Sebelum makan Thania menatap putranya dengan tatapan was-was. Ia takut masakannya tidak sesuai selera Zidan. “Gimana masakan Bunda, Boy?” “—“ Zidan terdiam sembari memakan masakan Thania. Thania menunggu jawaban putranya. Jantungnya berdebar kencang karena takut tidak cocok. “Enak, Bunda. Zidan suka.” dan ternyata jawaban Zidan sesuai harapannya. Anak itu menyuki hasil masakannya. “Huft!” akhirnya Thania menghela nafas lega. “Lega banget kayaknya!” ujar Danish Thania terkekeh mendengarnya. “Enggak kok. Sekarang udah biasa.” Danish mengangkat bahunya acuh. Respon Thania sejak tadi tidak luput dari tatapan suaminya. Ia tahu apa yang ada di pikiran Thania saat menunggu jawaban putranya. Untung saja Danish selalu mengajarkan pada putranya untuk menghargai apapun dari siapapun, meskipun nilainya kecil. Dan, Zidan menjalankan dengan baik. *** Thania dan Danish sudah siap berangkat ke kampus. Thania menatap penampilannya dari depan kaca yang ada di hadapannya. Berulang kali ia memastikan tidak ada yang kurang ataupun salah dari penampilannya hari ini. Bahkan Danish sampai capek sendiri menatapnya. “Sudah belum?” tanya Danish yang ke sekian kali. “Sudah, Pak.” “Bisa nggak jangan lama-lama kalau dandan? Saya nungguin dari tadi.” “Oh, ya? Kenapa nungguin Thania?” Ia berbalik badan menatap suaminya. Dan ternyata Danish belum siap dengan pakaiannya. Pakaian Danish terlihat berantakan. Sontak hal itu membuat Thania tertawa. “Pak Danish kenapa belum siap-siap dari tadi?” “Saya nungguin kamu.” “Ooh.. pasti mau pakai kacanya, ya?!” Thania langsung menepi memberi ruang pada Danish agar bisa mengaca. Namun ternyata bukan hal itu permasalahannya. Danish masih terlihat cemberut membuat Thania bertanya-tanya. Apa ada yang salah dengannya? “Kenapa lagi, Pak?” tanya Thania dengan wajah polos “Ck, kamu nggak peka sekali Thania.” “Ha? Memangnya Thania kenapa, Pak?” “Lakukan tugas kamu sebagai istri!” jawab Danish sembari menyerahkan kemejanya pada Thania. “Ooh..” Dan Thania langsung mengerti setelah Danish menyerahkan kemeja itu padanya. Ia menerimanya dengan baik. Kenapa Danish tidak berkata sejak tadi! Dengan senang hati ia melakukannya. Thania mendekat ke arah Danish lalu membantu suaminya memakai baju. Ia mengancingkan satu per satu kemeja yang dikenakan suaminya. Tanpa ia sadari Danish menatapnya lekat. Ia menelisik penampilan Thania, memastikan tidak ada yang salah dari penampilan istrinya itu. “Dah, selesai!” ujar Thania sembari menepuk d**a bidang suaminya berulang kali. Thania menatap penampilan suaminya. Ia menyipitkan mata karena masih ada yang kurang. Ia belum memakaikan dasi di leher suaminya. Secepat kilat Thania mengambil dasi lalu memasangkan pada kerah baju yang dikenakan suaminya. “Eh,” Thania terkejut karena Danish tiba-tiba menarik pinggangnya agar lebih dekat. Hembusan nafas Danish menerpa keningnya, Thania bisa merasakan hal itu. Thania berusaha tidak gugup. Bahkan ia tidak berani mendongak karena takut dengan tatapan suaminya. “Sudah selesai, Kak.”ujar Thania dengan nada sedikit gugup “Hmm..” Saat Thania memberontak Danish tidak kunjung melepas pelukannya. Ia justru menarik Thania lebih dekat dengannya. “Coba lihat saya!” pinta Danish “Memangnya ada apa, Pak?” “Lihat saja dulu!” Perlahan Thania mendongak menatap suaminya. Dan tiba-tiba… Cup “Uumhh..” Saat Thania mendongak dengan cepat Danish menyatukan bibir keduanya. Thania tidak sempat menghindar karena pergerakan Danish cukup cepat dan gesit. “Uumhh..” “Kak..” Thania melenguh pelan Thania mencengkram pinggang Danish saat laki-laki itu melakukannya sedikit kasar. Danish mendorong tengkuk Thania agar keduanya semakin dekat. Ia tidak memberi ruang pada Thania untuk mengambil nafas, walaupun sejenak. “Enghh..” “Awhss..” Danish memberikan gigitan kecil pada bibir bawah istrinya. Thania merintih kesakitan sekaligus ada sensasi nikmat di dalamnya. “Uumhh.. Sshh..” Bugh Bugh Thania memberikan pukulan kecil pada lengan suaminya. Ia hampir kehabisan nafas. Pasokan oksigen di sekitarnya seolah semakin menipis. "Enghh.. Pak!" Tidak lama Danish menarik diri dari Thania. Seketika keduanya mengambil nafas sebanyak mungkin. "Huhh.." nafas Thania terengah Danish mengusap area bibir Thania yang basah karena perbuatannya. "Morning kiss!" ucapnya sembari tersenyum manis "Ck," Thania berdecak kesal mendengarnya. "Pak Danish selalu mencari kesempatan dalam kesempitan." "Enggak kok." "Alasan!" Thania menepis tangan Danish lalu berbalik badan menghindari tatapan suaminya. Meskipun ia terlihat kesal, namun tidak dengan hatinya. Ia menatap penampilannya dari kaca memastikan apakah ada yang rusak atau tidak. Dan ternyata lipstiknya terlihat berantakan karena perbuatan Danish. "Ihh.. make up Thania jadi berantakan, Pak." ucapnya dengan wajah cemberut "Nggak usah cemberut gitu wajahnya. Bisa dibenerin lagi kan?!" Thania mengaga tidak percaya mendengar jawaban Danish. Jawaban laki-laki itu terdengar begitu santai. "Nyebelin banget sih! Makanya jangan suka mencari kesempatan." "Makanya jangan suka menggoda saya." Danish tidak mau kalah karena disalahkan. Padahal ia tertarik karena kecantikan istrinya setiap saat. Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD