Kampus
Setelah jam kelasnya selesai Thania berniat ke kantin untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Mata pelajaran hari ini cukup menguras energy. Banyak tugas yang menumpuk, dan harus diselesaikan tepat waktu.
“Terima kasih.”
Setelah membayar Thania mencari tempat duduk. Ia memilih duduk di ujung untuk menghindari keramaian. Baru saja duduk ia tidak sengaja menatap seorang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk berdua. Mereka duduk tidak jauh dari tempatnya saat ini.
“Itu kan Pak Danish!” ucap Thania dalam hati
“Ooh.. gitu sekarang.”
Thania menatap suaminya tajam tanpa disadari Danish. Laki-laki itu terlihat tersenyum kecil saat berbicara dengan temannya. Sebagai sesama Dosen ia harus bersikap ramah, padahal di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia merasa kurang nyaman.
“Pak Danish ngapain sih berduaan dengan Bu Vanya?” gumam Thania
“Merusak pemandangan aja.”
Meskipun belum ada rasa cinta di hatinya namun Thania tidak suka jika Danish berdekatan dengan seorang perempuan. Apalagi Vanya adalah Dosen muda yang cukup cantik di kampus ini. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang mengaguminya.
“Mbak Thania ini makanannya.” ujar penjaga kantin
“—“ tidak ada respon dari Thania.
“Mbak Thania!” panggilnya sekali lagi
“—“
Karena tidak ada respon Ibu itu mengikuti arah pandangan Thania. Dan ternyata Thania sedang menatap Danish dan Vanya. Beliau tersenyum tipis. “Mbak!” panggilnya sekali lagi sembari menepuk bahu Thania. Hal itu membuat Thania terlonjak kaget.
“Astagaa.. Ibu, buat Thania terkejut aja.” ucapnya sembari mengelus dada
“Heheh.. maaf, Mbak!”
“Mbak Thania sejak tadi saya panggil tapi nggak dengar. Sibuk melamun ternyata. Ini makanannya, ya.”
Thania tersenyum kecil. “Terima kasih, Bu.”
“Sama-sama, Mbak.”
“Oh ya, saya lihat Mbak Thania lihatin Pak Danish dan Bu Vanya terus. Pasti Mbak Thania kagum dengan mereka ya? Mereka memang sering ke sini, Mbak.”
“Saya juga senang melihat mereka berdua. Terlihat cocok gitu.” ucapnya sembari tersenyum manis
Thania tersenyum canggung mendengarnya. Apa ia tidak salah dengar? Justru Danish cocok menjadi pasangannya. Bahkan mereka sudah menikah dan mempunyai seorang anak. Bisa-bisanya orang lain kagum melihat Danish bersama perempuan lain. Seketika mood’nya hancur setelah mendengar perkataan Ibu kantin itu.
“Iya, Bu.” Jawab Thania terkesan dingin.
“Kalau gitu saya permisi dulu!” Thania mengangguk sebagai jawaban.
“Ck, nyebelin banget sih!” ucapnya dengan nada kesal
Wajahnya terlihat cemberut. Dadanya bergemuruh menahan amarah. Bisa-bisanya Ibu kantin menjadi kompor, padahal sejak tadi mati-matian ia menahan amarah. Tidak, Thania tidak cemburu. Ia hanya tidak suka Danish berdekatan dengan perempuan manapun selain dirinya. Hal itu sama saja dia tidak menghargai keberadaannya sebagai seorang istri.
Thania makan dengan lahap agar cepat selesai. Ia semakin kesal melihat suaminya berduaan dengan perempuan lain. Jika lapar kenapa tidak mengajaknya makan siang? Malah makan bersama perempuan lain.
“Nyebelin!” gerutunya
Srett
Thania mendorong kursi cukup kencang, hal itu membuat mahasiswa lain menatap ke arahnya. Ia tidak peduli sekalipun menjadi pusat perhatian. Begitupun dengan Danish dan Vanya yang lansung menatapnya.
Thania melengos pergi begitu saja. Ia sempat menatap suaminya tajam namun hanya dalam hitungan detik. Setelahnya ia pergi meninggalkan area kantin. Bahkan ia tidak menghabiskan makan siangnya. Selera makannya hilang seketika.
“Thania!” ucap Danish dalam hati
“Kenapa dengannya?” tanya Vanya
Danish menggeleng sembari tersenyum kecil. Ia tidak ingin banyak bicara dengan Vanya. Ia baru tahu jika Thania di kantin ini juga. Tapi sejak kapan? Justru ia lebih tertarik dengan kepergian istrinya daripada melanjutkan pembicaraan dengan Vanya.
Danish tiba-tiba berdiri membuat Vanya terkejut. “Pak Danish mau ke mana?”
“Saya ada urusan!”
Saat ingin melangkah dengan cepat Vanya menahan lengan suaminya. “Ke mana, Pak? Bukannya kelas Pak Danish sudah selesai?”
“Em.. saya ada urusan lain.”
Danish melepas tangan Thania. Setelahnya ia melangkah pergi tanpa basa-basi. “Huhh.. Pak Danish ke mana sih? Kelihatannya buru-buru banget.” gumam Vanya
Danish berjalan cepat menyusul langkah istrinya. Namun sayang, keberadaan Thania sudah tidak terlihat. Dan ia tidak tahu ke mana perginya wanita itu. Padahal ia langsung menyusul kepergiannya.
“Ke mana Thania? Cepat sekali perginya?” ujar Danish
“Huft!” Danish menghela nafas.
Drtt.. drtt.. drtt
Danish merasakan getaran dari ponsel yang ada di dalam saku celananya. Ia mengambil ponselnya lalu melihat siapa yang mengirim pesan. Dan ternyata istrinya, Thania.
My wife
“Thania tunggu di parkiran! Jangan asik pacaran aja.”
Danish terkekeh geli setelah membaca pesan dari istrinya. Jika Thania bicara langsung di hadapannya pasti terdengar ketus. Tanpa membalas Danish langsung menuju parkiran untuk menemui istrinya.
Di sisi lain, Thania tidak berhenti menggerutu kesal. Berulang kali ia memberikan sumpah serapah pada suaminya itu. Ia semakin kesal karena Danish hanya membaca chatnya tanpa membalas. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu.
“Awas aja kalau nggak datang ke sini.” desis Thania dengan tajam
“Ekhm,” tiba-tiba Danish datang menghampiri istrinya.
Thania menatap suaminya sinis. Melihat wajah Danish menambah rasa kesalnya. “Cepetan buka mobilnya! Panas!” ujarnya dengan nada ketus
Danish menekan kunci mobilnya dan setelah itu Thania langsung masuk ke dalam. Wajahnya terlihat ketus menahan amarah. Dadanya bergemuruh hebat. Ingin rasanya ia menelan Danish hidup-hidup.
“Kamu kena…”
BRAK
“Astagfirullah.” Danish mengelus dadanya karena terkejut.
Belum selesai Danish bertanya tiba-tiba Thania menutup pintu mobil dengan cukup kencang. Thania dengan sengaja melakukan itu sebagai pelampiasan rasa kesalnya. “Kok kelihatannya marah gitu sih? Ada apa?” tanya Danish dengan wajah polos
“Ck, bisa-bisanya Danish bertanya seperti itu? Apa dia tidak sadar dengan kesalahannya?” ujar Thania dalam hati
“Ngeselin banget!”
“Marah karena kepanasan?” tanya Danish sekali lagi
Danish tidak tahu pasti penyebab Thania marah. Ia bisa melihat dari responnya. “—“ Thania memilih diam. Ia enggan menjawab.
“Huhh..” Danish menghela nafas kasar.
“Mau pulang sekarang?”
“Terserah!” jawab Thania dengan nada ketus
“Saya ada salah?”
“—“ lagi-lagi Thania diam.
“Kalau memang ada…”
“MEMANG ADA.” teriak Thania
Danish memejamkan mata saat Thania berteriak tepat di depan wajahnya. Thania mengepalkan kedua tangannya menahan amarah. Berteriak belum cukup melampiaskan semuanya. Ingin rasanya Thania mencekek leher Danish agar laki-laki itu tersadar dengan kesalahannya.
“Apa salah saya?” tanya Danish sekali lagi dengan wajah polosnya.
“Ck, Pak Danish benar-benar kelewatan ya!”
Danish mengernyitkan keningynya bingung. Ia sama sekali tidak tahu apa yang membuat Thania marah padanya. Padahal ia merasa tidak melakukan sesuatu. “Memangnya saya ngapain Thania? Saya tidak melakukan apa-apa kok.”
“Ck, nggak tahu.”
Thania bersendekap d**a. Rasanya tidak puas hanya dengan berteriak. Ia ingin berteriak tepat di telinga Danish dan menjelaskan semuanya. Danish menggaruk keningnya yang tidak gatal. Ia menarik tangan Thania lalu menggenggamnya.
Saat Thania ingin menarik tangannya Danish menahannya. “Jelasin dulu apa salah saya! Saya nggak bakal tahu kalau kamu nggak jelasin.”
“—“ Thania diam.
“Thania!”
“PAK DANISH NGAPAIN BERDUAAN DENGAN BU VANYA?” teriaknya menggelegar satu mobil.
Danish memejamkan matanya kuat saat Thania berteriak. Bisa-bisa telinganya pecah jika terus-terusan mendengar suara teriakan Thania. Namun setelahnya Danish tersenyum. Dan sekarang ia tahu apa permasalahannya.
“Ooh.. kamu cemburu?” ujar Danish sembari menahan senyum
“Ha?”
Thania menarik tangannya dengan kasar. “Pak Danish jangan ge’er, ya. Ngapain Thania cemburu, nggak ada gunanya.”
“Oh, ya? Terus kalau nggak cemburu apa namanya?” Danish menaik turunkan alisnya menggoda
Thania mengalihkan pandangannya. Ia malu sendiri melihat respon Danish. Padahal ia memang tidak cemburu. Untuk apa ia cemburu? Ia bahkan tidak mencintainya. "Ck, nggak usah menatap Thania seperti itu! Thania memang tidak cemburu."
"Pak Danish jangan terlalu percaya diri." lanjutnya dengan nada ketus
"Kalau nggak cemburu terus kenapa kamu marah-marah, hm? Padahal saya hanya..."
"HANYA APA?"
"PAK DANISH NGGAK MENGHARGAI THANIA BANGET SIH? THANIA KAN ISTRI PAK DANISH!"
Thania melampiaskan semua kekesalannya yang tertahan sejak tadi. Bukannya mengerti Danish malah menguji kesabarannya. Dan sekarang amarahnya terlampiaskan. Namun di lubuk hatinya yang paling dalam ia masih kesal.
Bukannya takut Danish justru tersenyum menatap istrinya. "Sabar, Thania! Nggak boleh marah-marah seperti itu, ah."
"BIARIN AJA!" sentak Thania
"Lebih baik kita pulang sekarang! Kita selesaiin semuanya di rumah."
"Nggak enak kalau berantem di tempat umum. Apalagi kita masih di area kampus." ujar Danish
"Terserah!"
Thania bersendekap d**a menahan amarah. Awas saja jika Danish menghindar darinya. Akan ia pastikan hidup Danish tidak akan tenang. Setelahnya Danish mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan area kampus. Mereka akan menyelesaikan permasalahan ini di rumah.
Next>>