Bab 3. Tidak ingin menikah lagi

1006 Words
Seorang pelajar hamil diluar nikah, headline news dengan judul seperti itu pernah terpampang nyaris di semua status media sosial entah siswa atau orang tua murid yang pernah bersekolah di SMA tunas bangsa. Hanya melihat judulnya saja sudah membuat Alifa meringis, dirinya menjadi hot topik kala itu, bukan tentang prestasi yang dapat dibanggakan tapi aib yang sangat ingin Alifa tutupi. Kesalahan fatal yang pernah dilakukannya, saat usia masih sangat muda dan kerap mengambil keputusan secara impulsif. Menyerahkan mahkota kesucian pada lelaki yang dianggap begitu mencintainya, namun ternyata justru dengan mudah meninggalkannya tanpa belas kasihan. Setelah pernikahannya kandas hanya dalam waktu beberapa bulan saja, banyak yang menyudutkan Alifa dan menyalahkannya saat itu, dimana sebagian seorang wanita ia terlalu mudah terbuai dan mempercayai lelaki. Tidak sedikit yang menyalahkannya karena terlalu terburu-buru menikah, namun saat itu kondisinya sudah sangat tidak memungkinkan untuk mengulur waktu, kehamilannya sudah menginjak usia delapan Minggu. Apapun yang dilakukan Alifa pada saat itu memang selalu terlihat salah, menikah salah, berpisah pun masih disalahkan. "Alifa, kapan bisa bertemu?” Sebuah pesan singkat dari dokter Andri, untuk pertama kalinya dokter itu menghubungi Alifa terlebih dahulu. Biasanya Alifa lah yang akan menghubunginya terlebih dahulu untuk menanyakan kelanjutan rencana cangkok jantung Kiara. “Saya belum bisa memastikan, Dok. Kondisi Kiara sangat baik, selain itu saya pun sedikit sibuk.” Alasannya. Entah mengapa setelah tahu Adrian menjadi salah satu dokter yang akan menangani proses operasi Kiara nantinya, semangat Alifa perlahan surut. "Tolong secepatnya hubungi saya jika sudah ada waktu luang, ada banyak hal yang perlu kita bahas. Tentang proses cangkok jantung Kiara.” “Baik, Dok.” Alifa menaruh ponselnya di dalam laci, kembali menatap layar komputer dengan tatapan hampa. Ia memijat pangkal hidung yang terasa sakit, tiba-tiba saja kepalanya berdenyut nyeri seperti beberapa waktu lalu. Alifa tidak berbohong saat mengatakan tengah dalam keadaan sibuk, pasalnya beberapa proyek besar tengah dalam tahap persiapan yang memungkinkannya sibuk dalam waktu dekat ini. Tapi sesibuk apapun dirinya, Alifa tetap akan memprioritaskan kesehatan Kiara, ia akan berusaha membagi waktu walaupun dalam kondisi sangat sibuk. "Bagaimana dengan konsep perencanaan taman hiburan kita? Apa sudah mendekati rampung dan hanya tinggal meninjau lokasi saja?” tanya Pak Arif. Meeting dimulai, Alifa menjadi salah satu bagian dari tim inti bersama Kinanti. Kepala ketuan tentu saja Kinanti, Alifa bertugas sebagai salah satu asisten pribadi Kinanti, meski begitu kemampuan Alifa tidak diragukan lagi dia begitu memahami ilmu desain yang digelutinya selama ini. "Konsepnya ada pada Alifa. Untuk detailnya kami akan mengirimkan salinannya." balas Kinanti yang juga ada di ruangan itu. "Nanti saya periksa ulang, tapi saya yakin kalian sudah mengupayakan yang terbaik." “Sudah, Pak. Hanya tinggal meninjau lokasi proyek saja, Minggu ini atau paling lambat Minggu depan.” "Proyek taman hiburan akan mulai dikerjakan dua minggu lagi, sebelum proyek tersebut benar-benar berjalan tolong pastikan semuanya siap agar tidak ada kendala saat proses berlangsung." "Baik, Pak." "Semoga semuanya berjalan dengan lancar tanpa kendala.” Pak Arif beranjak dari tempat duduknya. “Baik, Pak.” semuanya serempak menjawab. Meeting kali ini berjalan sangat cepat karena semuanya sudah terencana dengan baik. "Kenapa?Kelihatan nggak semangat gitu, padahal yang paling antusias sama taman hiburan itu kamu. Katanya Kiara suka sekali sama desain yang kamu buat." Kinanti mengikuti Alifa menuju pantry, wanita itu memang selalu mengekori Alifa kemanapun. "Aku suka desain, menggambar adalah hobiku sejak dulu, tapi aku lebih tertarik pada desain pakaian. Desainer fashion, bukan desain interior dan eksterior seperti sekarang.” Alifa meneguk air dingin di gelas berukuran besar hingga habis. Tenggorokannya kering sekali. Akhir-akhir ini ia kerap merasa sangat haus tapi rasa lapar seolah perlahan berkurang. "Tapi desain kamu nggak ada yang mengecewakan semuanya bagus.” Alifa menatap sejenak ke arah Kinanti dan menghela lemah. "Aku berusaha adaptasi dengan lingkungan yang begitu keras, termasuk saat menjalankan pekerjaan ini. Walaupun pada akhirnya aku menyukai pekerjaan ini tapi jauh di lubuk hatiku yang paling dalam aku masih mencintai impianku menjadi seorang desainer ternama.” “Nggak semua hal baik akan terjadi di hidup kita, tapi kita bisa mengusahakan yang terbaik untuk hidup. Kenapa sih? Sendu banget hari ini? Belum makan ya? Mau aku traktir nggak?” Alifa terkekeh. “Mau dong, siapa yang nggak mau di traktir.” Alifa tidak secara gamblang menceritakan kegelisahan yang dirasakannya saat ini, tapi hadirnya Kinanti benar-benar membuat hatinya sedikit membaik. “Kamu tahu nggak di kantor kita bakal ada pemimpin baru, alias bos baru.” saat ini Alifa dan Kinanti ada di sebuah restoran yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor. Keduanya kerap menghabiskan makan siang di tempat yang sama sepanjang tahun, selain karena lokasinya yang sangat dekat dengan kantor juga karena restoran tersebut memiliki bang meni yang membuat keduanya tidak pernah bosan setiap harinya. “Sempet denger,” Gosip memang selalu beredar dengan begitu cepat, termasuk informasi mengenai sosok pemimpin baru yang mungkin akan membawa perubahan baru pada suasana dan situasi kantor saat ini. “Katanya sih wanita muda, cantik, sexy.” Alifa tertawa mendengarnya. “Syukurlah, aku lebih berharap wanita cantik dan sexy daripada lelaki tampan, atletis dan playboy.” “Yahh kamu benar-benar mematahkan harapanku, Al.” “Atasan seorang wanita masih berpotensi menjadi teman, tapi atas seorang lelaki berpotensi menjadi sumber masalah.” “Kenapa?” tanya Kinanti penasaran. “Bayangkan saja berapa banyak wanita yang akan memperebutkan nya? Bersaing secara sehat atau tidak itu pasti terjadi, walaupun aku tidak berniat sedikitpun, tapi aku tetap akan berada ditengah-tengah kalian” Kinanti terkekeh, “Harusnya kamu tuh semangat cari cowok ganteng dan mapan, Al. Otak kamu udah terlalu tumpul pada pesona laki-laki.” “Bukan tumpul lagi tapi udah rusak sih.” Alifa membenarkan. “Dirusak sama lelaki ganteng dan kaya, makanya aku trauma sama lelaki kaya.” “Oh,, jadi maunya lelaki miskin?” “Aku nggak mau menikah, Kiara sudah melengkapi hidupku.” “Jangan gitu dong, Al. Kamu masih muda,” Alifa hanya menggeleng saja, saat ini ia memang tidak berniat untuk kembali membangun rumah tangga. Jangankan menjalin hubungan serius dengan lawan jenis, membuka hatinya pun tidak. Alifa benar-benar sudah menutup rapat pintu hatinya, sejak hari itu, hari dimana Adrian menceraikan dan meninggalkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD