"Kalian bertemu lagi?" Ijal menghampiri saat mendapati Alifa duduk dengan posisi membungkuk. Kepalanya ada di atas meja, hingga dahi menempel sempurna di atasnya.
"Nggak," Alifa menghela lemah.
"Kupikir kalian bertemu lagi hari ini, raut wajahmu mirip koran, lecek.” Ijal terkekeh.
“Hanya lelah kerjaan aja sih, tapi emang sedikit kepikiran juga soal kelanjutan proses cangkok jantung Kiara.”
Mengingat kelanjutan rencana operasi cangkok jantung Kiara, membuat Alifa dilanda dilema..
“Aku sangat ingin Kiara sembuh, tapi kenapa harus Adrian?!” Alifa meringis, terlihat ketakutan sekaligus sedih di kedua matanya.
"Kenapa aku harus ketemu sama dia lagi, Bang?." Perlahan Alifa mengangkat kepala dan melihat ke arah Ijal yang sudah duduk tepat di hadapannya.
"Aku akan menganggap semua ini hanya kebetulan yang tidak direncanakan. Tapi sialnya, dia justru menjadi dokter yang kutunggu selama ini, si tangan malaikat yang sudah dinantikan. Gila bukan?"
Ijal tersenyum samar. "Kita akan mengusahakan cara lain, jangan sedih.”
Alifa menganggukan kepalanya, "Benar, kita harus segera mencari alternatif lain untuk proses cangkok jantung Kiara.”
Jika Andrian adalah satu-satunya dokter terbaik di negara ini, maka Alifa akan mencari dokter terbaik di negara lain. Sebisa mungkin Alifa akan menghindari pertemuan diantara mereka, bahkan kalau bisa tidak peru bertemu lagi. Selamanya.
"Kalian sudah bertemu lagi?" tanya Ijal lagi.
“Belum.” Alifa menggelengkan kepalanya. “Kalau bisa jangan ketemu lagi sih.”
“Kalian bakal ngobrol apa kalau ketemu?” Ijal menatap jahil ke arah Alifa.
"Menurutmu, aku harus bicara seperti apa? Bertanya kabar? Dia pasti hidup dengan baik setelah bercerai, karena dia hanya perlu mencari wanita lain, lalu kembali melanjutkan hidup dengan baik dan terencana." Nada bicara Alifa meninggi.
"Kamu seharusnya marah saat bertemu dia, jangan diam dan pura-pura mengabaikannya.”
“Lebih dari sekedar ingin marah, Bang. Tapi aku masih normal, nggak mungkin marah-marah di depan umum, di hari pertama kami bertemu lagi.”
Kenyataan pahit yang membuat cintanya berubah menjadi benci. Batas cinta dan benci memang sangat tipis dan rapuh. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa selama ini Alifa kerap ingin tahu bagaimana keadaan Andrian di luar sana, apakah lelaki itu hidup dengan baik, atau hidup dengan penuh luka seperti dirinya, namun setelah melihat sosoknya secara langsung beberapa hari lalu, Alifa sadar jika ternyata lelaki itu memang menjalani hidupnya dengan sangat baik. Hanya dirinya yang masih hidup dalam kubangan luka yang sama. Tidak berubah dan tetap berada di titik yang sama.
Kiara Amora, gadis kecil yang selalu antusias dalam segala hal. Dia tumbuh dengan baik, walau memiliki kekurangan yang kerap membuatnya sulit beraktivitas normal seperti anak seusianya. Alifa tidak mengekang, atau membatasi gerak dan keinginan Kiara.
Anak itu sekolah bersama teman lainnya di salah satu taman kanak-kanak ternama, tentunya dengan biaya yang tidak murah.
Alifa tidak mempermasalahkan biaya, asalkan anaknya mendapatkan apa yang diinginkan dan hidup bahagia. Bagi Alifa, Kiara adalah satu-satunya tujuan hidupnya hingga ia rela memberikan seluruh hidup untuk Kiara.
“Hai cantik, lagi apa?” selepas mandi, Alifa mengunjungi Kiara di kamarnya. Gadis kecilnya sudah memiliki kamar sendiri, dengan tema Barbie berwarna merah muda. Kamar yang didesain khusus Alifa sendiri dan menjadi salah satu kebanggaan Alifa sebab ia bisa mewujudkan impiannya sejak dulu yakni membuatkan kamar untuk putri kecilnya.
“Gambar. Lihat ini Bunda,,” Kiara memamerkan hasil karyanya, sebuah gambar taman bunga dengan beraneka ragam tanaman.
“Wah,, bagus sekali.” Kiara memiliki bakat yang sama dengannya yakni senang' menggambar. Untuk menunjang hobi putri kecilnya, Alifa membeli semua keperluan menggambar dari mulai pensil warna, crayon, sampai cat air.
“Bunda mau lihat gambar yang lain?”
“Tentu dong,,,”
Ditengah kesibukannya bekerja, Alifa selalu menyempatkan waktu untuk menemani Kiara belajar atau hanya sekedar menggambar, seperti yang dilakukan hari ini. Quality time yang terjaga dengan sangat baik, Alifa tidak ingin hubungan keduanya merenggang hanya karena kesibukannya mencari nafkah sebagai seorang ibu dan juga seorang ayah.
Alifa adalah definisi ibu rumah tangga dan kepala keluarga sekaligus.
Disela-sela mengagumi hasil karya Kiara, diam-diam Alifa pun memperhatikan wajah gadis kecilnya. Mata, hidung dan bibir, semuanya kopian sang ayah. Kiara adalah Adrian versi perempuan, keduanya sangat mirip.
Saat mengamati wajah Kiara, tiba-tiba saja perasaan sedih itu kembali menyeruak, menumbuhkan sakit yang tidak benar-benar sembuh. Alifa merasa nafasnya sesak, dibagian d**a berdenyut nyeri hingga sulit menahan desakan air mata walaupun sudah ditahannya.
“Bunda, kenapa nangis?”
Tetesan air mata itu mengenai gambar Kiara, membuat anak kecil itu terkejut saat melihat sang ibu menangis.
“Bunda sakit?”
“Iyah.” Alifa segera menyeka air mata di wajahnya.
“Mana yang sakit?” Dengan tatapan polos dan ingin tahu, Kiara memperhatikan wajah Alifa.
“Ini, disini.” Alifa memegangi dadanya.
“Bunda sakit jantung? Sama seperti Kia?”
“Iya. Sakit sekali disini,,,”
“Sini, Kia obatin.”
Kiara mendekatkan wajahnya mencium tepat di jantung Alifa. “Nggak apa-apa, nanti sembuh ya?”
“Terimakasih sayang…”
Kiara memeluk Alifa dengan erat, memberikan kehangatan dan kelembutan yang begitu menenangkan namun air matanya justru semakin deras mengalir.
“Maafin Bunda, sayang…” lirihnya pelan.