Apakah selama menjanda tidak ada lelaki yang mendekati Alifa?
Tentu saja ada.
Rama salah satunya.
Kedekatan yang terjalin selama beberapa tahun akhirnya menumbuhkan benih cinta di hati Rama. Keduanya berada di satu divisi yang sama, hingga intensitas pertemuan keduanya semakin sering, bahkan nyaris setiap hari.
Rama sempat mengutarakan isi hatinya, bahkan menunjuk kesungguhannya untuk lebih serius dalam menjalin hubungan, hanya saja Alifa selalu dihantui keraguan untuk kembali memulai hubungan baru. Entah masih trauma atau mungkin ada bagian dari masa lalu yang belum benar-benar selesai.
Rama adalah calon suami ideal, tampan mapan dan perhatian, bahkan Rama tahu masa lalu kehidupan Alifa, juga dengan statusnya sebagai seorang janda satu anak. Rama tidak pernah mempermasalahkan itu, ia justru terang-terangan menerima semua kekurangan dan kelebihan Alifa.
Sakit hati dan trauma yang begitu besar masih menjadi hal yang sangat mengerikan bagi Alifa. Tidak mudah untuk kembali sembuh, apalagi membuka hati untuk lelaki lain.
Tidak ingin memberikan harapan palsu pada Rama, Alifa selalu menegaskan bahwa hubungan mereka hanya sekedar teman biasa. Tidak lebih. Hanya saja penolakan itu tidak lantas membuat Rama mundur, ia justru masih berusaha untuk mendapatkan hati Alifa.
“Hari ini kita akan bertemu dengan pimpinan yang baru, seorang wanita muda yang tidak hanya memiliki paras cantik tapi juga kemampuan yang luar biasa. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik bersama beliau.”
Momen pergantian pimpinan kerap terjadi entah satu atau dua tahun sekali. Karena perusahaan memiliki banyak pemilik saham, kepemilikan pun tidak hanya pada satu orang, tapi banyak. Berganti atasan sudah menjadi hal lumrah, Alifa dan tim yang lain sudah merasakan bagaimana perubahan dari pemimpin satu ke yang lainnya. Tidak mudah, tapi sering kali mendatangkan hal baru yang tidak pernah diduga.
"Kita sambut kedatangan, Bu Rianti”
Tepuk tangan mengiringi kedatangan sosok wanita cantik yang nantinya akan menjadi bos di kantor tempat Alifa bekerja. Sempat berpikir bahwa sosok bos yang akan menggantikan pimpinan sebelumnya adalah wanita tua berparas judes tapi justru sebaliknya. Sangat cantik dan usianya pun masih muda. Senyumnya mengembang sempurna, menyapa satu-persatu yang hadir di ruangan tersebut.
“Alifa,” ia memperkenalkan diri, disambut uluran hangat oleh Rianti.
“Rianti,” balasnya dengan senyum.
Perkenalkan singkat terjadi, sebelum akhirnya Alifa kembali ke meja masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan. Decak kagum tidak hentinya terdengar, Alifa pun mengakui kecantikan wajah Rianti yang lebih mirip model.
“Siang ini bisa bertemu?”
Pesan singkat dari dokter Andri membuat Alifa meringis pelan. Rasanya terlalu jual mahal saat situasi berbalik dimana dokter Andri yang lebih dulu menghubunginya. Jika sebelumnya Alifa akan dengan sangat rajin menghubungi dokter Andri, kali ini posisinya justru terbalik.
“Bisa, dok. Maaf, saya baru sempat.” Alifa menjawab dengan terpaksa, sudah tidak ada alasan lagi mangkir dari ajakan dokter Andri, situasinya sangat sulit dan sampai saat ini Alifa belum menemukan dokter pengganti, selain dokter Andri.
“Tidak apa-apa, saya mengerti.” balasnya lagi. “Saya tunggu pukul lima sore, di ruang praktek saya.”
“Baik.”
Usai membalas pesan, Alifa mengetuk-ngetuk ponsel ke dahinya, pelan tapi lumayan sakit.
Sejak hari itu, hari dimana ia bertemu Adrian, ia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah sakit. Segala alasan dilakukan saat dokter Andri mengajaknya bertemu.
Alifa tidak ingin dicap sebagai pasien jual mahal, bagaimanapun juga Alifa butuh dokter Andri untuk kesembuhan Kiara.
“Kenapa?” Rama yang menyadari kelakuan random Alifa langsung mendekat, memperhatikan wajahnya dengan seksama.
“Sakit kepala?” Selidiknya.
“Nggak,” Alifa menaruh ponsel di atas meja, mungkin saja meninggalkan bekas merah di keningnya. Perbuatan yang akan ditertawakan Rama. .
“Ada waktu? Mau makan bersama?” ajaknya.
“Kapan? Nanti?”
“Boleh kapan aja, kayaknya kita udah lama nggak makan bareng. Kinanti juga boleh diajak kalau mau,” sejak hari penolakan beberapa waktu lalu, Alifa memang terkesan menjaga jarak, oleh karena itu Rama selalu mencari cara lain untuk mendekati Alifa, salah satu caranya dengan melibatkan Kinanti.
“Tapi aku harus ke rumah sakit, ketemu dokter Andri.”
“Kalau begitu kita sama-sama ketemu dokter Andri, setelah itu makan malam bersama. Bagaimana?”
“Boleh.”
Alifa tidak yakin pertemuan kali ini tidak melibatkan Adrian, lelaki itu partner dokter Andri bahkan digadang-gadang sebagai tangan malaikat. Sangat memungkinkan untuk mereka kembali bertemu nanti, lantas apa yang harus Alifa lakukan?
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Alifa sudah menyiapkannya diri untuk segala kemungkinan buruk saat bertemu Adrian. Tidak pernah siap, walaupun kemungkinan untuk bertemu selalu ada.
Sampai di ruang kerja dokter Andri, ditemani Rama karena Kinanti absen ikut. Sudah terlanjur janji makan malam dengan lelaki itu, Alifa pun terpaksa mengajaknya bertemu dokter Andri.
“Selamat sore, Dok. Maaf saya baru sempat datang berkunjung.” Alifa menunjuk sesal.
Di ruang kerja dokter Andri, Alifa tidak melihat siapapun, hanya seorang perawat yang berlalu-lalang sejak tadi dengan membawa catatan di tangannya.
“Tidak apa-apa, saya mengerti.” balasnya.
“Tumben Kinanti nggak ikut, kemana dia?”.
Alifa dan Kinanti seperti satu paket yang sama, kemanapun mereka selalu bersama. Kinanti selalu antusias terlibat dalam proses pengobatan Kiara, walaupun bukan bagian dari keluarga tapi Kinanti selalu menempatkan diri sebagai bagian dari keluarga dekat.
“Sibuk, nyiapin presentasi besok.”
“Oh pantes.”
Beberapa saat tanpa ada tanda-tanda kehadiran Andria membuat Alifa sedikit merasa lega. Banyak berinteraksi dengan dokter Adrian dan Rama di sampingnya. Sampai tiba-tiba pintu terbuka, sosok lelaki bertubuh jangkung itu datang.
“Nah,,, yang kita tunggu-tunggu akhirnya datang. Ini dia tokoh utamanya, dokter Adrian, spesialis bedah dalam.” Dokter Andri memperkenalkan
Alifa tertunduk, menyembunyikan wajahnya.
“Alifa, ini dokter Adrian. Beliau yang akan bertanggung jawab penuh untuk operasi jantung Kiara.”
Perlahan, Alifa mengangkat kepalanya, menunjukkan wajahnya dan tersenyum samar ke arah Adrian.
“Selamat sore, Dok. Saya Alifa,” pura-pura tidak mengenal adalah cara terbaik agar kegugupan yang dirasakannya tidak terlihat jelas.
“Orang tua Kiara Amora, pasien dengan kondisi gagal jantung bawaan sejak lahir.” jelas dokter Andri.
Adrian tidak menyambut uluran tangan Alifa untuk beberapa saat, lelaki itu justru menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.