“Hah? Kirana yang masak?” Ibu Barra langsung menoleh cepat. Kali ini bukan marah, tetapi kaget. “Kirana? Kamu yang buat semua ini?” Kirana mengangguk pelan, suaranya nyaris berbisik. “Iya, Mah… Aku bangun lebih pagi. Aku pikir… Mungkin aku bisa membantu menyiapkan sarapan.” Ia membersihkan tenggorokannya, mencoba menjaga wibawa. “Masakannya memang… Sangat enak,” katanya pelan. “Terima kasih, Kirana.” Kirana mengangguk sopan, meski hatinya terasa hangat untuk pertama kalinya sejak masuk rumah ini. Nenek menambahkan sambil tersenyum lembut. “Mungkin… Pagi ini tak seburuk yang kita kira.” Dan untuk sesaat, meski masih banyak masalah yang menunggu di balik hari, meja makan keluarga itu dipenuhi kehangatan yang tidak diduga. Begitu Nenek mengucapkan bahwa masakan itu adalah buatan

