Bab 08 - Pemakaman

1074 Words
Keesokan harinya, langit mendung seolah ikut meratapi kepergian Ayah Kirana dan Davina. Udara lembap menyelimuti desa kecil itu ketika para tetangga mulai berdatangan ke halaman rumah sederhana keluarga Kirana. Prosesi pemakaman berjalan dengan khidmat. Penuh isak yang tertahan-tahan. Ayah Kirana dimakamkan di samping makam istrinya. Ibu Kirana dan Davina yang telah meninggal bertahun-tahun lalu. Dua nisan itu kini berdiri bersebelahan. Dipisahkan hanya oleh tanah merah yang masih basah. Kirana menggenggam tangan Davina erat-erat. Tubuhnya bergetar menahan tangis. Davina sudah tak sanggup berkata apa-apa. Matanya bengkak, wajahnya pucat. Mereka menaburkan bunga perlahan. Seakan takut mengganggu tidur abadi kedua orang tuanya. Di kejauhan, Barra berdiri kaku. Setelan hitamnya tampak kontras dengan suasana pemakaman yang sederhana. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras, tetapi matanya… Matanya tak bisa berbohong. Ada sesal, ada marah kepada dirinya sendiri, ada luka yang tak bisa ia ucapkan. Namun ia tetap diam. Tidak bergerak mendekat. Tidak mencoba menyentuh Kirana. Tidak mengatakan apa pun. Sebab ia tahu, kehadirannya bukanlah hal yang diinginkan di saat seperti ini. Hanya dari jauh ia menatap Kirana. Perempuan yang kini menjadi istrinya karena kecelakaan yang melibatkan dirinya. Tetapi juga perempuan yang ia tahu sedang sangat membencinya. Di sisi lain, seorang wanita dengan coat hitam berdiri dengan tatapan tajam mengamati Barra. Sekretarisnya. Orang yang selama ini diam-diam saling mencintai dan sangat membenci melihat Barra di dekat perempuan lain. Bahkan meski perempuan itu adalah istrinya secara sah. Ia melipat tangan di depan d**a. Seakan menghalangi jalur Barra untuk mendekat. “Jangan buat masalah hari ini, Tuan,” gumamnya pelan. Cukup untuk membuat Barra melirik. “Biarkan mereka berkabung tanpa kehadiran Anda merusaknya.” Pemakaman berjalan dengan lancar. Meski suasananya penuh duka yang menusuk hingga ke tulang. Doa-doa dipanjatkan, tangan-tangan menyalami Kirana dan Davina satu per satu. Memberi penguatan yang sebenarnya tak mampu menutup luka yang baru saja menganga. Tanah merah mulai diratakan. Nisan Ayah mereka kini berdiri tenang di samping makam Ibu mereka. Angin pelan berhembus. Mengibaskan ujung kerudung Kirana yang sejak tadi dipenuhi butiran tanah dan air mata. Setelah para tetangga pulang satu per satu, halaman makam mulai sepi. Hanya tersisa keluarga dekat dan beberapa kenalan. Kirana berjongkok di depan dua nisan itu. Jemarinya menyentuh tanah lembap yang masih hangat oleh matahari. “Ayah… Ibu… Kalian sudah bersama lagi,” bisiknya, suaranya pecah. Davina berjongkok di sampingnya. Memegang bahunya. Sama-sama berusaha kuat meski tubuh mereka gemetar. Nenek Barra sudah lebih dulu menghampiri Kirana dan Davina untuk memastikan mereka pulang dengan tenang. Ia berdiri tak jauh. Menatap Barra dengan pandangan yang ia sendiri tahu penuh penilaian. Sementara itu, sekretaris Barra berdiri lebih dekat padanya. Seolah menjadi tembok antara Barra dan semua yang berhubungan dengan Kirana. Ia memandang Kirana dengan sedikit sinis. Seakan ingin memastikan tidak ada ruang bagi Barra untuk mengulurkan tangan atau pun kata-kata simpati. “Tuan, mari. Tidak ada alasan lagi berada di sini,” ucap sekretaris itu dengan nada datar namun tegas. Barra menoleh sebentar dan tatapannya kembali jatuh pada Kirana yang masih menunduk di depan makam Ayahnya. Ada perasaan yang tak mampu ia jelaskan. Barra menutup mata sejenak. Menarik napas panjang. Ia tahu itu benar. Hari ini bukan tentang dirinya. Hari ini adalah hari Kirana melepaskan orang terakhir yang benar-benar ia punya. Tanpa ia sadari, Kirana berdiri perlahan. Matanya basah, wajahnya pucat. Tetapi ia menatap nisan itu dengan kekuatan yang sulit dipercaya. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata, “Ayah… Aku janji akan tetap kuat.” Dan pemakaman hari itu berakhir dengan kesunyian yang panjang. Menyisakan jarak yang semakin nyata. Jarak antara Barra, laki-laki yang kini menjadi suaminya, dan Kirana, perempuan yang kehilangan dunia dalam sehari. Kirana dan Davina pergi meninggalkan pemakaman. Mereka berdua kembali ke rumah sederhana yang dimana di dalamnya penuh dengan kenanangan indah bersama Ayah dan Ibunya. Dibelakang, Nenek Barra mengikuri langkah mereka berdua. Ketika mereka sampai di depan rumah kecil keluarga Kirana, Nenek itu menarik napas panjang lalu berkata dengan lembut namun tegas, “Kirana, Davina… Mulai malam ini kalian ikut tinggal bersama Nenek.” Kirana langsung mengangkat wajahnya, terkejut. “Nenek… Kami tidak ingin merepotkan. Rumah ini masih bisa kami tempati. Kami bisa mengurus diri kami sendiri.” Davina mengangguk pelan. Meski jelas sekali ia masih ketakutan berada di rumah itu hanya berdua. Namun Nenek Barra menggeleng kuat-kuat. “Kamu sekarang istri sah Barra. Dan Davina adalah adikmu yang harus kamu lindungi. Tempat kalian sekarang bersama keluarga suamimu.” Kirana tercekat. Kata istri Barra masih menusuk seperti duri yang belum bisa ia tarik keluar. Tidak ada sedikit pun bayangan bahagia dari status itu. Hanya luka dan tanggung jawab yang terasa terlalu besar. Sebelum Kirana sempat menjawab, suara langkah cepat terdengar dari belakang. Barra datang, wajahnya tegang. “Nenek,” panggil Barra. Suaranya rendah namun penuh keberatan. “Kita tidak perlu membawa mereka. Kirana bisa tinggal di rumahnya sendiri. Mereka punya kehidupan di sini.” Nenek Barra menatap cucunya tajam. Tatapan yang bahkan membuat Barra terdiam. “Berhenti bicara seolah kamu tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi. Kalian sudah menikah. Tanggung jawabmu ada pada istrimu dan keluarga kecilnya.” Barra mengepalkan tangan. “Aku tidak menolak tanggung jawab. Tapi membawa mereka ke rumah kita akan memperumit keadaan. Kirana jelas tidak nyaman berada dekat denganku. Begitu pun aku. Aku tidak nyaman berada di sampingnya.” Kirana menunduk dalam-dalam. Merasa kedua nama mereka disebutkan membuat suasananya semakin sesak. Namun Nenek itu melangkah maju. Suaranya meninggi sedikit. “Dia tidak nyaman karena keadaan kacau! Dan keadaan itu terjadi saat kamu diam saja! Kirana baru kehilangan Ayahnya. Dia butuh tempat aman. Davina butuh perlindungan. Kalian tidak punya siapa-siapa lagi.” Barra memalingkan wajah. Jelas tidak bisa membantah. Ia tahu Neneknya benar, tetapi hatinya… Terlalu penuh konflik. Nenek Barra menepuk punggung Kirana pelan. Nada suaranya kembali lembut. “Nak, jangan merasa merepotkan. Nenek tidak punya banyak keluarga di dunia ini. Sekarang, kamu dan Davina termasuk di dalamnya.” Kirana menelan haru yang hampir membuatnya menangis lagi. Ia menatap Davina yang hanya menggenggam tangannya lebih erat. “Baik, Nek…” suara Kirana bergetar. “Kami ikut.” Barra menutup mata sejenak. Merasakan hatinya semakin berat. Ia menoleh perlahan, menatap Kirana dengan perasaan campur aduk yang tidak ia ungkapkan. Sekretarisnya yang berdiri beberapa meter dari mereka terlihat tidak senang sama sekali. Rahangnya mengeras melihat keputusan itu. Dan hari itu, di tengah sisa aroma tanah basah pemakaman yang belum hilang, kehidupan Kirana dan Davina berubah lagi. Kali ini menuju rumah keluarga Barra. Rumah yang penuh kemewahan. Namun juga penuh rahasia, konflik, dan batas-batas yang belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD