Bab 09 - Hari Pertama Menjadi Istri CEO

1035 Words
Setibanya di rumah besar keluarga Barra, suasana terasa canggung sejak mereka melangkah melewati pintu utama. Nenek Barra menyambut mereka dengan senyum hangat. Namun tatapannya tetap tegas. Seolah tak memberi ruang untuk penolakan apa pun. “Davina, kamar kamu ada di lantai bawah,” ucap Nenek sambil menunjuk ke arah lorong kanan. “Kalau butuh apa-apa, bilang saja pada bibi Eli.” Davina mengangguk sopan. Memeluk tasnya erat-erat. Dia masih terlihat gugup, namun ada sedikit rasa aman karena tidak harus satu lantai dengan kakak iparnya, Barra. Kemudian Nenek Barra menoleh pada Kirana dan Barra yang berdiri bersebelahan namun menjaga jarak. “Dan kalian berdua…,”Nenek tersenyum tipis. “Kamar kalian ada di atas. Kamar pengantin.” Mata Kirana sedikit membesar. Barra yang biasanya tenang, tiba-tiba mengernyit dan menoleh cepat pada neneknya. “Nek… Kita bisa—” “Tidak ada yang bisa diubah.” Nenek memotong tegas, namun lembut. “Kalian sudah menikah. Kalian tinggal bersama seperti pasangan suami istri lainnya.” Tak ada ruang membantah. Nenek berbalik pergi, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang menekan. Barra menghela napas panjang. “Baik… Ayo.” Nada suaranya datar. Tak berperasaan. Seolah hanya menjalankan kewajiban. Kirana mengikuti di belakangnya menaiki tangga. Hatinya berat. Bukan karena Barra bersikap dingin, tapi karena semuanya terasa begitu cepat. Dia tidak membenci Barra. Hanya saja, mereka sama-sama terjebak dalam takdir yang bukan mereka pilih. Saat pintu kamar terbuka, Kirana terpaku. Ruangan itu luas. Dengan satu ranjang besar di tengah. Jelas hanya satu. Barra menahan pintu, memandang ruangan itu sejenak. “Aku tidur di sofa,” katanya akhirnya. Mencoba mencairkan suasana dengan sedikit jarak. Kirana menggeleng cepat. “Aku bisa tidur di sofa. Ini rumah kamu.” “Aku yang akan tidur di sofa,” ulang Barra, nadanya lebih tegas namun tetap sopan. “Kamu… Tamu di sini.” Kirana menunduk. Jemarinya meremas ujung tas. “Kita bukan tamu atau tuan rumah, Mas. Kita… Suami istri. Walaupun bukan karena cinta.” Ucapan itu membuat Barra terdiam. Ada sesuatu di matanya. Semacam rasa bersalah yang tidak ingin dia tunjukkan. Akhirnya dia berkata pelan. “Aku akan tetap jaga jarak, Kirana. Aku tidak akan menyulitkan kamu. Dan aku tidak akan pernah bisa mencintainu.” Kirana mengangkat wajah. Menatapnya tanpa marah. Hanya lelah. “Aku juga tidak berniat membuat semuanya sulit.” Keheningan kembali menyelimuti mereka. Untuk sejenak, hanya suara jam dinding yang terdengar. Di bawah sana, Davina menatap ke atas dengan perasaan tak menentu. Di dalam kamar luas itu, Barra dan Kirana sama-sama sadar. Pernikahan mereka baru saja dimulai. Namun jalan menuju saling mengenal, apalagi mencintai, mungkin akan panjang dan penuh luka. Atau bahkan itu semua tidak akan pernah terjadi. Di kamar yang sunyi itu, Barra dan Kirana masih berdiri dalam kebisuan yang canggung. Barra sibuk mengatur barang-barangnya. Sementara Kirana hanya duduk di tepi ranjang. Mencoba menenangkan dadanya yang terasa berat. Tiba-tiba ponsel Barra berdering. Nada dering itu terdengar jelas. Memecah kesunyian. Barra mengambil ponselnya dan melihat nama yang muncul di layar. Sejenak, rahangnya mengencang. Tanpa berkata apa pun kepada Kirana, Barra berjalan cepat menuju balkon kamar dan menutup pintu gesernya. Seolah ingin menciptakan batas. Kirana menatap punggungnya, bingung. Ada siapa? Kenapa dia harus ke balkon? Ia tak bergerak, namun telinganya menangkap suara samar-samar dari luar. Angin malam membawa sedikit percakapan itu masuk melalui celah pintu balkon yang tidak tertutup sempurna. Di luar sana, Barra mengangkat panggilan itu. “Ya, Al… Ada apa telepon malam-malam begini?” bisiknya pelan. Kirana membeku. “Al? Nama itu terdengar… Akrab,” pikirnya. Suara wanita terdengar jelas. Nada cemburu dan menuntut. “Mas, aku cuma mau memastikan satu hal. Kamu nggak akan macam-macam sama istrimu itu, kan?” Kirana menegakkan tubuh. Jantungnya berdebar keras. “Istrimu itu…?” “Al, kita sudah bahas ini,” jawab Barra lirih, berusaha menenangkan. “Aku menikah karena terpaksa, kamu tahu itu.” Kirana menutup mulutnya dengan tangannya. Menahan napas. Ada rasa sakit yang tidak bisa ia jelaskan. Alya di seberang telepon terdengar semakin menekan. “Aku nggak mau kamu mulai luluh sama dia. Apalagi melakukan hubungan suami istri. Mas, kamu janji, kan? Kamu cuma cinta sama aku.” Kirana menunduk dalam-dalam. Dadanya seperti diremas. Sementara itu, Barra mengusap keningnya, frustasi. “Aku nggak akan melakukan apa pun sama Kirana. Dia aman. Aku nggak punya perasaan apa pun.” Kirana menggigit bibirnya keras. Kata-kata itu seperti pisau. Alya terus berbicara dengan nada penuh kepemilikan. “Bagus. Aku cuma takut kamu berubah karena tinggal serumah sama dia. Jangan sampai dia mengharapkan apa pun dari kamu.” Barra menarik napas panjang. “Alya… Aku cuma cinta sama kamu. Bukan dia.” Kalimat itu jatuh tepat di telinga Kirana. Tubuh Kirana terasa lemas. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah. Air mata mengalir begitu saja tanpa bisa ia cegah. Barra masih di balkon. Tak menyadari bahwa setiap kata yang dia ucapkan menancap dalam di hati wanita yang baru saja resmi menjadi istrinya. Kirana berdiri perlahan. Menatap pintu balkon dengan mata berkaca-kaca. Begitu jelas sekarang. Hatinya memang tidak diinginkan. Kehadirannya dianggap beban. Dan suaminya mencintai wanita lain. Wanita yang bahkan berani mengatur batasan dalam rumah tangga mereka. Saat Barra menutup telepon dan hendak kembali masuk, Kirana buru-buru menghapus air matanya. Ia kembali duduk. Berusaha terlihat normal. Meskipun dadanya masih bergetar. Pintu balkon terbuka. Barra melangkah masuk. Wajahnya terlihat sedikit lelah namun datar. “Kirana… Kamu sudah siap tidur?” tanyanya, mencoba bersikap biasa. Kirana mengangguk tanpa menoleh. “Ya… Aku siap.” Suara itu lirih. Retak. Namun Barra tidak sadar. Ia tidak tahu bahwa malam itu, tanpa pernah ia niatkan, ia telah mematahkan hati seseorang yang bahkan belum pernah berusaha menyakitinya. Dan itulah awal dari jarak yang semakin menganga di antara mereka. “Baiklah. Sekarang kamu tidur. Aku juga akan tidur di sofa ini. Karena aku tidak akan menyentuh kamu malam ini atau malam malam yang lainnya.” “Iya. Aku juga tidak akan menganggu kamu sama sekali. Aku tahu jika kamu menikahi aku karena terpaksa.” “Baguslah kalau kamu tahu.” Barra menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia tertidur sedikit membungkuk. Karena Barra harus tidur di atas sofa yang tidak terlalu panjang dibandingkan dengan tubuhnya. Namun Barra lebih memilih seperti itu daripada harus satu ranjang dengan Kirana. Seorang wanita yang ia nikahi dengan terpaksa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD