Malam semakin larut, namun suasana kamar masih dipenuhi ketegangan halus. Barra berdiri gelisah di dekat sofa. Sementara Kirana duduk manis di tepi ranjang. Menatapnya dengan bingung. “Saya nggak mau tidur di sofa,” keluh Barra akhirnya. Mengusap tengkuknya yang kaku. “Badan saya udah sakit dari kemarin.” Kirana mengangguk pelan. “Ya sudah… Kita tukaran saja. Kamu di kasur, aku di sofa.” Barra langsung menggeleng cepat. “Enggak. Kamu nggak boleh tidur di sofa. Nanti kalau kamu yang sakit, Nenek bisa marah sama saya.” Kirana terdiam. “Terus, maunya bagaimana?” tanya Kirana lelah. Barra mengembuskan napas panjang, lalu memandang kasur, lalu Kirana, lalu kasur lagi. Jelas ia sedang beradu dengan egonya sendiri, juga dengan rasa tidak nyaman yang entah datang dari mana. Akhirnya d

