Barra berlari kecil menuju ruang meeting yang pintunya sudah terbuka. Para peserta sudah bubar. Hanya tersisa papan presentasi yang masih menyala, dan secangkir kopi dingin milik Ibunya yang tak tersentuh. Begitu ia masuk, Ibunya, Bu Merry langsung berdiri dengan wajah muram. “Kamu akhirnya muncul juga, Barra.” Barra menelan ludah, napasnya belum stabil. “Maaf, Mah. Aku—” “Meeting selesai tanpa kamu. Client menunggu. Kamu pikir mereka akan selalu maklum?” Barra hanya bisa menunduk. Ia tahu ini kesalahannya. Tiba-tiba pintu ruang meeting terbuka lagi. Alya masuk sambil menahan napas. Sepertinya juga terburu-buru. “Bu Merry, jangan terlalu keras ke Pak Barra. Dia… Dia punya alasan.” Barra langsung memejamkan mata. Bu Merry menoleh cepat, matanya menyipit tajam. “Dan kamu, Alya. A

