Bab 15. Bukan bercinta

1174 Words
Gadis remaja usia belasan tahun datang menyapa, membawa nampan berisi minuman hangat untuk Erlangga. Sita namanya. “Untuk Kak Kiran dan Kak,,” gadis itu menatap ke arah Erlangga, tidak mengenalinya. “Erlangga.” Balas Kirana. “Iya,, untuk Kak Erlangga juga.” Ia menaruh dua gelas teh hangat di meja, lengkap dengan biskuit kering yang katanya buatan Sita tadi siang. “Kak Erlangga ini siapa? Teman kak Kirana juga, seperti Kak Adrian?” Ia terlihat penasaran, mungkin karena hari ini panti kedatangan dua lelaki dewasa sekaligus. “Aku suaminya.” Jawab Erlangga dengan tegas, membuat Sita terlihat menyesal karena pertanyaannya tadi. “Oh, suami. Maaf, nggak tahu.” “Nggak apa-apa,” Kirana menenangkan. “Kak Erlangga, maaf. Sita nggak tahu, soalnya selama ini Kak Kirana sering berkunjung bareng Kak Adrian, temannya. Sita kira, Kak Erlangga pun temannya. Jangan marah, ya?” Sita tersenyum. “Ini kue buatan Sita dan adik-adik, rencananya mau di jual, nitip mbok pasar.” Sita tersipu. “Oya, kapan-kapan Kak Kiran bantu buatkan atau kak Kirana mau jual juga di butik, boleh?” Tanya Kirana. Raut wajah Sita berubah antusias. “Beneran, kak?” Kirana menganggukkan kepalanya, “Kak Erlangga juga bisa bantu, misalnya jual di kantin kantor, atau dijual ke karyawannya, kan banyak tuh.” Kirana menoleh jahil, sementara Erlangga terlihat tidak senang dengan saran Kirana. “Iya, Kak?! Wah,, makasih banget!” Padahal Erlangga belum mengiyakan, tapi sepertinya Sita sudah terlanjur senang. “Terimakasih untuk kalian berdua, sudah mau membantu kami.” “Kami senang bantu kalian, semoga laris manis ya? Kuenya enak loh.” Kirana sudah mencobanya tadi, dan rasanya memang enak. Sita pandai membuatnya. “Kak Erlangga belum coba sepertinya, cobain dong. Biar tahu kualitas dari produk yang mau dijual.” Senyum jahil kian mengembang sempurna di wajahnya. “Ayo Kak, coba!” Sita pun memaksa. Erlangga merasa Kirana telah berhasil mengerjainya, membuatnya mengiyakan dan mau membantu Sita dalam menjual kue buatannya, padahal Erlangga tidak berniat sedikitpun membantu. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, situasi panti perlahan mulai sepi. Anak-anak sudah menempati kamarnya masing-masing, hanya tinggal beberapa orang dewasa saja yang masih terlihat berlalu-lalang merapikan mainan dan ruangan yang masih terlihat berantakan. Begitu juga yang dilakukan Kirana, ia turut serta membantu relawan lainnya, meninggalkan Erlangga yang sudah terlebih dulu masuk ke kamar. “Mbak, nggak usah bantu lagi, temenin suaminya gih.” Ucap Mbak Ina, salah satu relawan panti. “Kasihan suaminya sendirian di kamar.” Wanita yang sudah memiliki dua anak itu tersenyum penuh arti, “Pekerjaannya sudah selesai juga.” “Mbak Ina ngusir saya?” Kirana berpura-pura marah “Wah,, saya tersinggung nih.” Mbak Ina terkekeh. “Nggak ngusir, cuman mengingatkan ada suaminya di kamar.” “Biarin aja. Bosen ketemu dia setiap hari.” canda Kirana. “Usia pernikahan satu tahun itu belum memasuki fase bosan. Masih anget-angetnya, lagi cinta-cintaannya.” Mbak Ina tersenyum. “Emang iya, Mbak?” “Iya. Mbak Kirana nggak ngerasa emang?” Kirana menghela lemah. “Ngerasa dong, tapi kan ini di panti, nggak boleh sayang-sayangan. Malu sama anak-anak.” Ina dan Kirana tertawa bersama, walau sebenarnya Kirana tidak pernah merasakan apa itu namanya sayang-sayangan. Selama satu tahun pernikahan pun ia tidak merasakan manisnya rumah tangga, yang terjadi justru seperti sebuah siksaan batin yang tidak ada habisnya. Kirana mengisi botol minum yang rencananya akan dibawa ke kamar. “Nggak mau tidur?” Tiba-tiba ia mendengar suara Erlangga tidak jauh dari tempatnya berada. Saat menoleh, lelaki itu tengah berdiri di belakangnya. “Atau, sengaja menghindar?” Erlangga menaikan satu alisnya, menatap penuh selidik ke arah Kirana. “Nggak. Ini mau ke kamar. Kamu butuh apa?” Tanya Kirana. “Mau minum juga?” “Nggak.” Erlangga menggelengkan kepalanya. “Aku butuh kamu,” jawabnya dengan senyum penuh arti, yang membuat alarm dalam pikiran Kirana berdering nyaring. “Nggak mungkin kan, kita.” “Aku ingin kamu, sekarang.” Erlangga menarik tangan Kirana, tapi ia berusaha menahannya. “Nggak disini, kita bisa melakukannya di rumah. Jangan disini,” tolak Kirana, berharap lelaki itu memberinya kelonggaran. “Sayang sekali, aku maunya sekarang dan disini.” “Tapi,” Erlangga tidak memberinya Kirana kesempatan untuk menolak apalagi melarikan diri. Ia menyeret wanita itu ke dalam kamar yang bersebelahan dengan kamar lainnya. “Nggak akan sesakit kemarin, percaya sama aku. Tapi, aku nggak jamin kamu bakal tetap diam dan tenang seperti biasanya. Kalau kamu nggak mau ketemu anak-anak besok, jangan berisik.” Bisik Erlangga, saat ia akan memulai menyatukan diri. Kirana berusaha menahan lenguh dan rintih nikmat yang nyaris tidak tertahan dari bibirnya. Bersenggama dengan situasi seperti ini membuatnya harus lebih hati-hati, jika tidak suara itu akan terdengar anak-anak yang menempati kamar sebelah. Dinding pembatas yang tidak kedap suara, bisa saja membuat anak kecil itu bertanya dengan suara-suara menjijikkan yang lolos dari bibirnya. “Er,” panggilnya, saat hentakan itu semakin kuat di bawah sana. Ia memegang kedua bahu Erlangga dengan kuat, serta menutup erat bibirnya rapat-rapat. Sementara itu Erlangga benar-benar dibuat gila. Kedua kalinya mereka berhubungan tidak mengurangi kenikmatan yang tidak pernah dirasakannya selama ini. Kirana memang tidak selihai wanita di luar sana. Tidak agresif dan tidak punya inisiatif untuk melakukan apapun, selain menerima setiap serangan darinya. Tapi bibir, lembutnya kulit Kirana, dan semua yang ada dalam dirinya begitu membuat Erlangga mabuk kepayang. “Kirana!” Erlangga menggeram, memanggil nama Kirana saat dorongan hasrat itu hampir mencapai puncak. “Kirana!” Panggilnya saat satu dorongan kuat, melepaskan cairan hangat yang memenuhi tubuh Kirana di dalam sana. . Erlangga roboh, tubuh besarnya menindih tubuh Kirana yang kecil. Keringat membasahi keduanya dengan deru nafas memburu. Kirana membiarkan lelaki itu tetap berada dalam posisinya, ia pun mengangkat kedua tangannya memeluk tubuh lelaki itu dan mengusapnya secara perlahan. Usapan lembut dan halus itu terasa sampai ke hati Erlangga, hingga secara perlahan ia menjauhkan wajahnya menatap Kirana dari jarak yang sangat dekat. Hanya beberapa senti saja. Ia bisa melihat mata, hidung, bibir wanita itu dari jarak yang sangat dekat. Hembusan nafas keduanya pun saling sahut satu sama lain. Dari jarak yang sangat dekat, Erlangga menyadari bahwa wanita itu sangat cantik. Siluet wajahnya terlihat bercahaya di bawah sinar lampu remang-remang. Tidak ada yang bicara, keduanya sibuk dengan isi kepala masing-masing, sampai akhirnya Erlangga melihat air mata jatuh dari pelupuk mata Kirana. “Aku menyakitimu?” Tanyanya, terkejut. Kirana menggelengkan kepalanya. “Kenapa kamu menangis?” Tanya Erlangga lagi. Alih-alih menjawab wanita itu justru semakin menangis, hingga membuat Erlangga memeluknya dan berusaha menenangkannya “Maaf, kalau aku sudah membuatmu sakit.” Bukan sakit karena bercinta. Sungguh. Erlangga justru memberikan sesuatu yang tidak pernah Kirana bayangkan sebelumnya. Apa yang mereka lakukan mungkin tidak bisa disebut sebagai percintaan, Erlangga tidak mungkin melakukannya karena cinta. Survei membuktikan banyak lelaki yang bisa melakukan hubungan badan dengan lawan jenis tanpa adanya cinta. Tapi tidak dengan wanita, salah satunya Kirana. Ia melakukannya bukan hanya karena tuntutan kewajiban, tapi ada hati yang selalu dijaga untuk suaminya. Kirana merasa sakit, sesaat setelah percintaan itu berakhir. Membayangkan bagaimana suaminya bercinta dengan wanita lain, dengan cara serupa Hatinya seperti diremass kuat, nyeri dan sesak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD